Hadiah Al-Quran untuk si Mati

Pertanyaan:

Bagaimaan pandangan Anda tentang membacakan al-Quran untuk orang yang meninggal?

Jawaban:

Membacakan Al-Quran pada orang yang meninggal tidak mempunyai dasar yang tepat dan tidak diatur syariat. Yang disyariatkan adalah membaca al-Quran di antara sesama yang masih hidup, agar bisa saling mengambil faidah dan menghayati Kitabullah serta merenungkannya. Sedangkan membaca al-Quran bagi si mayit di kuburannya atau setelah kematiannya sebelum dikuburkan, atau membacakan untuknya di mana saja untuk menghadiahkan pahalanya, maka hal ini tidak ada dasarnya.

Para ulama telah menulis banyak catatan mengenai hal ini, di antara mereka ada yang membolehkan membacakan al-Quran dan menganjurkan membacakan doa penutup untuk si mayit. Menurut mereka hal ini dianggap sebagai sedekah dengan harta.

Tetapi ulama lain mengatakan bahwa perkara ini adalah tauqifiyah (harus ada dalilnya), karena termasuk ibadah, sehingga tidak boleh dilakukan kecuali dengan dasar syariat.

Nabi telah bersabda,

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka hal itu tertolak” (Muslim 1718/18).

Sejauh yang kami bisa ketahui, tidak ada dalil yang menunjukkan disyariatkannya membacakan al-Quran untuk orang yang meninggal. Dengan begitu kita harus tetap berpedoman pada hukum asalnya, bahwa hal ini termasuk ibadah yang tauqifiyah. Jadi, tidak ada bacaan al-Quran untuk si mayit.

Berbeda halnya dengan sedekah atas nama orang yang meninggal, mendoakannya, melaksanakan umrah atas nama mayit, dan membayarkan utang si mayit. Hal-hal tersebut terakhir memang bermanfaat bagi orang yang meninggal, berdasarkan nash/dalil yang ada. Nabi pernah bersabda,

Jika seorang anak manusia meninggal, maka terputuslah semua amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (Muslim (1631))

Allah berfirman,

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi.” (Al-Hasyr:10)

Allah memuji ‘orang-orang yang datang kemudian’ tersebut karena doa mereka untuk orang-orang yang lebih dahulu dari mereka. Hal ini menunjukkan disyariatkannya doa untuk orang-orang yang telah meninggal dari kalangan kaum Muslimin dan doa itu bermanfaat bagi mereka. Begitu pula sedekah akan bermanfaat bagi merkea berdasarkan hadits di muka tadi.

Daripada mengupah orang untuk membacakan al-Quran bagi orang yang telah meninggal, lebih baik menyedekahkan kepada orang-orang fakir dan yakng membutuhkan dengan niat pahalanya untuk mayit tersebut, sehingga akan bermanfaat bagi si mayit dan orang yang melakukannya selamat dari bid’ah.

Disebutkan dalam kitab Ash-Shahih bahwa ada seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku telah meninggal dan tidak (sempat) berwasiat. Saya kira, seandainya ia sempat tentu akan berpesan untuk bersedekah. Apakah ia akan mendapat pahala bila saya bersedekah atas namanya? Nabi menjawab, ‘Ya’!’

Rasulullah menjelaskan bahwa sedekah atas nama orang yang telah meninggal akan bermanfaat baginya. Demikian juga ibadah haji dan umrah berdasarkan sejumlah hadtis yang menyebutkan hal itu. Pelunasan utang si mayit juga akan bermanfaat.

Sekali lagi, membacakan al-Quran dan menghadiahkan pahala bagi si mayit -termasuk shalat atau puasa sunat atas namanya – tidak ada dasarnya dalam syariat Islam.

Tulisan ini disalin dari artikel dari Majalah Ad-Dakwah. No 1508 hal 28 yang dimuat dalam Majalah Fatawa Vol. VI/ No. 07-08 Ramadhan-Syawal 1431 H

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Selasa,12 November 2013/8 Muharram 1435H

Print Friendly