Durrah Binti Abu Lahab: Putri Paman Nabi (Bagian 1)

 

Pada kesempatan yang baik ini akan kita telusuri shirah seorang shahabiyah yang mulia. Ia merupakan salah satu putri dari paman Rasulullah yang sangat membenci beliau, tetapi berkat hidayah dari Allah, ia masuk Islam dan menjadi salah satu wanita kebanggaan Rasulullah.

Sebelum kita mengenal lebih dekat shirah shahabiah Durrah bintu Abu Lahab bin Abdul Muththallib al Hasyimiyah al-Quraisyah, seorang putri dari paman Rasulullah, alangkah baiknya kita mengenal dulu tentang ayahnya, seorang musuh Allah dan musuh Rasulullah.

Sebagian Informasi Tentang Abu Lahab

Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah. Namanya adalah Abdu al-Izzi bin Abdul Muthallib bin Hasyim al-Quraisy. Dia sangat membenci anak saudaranya, Muhammad. Ia dikenal dengan sebutan Abu Lahab karena ketampanan wajahnya. Lalu Allah adakan perubahan sehingga orang-orang menyebutnya Abu An-Nuur ‘bapak cahaya’ atau Abu Adh-Dhiya ‘bapak sinar’ yang mengandung arti gabungan antara “yang disukai” dan “yang dibenci”. Lisan orang banyak juga memberlakukan idhajah kepada Lahab ‘nyala api’ yang bermakna khusus, yaitu yang dibenci dan yang dicela, yaitu api. Berita itu menjadi kenyataan karena ia akan kekal di dalamnya.

Abu Lahab tidak pernah menghentikan penyiksaan kepada Rasulullah, di mana pun dan kapan pun. Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Az-Zinad, “Ada seseorang yang dipanggil Rabi’ah bin Ibad dari bani Ad-Dil. Ia adalah orang jahiliah yang masuk Islam. Dia berkata, ‘Aku melihat Rasulullah di zaman jahiliah sedang di pasar Dzu Al-Majaz dan bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah ‘Tidak ada tuhan selain Allah, maka kalian akan beruntung’. Orang banyak berkerumun di sekitar beliau. Di belakangnya berdiri seorang yang berwajah bersih, tampan, dan rambut yang dikepang dua. Ia mengatakan, ‘Orang itu adalah pengikut agama terdahulu yang dusta. ‘Ia selalu mengikuti Rasulullah ke mana saja beliau pergi. aku bertanya tentang orang itu. Mereka menjawab ‘Dia adalah pamannya, Abu Lahab.’”

Abu Lahab tidak berhenti samapi di situ. Bahkan, ia berkeyakinan bahwa hartanya akan menjadi penyelamat baginya dari kehancuran. Telah diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah menyeru kaumnya untuk beriman; Abu Lahab berkata, “Jika yang dikatakan anak saudaraku itu benar, maka di Hari Kiamat aku akan menebus diriku dari azab dengan seluruh harta dan anak-anakku.”

Abu Lahab lupa akan firman Allah, “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tida berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syuara: 88-89)

Istri Abu Lahab tidak kalah dalam memberikan siksaan kepada Rasulullah. Namanya Arwa Bintu Harb bin Umayyah. Ia adalah saudara perempuan Abu Sufyan. Dijuluki dengan Ummu Jamil. Ia selalu membantu suaminya dalam kekafiran, keingkaran, dan kekerasa.

Ia meletakkan duri di jalan yang dilalui Rasulullah. Untuk memusuhi Rasulullah, ia ikhlas mengeluarkan hartanya, Allah menamainya Hammaalat al-Hathab ‘pembawa kayu bakar’.

Abu Lahab bersama istrinya menjadi sangat hina karena penolakannya kepada Nabi dan Islam. Allah menurunkan Surat al-Masad/al-Lahab karena keduanya. Di dalamnya, Allah mengabarkan bahwa keduanya hina, sengsara, tidak beriman, dan akan menerima siksaan.

Akhir Abu Lahab

Tentang kematian Abu Lahab, beberapa referensi menyebutkan bahwa ia mati setelah Perang Badar, setelah mendengar berita kemenangan kaum muslimin. Allah menimpakan kepadanya penyakit kusta sehingga ia mati karenanya. Selama tiga hari mayatnya tidak dimakamkan, sehingga membusuk. Anaknya memandikannya dengan menyiramkan air dari jarak jauh, karena khawatir tertular penyakit kusta, Orang-orang Quraisy menjaganya sebagaimana menjaga orang yang berpenyakit kusta. Mereka mengusungnya ke tempat tertinggi di Mekah. Mereka menyandarkannya ke suatu tembok dan memagrainya dengan batu bersusun.

Demikianlah Allah yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa mengambil nyawanya. Ia ditimpa penyakit yang menjijikkan dan membuat orang jauh darinya. Penyakitnya tidak ada harapan bisa sembuh dan tidak bisa diatasi. Demikian pula seluruh sahabatnya. Ia juga disisihkan oleh keluarganya sendiri. Ini baru dalam kehidupan dunia. Padahal Azab akhirat lebih pedih dan abadi.

Pemberi Peringatan yang Jelas

Propaganda Islam telah membahana di Ummu al-Qura (Mekah). Pelakunya adalah mereka yang berbesar hati. Oleh karena itu, banyak orang yang langsung mencampakkan kejahiliahan yang membutakannya. Mereka merasa ringan untuk menyambut keimanan yang sanggup menerangi relung-relung jiwa mereka. Mereka tidak merisaukan kekuasaan yang hilang. Putra-putra Islam itu menyebar ke seluruh Quraisy. Pada awalnya mereka tidak ambil peduli dengan risiko apa pun.

Dakwah berjalan secara terselubung selama tiga tahun. Kemudian, Jibril datang kepada Rasulullah untuk menyuruhnya berdakwah dengan terang-terangan, dan Jibril juga menjelaskan bahwa Rasulullah adalah pemberi peringatan yang jelas.

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa ketika turun ayat,
*”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (asy-Syuara: 214)

Bersambung, insyaallah…

Disalin dari artikel yang dimuat dalam Majalah Nikah Vol.7, No 09, 15 Desember-15 Januari 2009/ Dzulhijjah-Muharram 1430

(Catatan penyalin: Demikian yang kami dapati dari artikel majalah. Namun nama Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthallib bin Hasyim al-Quraisy. ‘Allahu a’lam.)

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Selasa, 2 April 2013/21 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly