Memenuhi Hak Sesama Muslim

Seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saudara, persaudaraan yang dipersatukan oleh ikatan akidah. Kehidupan para sahabat telah menunjukkan betapa kuat ikatan ini, kehidupan yang penuh dengan cerita indah tentang keikhlasan dalam berbagi dan saling mencintai. Betapa jauh dengan realitas kita saat ini yang lebih banyak dipenuhi oleh aroma individu dan jauh dari nilai-nilai ukhuwah. Padahal, sesama muslim memiliki hak yang harus kita penuhi dan kita tunaiakan.

Berikut hak-hak sesama muslim sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin:
1. Engkau mengucapkan salam kepadanya saat bertemu,memenuhi undangannya, menjawab bersinnya, menjenguknya jika sakit, menghadiri jenazahnya saat meninggal dunia, memberikan bagiannya, memberinya nasihat jika dia meminta nasihat, menjaga dirinya saat dia berjauhan, mencintai bagi dirinya apa yang engkau cintai bagi dirimu, membenci bagi dirinya apa yang engkau benci bagi dirimu. Semua perkara ini banyak disebutkan dalam atsar.

2. Engkau tidak boleh menyakiti seorang muslim, dengan perkataan atau perbuatan, bertawadhu’ kepada sesama muslim, tidak menyombongkan diri di hadapannya, tidak menggunjing orang lain di hadapannya dan tidak mendengarkan gunjingannya.

3. Jangan menghindarinya lebih dari tiga hari, yang didasarkan kepada hadits yang cukup masyhur. Dalam hadits lain disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda,

“Tidak diperbolehkan bagi orang Mukmin untuk menghindari orang Mukmin lainnya lebih dari tiga hari. Jika sudah lebih dari tiga hari lalu dia bertemu dengannya, maka hendaklah dia mengucapkan salam kepadanya. Jika dia menjawab salamnya, maka keduanya bersekutu dalam pahala. Jika dia tidak menjawab salamnya, maka yang mengucapkan salam terbebas dari dosa menghindarinya.” (riwayat Al-Bukhary dan Abu Daud)

4. Berbuat baik kepada siapa pun orang muslim menurut kesanggupannya, tidak memasuki tempat tinggalnya kecuali setelah perkenannya dan meminta izin tiga kali sebelum masuk. Jika tidak ada jawaban, maka dia harus kembali.

5. Memperlakukan orang lain dengan akhlak yang baik dengan cara-cara tersendiri. Jika bertemu orang bodoh, maka dia perlu diberi ilmu. Jika bertemu orang yang suka bercanda, dia harus diberi pengertian. Jika bertemu orang yang lamban daya pikirnya, maka dia diberi penjelasan.

6. Menghormati orang tua, menyayangi anak kecil, menghadapi siapa pun dengan wajah berseri, memenuhi janji, tidak mendatangkan kepadanya kecuali apa yang seperti dia sukai.

Al-Hasan berkata, “Allah mewahyukan empat kalimat kepada Adam seraya berfirman, ‘Di dalam empat kalimat itu terdapat keterpaduan urusan bagi-Ku dan bagi anakmu; satu bagi-Ku dan satu lagi bagimu, satu antara Aku dan antara dirimu, dan satu lagi antara dirimu dan makhluk. Ynag menjadi milik-Ku: Hendaklah kamu menyembah-Ku dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Ku. Yang menjadi milikmu: Amalmu akan kuberi balasan lebih banyak dari apa yang kamu butuhkan. Yang antara Aku dan kamu: Hendaklah kamu berdoa dan Aku pasti mengabulkannya. Yang antara dirimu dan makhluk: Hendaklah kamu memperlakukan mereka dengan sesuatu yang kamu sukai, seperti yang mereka sukai terhadap dirimu’.”

7. Lebih menghormati orang yang lebih terpandang.

8. Menciptakan perdamaian di antara manusia dan menutupi aib sesama muslim. Ketahuilah bahwa siapa yang memperhatikan tutupan Allah terhadap orang-orang yang durhaka, tentu bisa meraba seberapa jauh kelembutan Allah dalam masalah ini. Sebab Allah menetapkan empat saksi yang dapat dipercaya dalam perbuatan zina, dan mereka benar-benar harus menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Tentu saja ini bukan perkara yang gampang. Maka kehormatan yang dijaga di dunia ini juga harus dipertimbangkan untuk akhirat.

9. Menghindari tempat-tempat yang bisa menimbulkan tuduhan yang tidak-tidak, untuk menjaga hati manusia agar mereka tidak berburuk sangka dan agar mereka tidak menggunjingnya.

10. Memintakan bantuan untuk orang muslim yang memerlukan bantuan kepada orang yang berkedudukan, hingga kebutuhannya bisa terpenuhi.

11. Mengucapkan salam terlebih dahulu di hadapan orang lain sebelum membicarakan urusan apa pun sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam, beliau bersabda,

“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu lalu salah seorang di antara keduanya menjabat tangan temannya, melainkan ada hak atas Allah Azza wa Jalla untuk mengabulkan doa mereka berdua dan tangan mereka berdua tidak terlepas hingga Dia mengampuni mengampuni dosa mereka.” (HR Ahmad dan Al-Bazzar)

Tidak ada salahnya mencium tangan orang yang lebih terpandang dalam agamanya atau saling berpelukan. Sedangkan memegang tali kekang hewan yang ditumpangi ulama karena hendak menghormatinya, juga pernah dilakukan Ibnu Abbas terhadap Zaid bin Tsabit. Berdiri untuk menyambut orang yang layak dihormati juga biak. Tapi membungkukkan badan termasuk perbuatan yang dilarang.

12. Menjaga kehormatan saudaranya sesama muslim, diri dan hartanya agar tidak dizhalimi orang lain, serta membelanya.

13. Jika saudaranya mendapat gangguan dari orang jahat, maka dia harus membantu dan membelanya. Muhammad bin Al-Hanafiyah berkata, “Tidak layak disebut orang bijaksana jika dia tidak berusaha membela orang yang diperlakukan dengan cara tidak baik, hingga Allah memberinya jalan keluar.”

14. Tidak banyak bergaul dengan orang-orang yang kaya dan hendaknya lebih banyak berbagul dengan orang-orang miskin serta berbuat baik kepada anak-anak yatim.

15. Menjenguk orang muslim yang sakit, dengan memperhatikan adab-adabnya, seperti meletakkan tangan di tempat yang sakit, menanyakan keadaannya, menunjukkan rasa belas kasihan, mendoakan kesembuhannya dan tidak memandang bagian-bagian yang tidak boleh dipandang.

Orang yang sakit sendiri dianjurkan untuk bertindak seperti riwayat Muslim dari Utsman bin Abul-Ash Radhiyallahu Anhu, bahwa dia mengadu kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam rasa sakit yang dideritanya semenjak dia masuk Islam. Maka beliau bersabda kepadanya,

“Letakkanlah tanganmu pada bagian yang sakit dari tubuhmu, lalu ucapkanlah, ‘Bismillah’, tiga kali, dan ucapkan tujuh kali, ‘Aku berlindung dengan keperkasaan dan kekuasaan Allah dari kejahatan yang kudapatkan dan yang kuwaspadai.” (HR Muslim)

Adab lain yang harus diperhatikan orang yang sakit ialah sabar, tidak banyak mengaduh dan mengeluh, banyak berdoa dan tawakal kepada Allah.

16. Menghadiri jenazah orang muslim yang meninggal dunia dan mengikutinya hingga ke kuburan. Maksud menghadiri jenazah ini ialah memenuhi hak orang-orang muslim dan sebagai pelajaran bagi mereka. Al-A’masy berkata, “Kami menghadiri jenazah, sementara kami tidak tahu kepada siapa kami harus mengucapkan bela sungkawa. Hal ini kami lakukan kaena duka semua orang atas kematiannya.”

Sedangkan maksud ziarah kubur ialah berdoa bagi mereka yang sudah meninggal, mengambil i’tibar dan mendidik hati.

Adapun adab mengiring jenazah ialah berjalan dengan hati yang khusyu’, tidak berbicara, memperhatikan mayit, memikirkan tentang kematian dan bersiap-siap untuk menghadapinya.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Kamis,18 Januari 2007/28 Dzulhijjah 1427H

Print Friendly