Dasar Aqidah Kudu Benar

Sekarang ini, umat Islam sangat beragam. Persoalan yang mereka hadapi, juga sangat bercorakragam. Sudut pandang kaum non muslim terhadap kaum muslimin juga tidak kurang keragamannya.

Banyak orang memandang segala persoalan, lalu menyimpulkan dalam kata-kata singkat, hanya dengan melihat apa yang mereka lakukan. Untuk memandang dan menyimpulkannya, mereka menggunakan pengalaman pribad, petuah-petuah orang tua, sedikit ilmu, dan setumpuk emosi. Sehingga muncullah sebuah kesimpulan radikal: umat Islam sedang kacau balau!

Kenapa itu bisa terjadi? Karena banyak umat Islam tak membangun sikap hati, sikap lahirian, tingkah laku dan sepak terjang mereka dengan dasar bangunan AQIDAH YANG BENAR.
Sehingga karenanya, kita sering kesulitan memahami kebenaran, dan bahkan untuk sekedar mengetahui, mana orang yang berada di jalur kebenaran, dan mana yang tidak.

Satu Kaidah Beragam Makna

Kita telah mengenal sebuah kaidah berdasarkan ucapan Ibnu Mas’ud yang terkenal, “Banyak orang yang menginginkan kebenaran, tapi tidak sampai kepadanya.” Jadi bunyi kaidah itu: niat baik, belum tentu menyelamatkan seseorang!

Kaidah itu sering diungkapkan sebagian kelompok kaum muslimin, untuk mendiskreditkan yang lain. tapi sering lupa dijadikan kaidah untuk bercermin diri.

“Mereka telah melakukan kebid’ahan. Karena cara ibadah seperti itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Meskipun mereka berniat tulus sekalipun, ibadah itu tidak akan diterima.” Ungkapan yang betul. Ketika orang menukas, “Lho, bukannya itu baik?”

Akan dijawab, “Baik menurut kalian, belum tentu baik menurut Allah.”

Tapi di saat yang sama, orang itu mungkin berdakwah, berjihad, berceramah, melakukan aktivitas, dan berbagai hal lainnya, yang ternayata juga tidak pernah diajakrkan oleh Nabi, dalam arti, tidak mengikuti aturan nabi, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabat, tidak juga oleh para ulama As-Salaf, generasi terbaik umat ini. Meski berbeda sisi – karena ibadah yang dilakukan sebagian orang yang mereka anggap keliru itu ibadah khusus, sementara yang merak lakukan adalah ibadah umum berwujud mua’malah –, namun mereka tetap saja melakukan kekeliruan. Saat keliru, mereka berhujjah sama dengan para pelaku bid’ah tadi, “Tapi niat kami tulus, karena Allah semata. Meski cara yang kami tempuh mungkin salah, atau sudah jelas-jelas keliru dalam Islam!!!”

Kaidah di atas adalah kaidah yang benar. Tidak setiap niat yang baik, akan mewujudkan kebaikan. Karena bila hanya dengan niat segala sesuatu menjadi baik, tak ada gunanya diutus para rasul. Cukup dengan niat baiknya beribadah kepada Allah, setiap orang bisa masuk Surga. Soal cara, pilih sendiri-sendiri aja, mana yang paling mudah, paling nyaman atau paling mantap. Atau, yang dianggap paling berkelas, karena dipandang paling beresiko.

Kaidah itu benar. Dan akan menjadi tepat guna, kalau kita menggunakan kaidah itu bukan hanya untuk menilai orang lain, tapi juga menilai diri kita sendiri.

Wajib dengan Aqidah yang Benar

Aqidah berasal dari kata ‘aqd, yang artinya buhulan atau ikatan. Aqidah artinya keyakinan yang terikat, terbuhun dalam hati, sehingga tak mudah goyang oleh berbagai desakan keyakinan lain.

Namun, tidak setiap keyakinan itu benar. Seorang muslim harus memiliki aqidah yang teguh, tapi juga benar. Sehingga keyakinannya tak mudah goyang akibat terpaan keyakinan-keyakinan sesat, menyimpan, atau penuh dengan kerancuan.

Begitu pentingnya soal aqidah ini, sehingga semenjak dahulu para ulama menulis soal aqidah. Contohnya: Kitabus Sunnah karya Imam al-Muzani as-Syafi’i, Kitabus Sunnah karya Imam al-Khallal, kitab Maqalaatul Islamiyyin karya Abul Hasan al-Asy-ari, kitab al-I’tiqaq Wal Hidayah karya Imam al-Baihaqi as-Syafi’i dan lain-lain.

Aqidah yang benar terkait dengan segala keyakinan terhadap rukun iman yang enam, berikut cabang-cabangnya. Maka, selain harus memiliki keyakinan yang benar terhadap Allah, seorang muslim juga harus punya keyakinan yang benar terhadap para malaikat Allah, para rasul, kitab-kitab Allah, Hari Kiamat dan takdir: baik ataupun buruk.

Untuk dapat memiliki keyakinan yang benar terhadap seluruh hal tersebut, seorang muslim harus berusaha menanamkan keyakinan dalam dirinya, terhadap seluruh hal tersebut, dan para Sahabat beliau. Karena Islam adalah Islam yang diajarkan oleh Rasulullah dan beliau terapkan bersama para Sahabat beliau. Termasuk -yang terpenting– dalam soal aqidah dan keyakinan.

Salah satu dari keyakinan terpenting dalam aqidah adalah keyakinan bahwa Rasulullah adalah rujukan utama, dalam melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah. Ibadah kepada Allah, harus dengan petunjuk dari beliau.

Maka jika mereka beriman sebagaimana kamu beriman, sungguh mereka telah mendapat petunjuk” (QS. Al-Bawarah:137)

Kalau orang mau shalat, ia harus shalat sebagaimana Rasulullah shalat.

Kalau ia mau melakukan haji, ia harus berhaji sebagaimana Rasulullah melaksanakan manasik hajinya.

Kalau seseorang berdakwah, ia harus berdakwah sebagaimana Nabi berdakwah.

Kalau seseorang mau berjihad, ia harus berjihad sebagaimana Nabi berjihad. Dengan cara, aturan dan penempatan waktu sebagaimana yang beliau lakukan.

‘Semata-mata nilai tulus’, tak akan menyelamatkan seseorang.

Segala yang diajarkan Rasulullah tentang Islam dan segala ajarannya yang kompleks, telah sempurna. Kita tak perlu menciptakan cara-cara dan trobosan baru dalam soal ibadah.

Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

Rasulullah juga bersabda,
Ketahuilah sesungguhnya aku telah diberikan al-Qur’an dan yang semisal dengannya (as-Sunnah).”[1]

Bila seseorang rajin beribadah, dan ia senantiasa mengikuti petunjuk Nabi, terkadang setan berkata dalam hatinya, “Kok, ibadahmy hanya segitu saja? Bukannya engkau bisa beribadah lebih itu?”

Karena bisikan itu, ia terjebak dalam kekeliruan, dan melakukan ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi.

Begitu juga ketika orang berdakwah atau berjihad, setan juga berbisik “Kok hanya begitu-begitu saja? Buat dong yang lebih sensasional.” Akhirnya, banyak orang tergiur melakukan dakwah dan jihad karena dorongan pikiran dan emosinya saja.

Terkadang, ajaran as-Sunnah dianggap kurang poll, oleh orang yang terkena bujukan setan.

Imam Ibnu ‘Abdil ‘Izz al-Hanafi dalam Syarah Al-Aqidah Ath-Thahaawiyyah pernah mengatakan, “Syariat tidak datang membawa sesuatu yang dianggap mustahil oleh akal, tetapi ia kadang membawa sesuatu yang membingungkan akal.”

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya….” (Al-Hujurat: 1)

Maka prioritas utama yang perlu ditanamkan dalam diri kita adalah mempelakari aqidah Rasulullah dan para Sahabat.

Kita harus mendalami bagaimana aqidah beliau dan para Sahabat, yang biasanya disingkat oleh para ulama menjadi aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Pelajarilah aqidah yang lurus itu, lalu pelajari juga aqidah-aqidah yang menyimpang seperti dijelaskna oleh para ulama dalam buku-buku mereka.

Sebagaimana penganut aqidah yang lurus selalu ada setiap jaman, maka para penganut aqidah yang rusak juga seolah-olah terus berestafet di setiap jaman. Bila kita memahami persolan dasar-dasar aqidah itu secara baik, maka kita akan mudah memandang persoalan Islam dan kaum muslimin, di mapaun dan di jaman apapun kita hidup.

Akan selalu ada komunitas yang mengecam sebagian Sahabat Nabi, seperti dilakukan kaum Syi’ah.

Akan ada kelompok yang meremehkan dosa-dosa dan maksiat, seperti kaum Murji’ah.

Akan selalu ada kelompok yang mendewakan akal, sehingga melecehkan banyak ajaran syariat, seperti kaum Al-Mu’tazilah.

Akan ada kelompok dan komunitas yang bersikap berlebihan dalam kebenaran, sehingga mudah memvonis kafir sesama muslim, seperti yang pernah dimiliki oleh kelompok Al-Khawarij.

Namun akan tetap ada segolongan di antara kaum muslimin yang selalu berusaha untuk memiliki keyakinan, beribadah, berdakwah dan memperjuangkan Islam, dengan metoda dan tata cara serta petunjuk Rasulullah. Apakah kita termasuk di antaranya? Berdoa, dan teruslah berusaha. Namun jangan mudah berbangga hati, menganggap diri paling benar. Carilah dan pegang teguhlah kebenaran, tapi jangan mau menang sendiri………

Catatan:

[1] Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, Hakim dan dinyatakan shahih oleh beliau. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih sebagaimana yang dijelaskna oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Hadits Hujjatun Binafsihi

Tulisan ini disalin dari artikel yang dimuat dalam Majalah Elfata edisi 12 Vol.08, 2010.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Selasa,28 Mei 2013/18 Rajab 1434H

Print Friendly