Akhwat Ngaji VS Wanita Biasa

Ini berdasarkan apa yang saya lihat dan alami sendiri, bila bertentangan dengan apa yang sahabat lihat maka saya berharap sahabat memaklumi saya.

Adalah bibi saya dan pakde saya yang orang biasa petani di Jogja juga buruh sambilan telah berhasil membuat saya berdecak kagum dan salut atas kesabarannya merawat nenek saya yang sudah sepuh.

Bapak saya menceritakan bagaimana nenek saya yang buang air besar sembarangan dan juga terkadang ada ngompol dan muntah. Bibi saya merawat beliau dengan penuh cinta kasih membopong tubuh nenek saya ke kamar mandi memandikannya, mencebokinya dan memakaikan baju untuk beliau.

Hingga nenek saya meninggal, bibi saya tidak pernah mengeluhkan perlakuan nenek saya yang sudah pikun bahkan sangat kehilangan nenek saya ketika nenek saya berpulang ke rafiqil ‘alaa. Beliau sangat kehilangan nenek saya padahal beliau hanyalah seorang menantu!

Bapak saya terharu dan sampai berlinang air mata menyaksikan kebaikan adik iparnya terhadap ibu bapak saya ini.

Bahkan bapak bilang tak ada risih atau jijik dan sangat sabar merawat beliau, padahal demi Allah beliau tidak pernah datang ke majelis ilmu mempelajari ayat atau hadits tentang hal ini. Tapi hati nurani dan tabiatnya sebagai seorang istri yang ingin berbakti dengan baik pada keluarga suaminya.

Akan tetapi bandingkan dengan yang ini…
Adalah seorang akhwat yang menghadiri kajian berbagai asatidz ternama, yang mengaji bukan baru kemarin sore cukup lah kita bilang senior dalam menimba ilmu.

Ketika menikah dengan ikhwan yang tidak mempunyai keluarga selain ibunya beliau tidak mau campur satu rumah dengan ibu mertuanya.

Padahal suaminya ini hanya memiliki ibunya saja diatas muka bumi ini.Ia tidak bisa membantu dan menolong suaminya untuk birru walidain pada ibunya yang sudah tua renta.

Saya tidak bisa melanjutkan lagi selain bertanya lalu untuk apa kita menuntut ilmu?

Bila ilmu itu tidak bisa membimbing kita pada kelembutan hati dan kemuliaan akhlak/budi pekerti?

Tidak bisa menjadi penyejuk dan berkah bagi orang-orang disekeliling kita?

~ Apakah gunanya kita duduk berjam-jam mendengarkan kajian?

~ Apakah kita tidak merasa malu? terlebih takut padaNya jika Allah akan mempertanyakan muamalah ini? Muamalah terhadap keluarga suami yang sering para akhwat meremehkannya?

~ Jarang mengingatkan sang suami untuk berbuat baik pada orang tuanya selagi orangtuanya masih hidup?

~ bahkan ada yang menganggap ibu mertuanya sebagai saingan?

~ Khawatir kehilangan perhatian dan kasih sayang dari suaminya?

Musibah diatas musibah jika orang yang menisbahkan pada sosok orang yang berilmu justru lalai pada masalah ini…

Kita harus lebih baik dari orang awam yang tidak pernah hadir dalam majelis ilmu, hati dan nurani kita harus lebih peka dari mereka karena kita mempunyai sandaran ilmu sedangkan mereka hanya pada insting saja…

Semoga kita bisa menjadi sosok istri shalihah yang senantiasa membantu para suami kita dalam berbuat ihsan pada kedua orangtuanya. Amiin.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Jumat,13 Juni 2014/14 Sya’ban 1435H

Print Friendly