Manfaat Doa dan Dzikir (Mengingat Allah) – Bag.7

Manfaat do’a dan dzikir banyak sekali, bisa mencapai seratus lebih. Kami sebutkan sebagian di antaranya:

1. Dzikir yang intinya tauhid merupakan sebatang pohon yang membuahkan pengetahuan dan keadaan yang dapat dilalui oleh orang-orang yang menuju kepada Allah. Tidak ada cara untuk mendapatkan buahnya kecuali dari pohon dzikir. Jika pohon itu semakin besar dan akarnya kokoh, maka ia akan banyak menghasilkan buah.

2. Orang yang berdzikir (mengingat Allah) senantiasa merasa dekat dengan-Nya dan Allah bersamanya. Kebersamaan ini bersifat khusus, bukan kebersamaan karena bersanding, tetapi kebersamaan karena kedekatan, cinta, pertolongan dan taufiq.1

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa…”(QS. An-Nahl: 128)

“…Dan Allah serta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)

“…Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-‘Ankabuut: 69)

“Janganlah engkau bersedih hati, karena sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Karena kebersamaan ini, orang yang melakukan dzikir mendapatkan bagian yang melimpah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsi: “Aku bersama hamba-Ku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku.”2

3. Sesungguhnya di dalam hati itu ada kekerasan yang tidak bias dicarikan kecuali dengan berdzikir kepada Allah. Maka, kekerasan hati seseorang hamba harus diobati dengan berdzikir kepada-Nya.

4. Dzikir merupakan penyembuh dan obat penyakit hati. Hati yang sakit hanya bisa disembuhkan dengan berdzikir kepada Allah. Imam Mak-hul berkata: “Mengingat Allah itu merupakan kesembuhan, dan mengingat manusia itu merupakan penyakit”.

Wallaahu a’lam.

Disadur dari buku “Dzikir Pagi Petang dan Sesudah Shalat Fardhu Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih” oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Catatan Kaki:
1. Ma’iyyah (kebersamaan) adalah satu sifat dari sifat-sifat Allah, dan ma’iyaah ini ada dua:

a. Ma’iyyah khusus, yaitu kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya yang kita tidak tahu tentang kaifiyat (bagaimana)nya, kecuali Allah, seperti sifat-sifatNya. Dan ma’iyyah ini mengandung makna bahwa Allah meliputi hamba-Nya yang dicintai, menolongnya, memberikan taufiq, menjaganya dari kebinasaan dan lainnya.

b. Ma’iyyah umum, yaitu kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, di mana Allah mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Allah tahu semua keadaan mereka, tindak-tanduk mereka yang lahir maupun yang bathin, dan yang seperti ini tidak mesti Allah itu bersatu dengan hamba-Nya, karena Allah tidak bias diqiyaskan dengan makhluk-Nya. Dan tingginya Allah di atas makhluk-Nya tidak menafikkan kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya, berbeda dengan makhluk, karena keberadaan makhluk itu di satu tempat (arah), mesti ia tidak tahu tentang tempat (arah) yang lainnya. Dan Allah tidak sama dengan sesuatu pun karena kesempurnaan ilmu dan kekuasaan-Nya.

(Ta’liq (komentar) atas at-Tanbiihaat al-Lathiifah hal. 45 oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz)

2. HR. Ibnu Majah no. 3792, Ahmad II/540, al-Hakim I/496 dan Ibnu Hibban no. 2316- al-Mawaarid, shahih. Dari Abu Hurairah.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Rabu, 6 November 2013/2 Muharram 1435H

Print Friendly