Mengingat Kematian dan Kehidupan Sesudahnya (2)

Hamid Al-Qushairy berkata, “Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara kita yakin adanya surga, sementara kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka. Untuk apa kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati.” (HR Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Al-Hasan Al-Bashry berkata, “Kematian melecehkan dunia dan tidak menyisakan kesenangan bagi orang yang berakal. Selagi seseorang mengharuskan hatinya untuk mengingat mati, maka dunia terasa kecil di matanya dan segala apa yang ada di dalamnya menjadi remeh.

Jika Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ingat mati, maka dia menggigil seperti burung yang sedang menggigil. Setiap malam dia mengumpulkan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka ada mayat.

Syumaith bin Ajlan berkata, “Siapa yang menjadikan kematian pusat perhatiannya, maka dia tidak lagi peduli terhadap kesempitan dunia dan kelapangannya.”

Ketahuilah bahwa bencana kematian itu amat besar. Banyak orang yang melalaikan kematian karena mereka tidak memikirkan dan mengingatnya. Kalau pun ada yang mengingatnya, toh dia mengingatnya dengan hati yang lalai, sehingga tidak ada gunanya dia mengingat mati. Cara yang harus dilakukan seorang hamba ialah mengosongkan hati tatkala mengingat kematian yang seakan-akan ada di hadapannya, seperti orang yang hendak bepergian ke daerah yang berbahaya atau tatkala hendak naik perahu mengarungi lautan, yang tentunya dia mengingat kecuali perjalanannya. Cara yang paling efektif baginya ialah mengingat keadaan dirinya dan orang-orang yang sebelumnya, mengingat kematian dan kemusnahan mereka.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Orang yang berbahagia ialah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.”

Abu Darda’ berkata, “Jika engkau mengingat orang-orang yang sudah meninggal, maka jadikanlah dirimu termasuk mereka yang sudah meninggal.”

Ada baiknya jika dia memasuki kuburan dan mengingat orang-orang yang sudah dipendam disana. Selagi hatinya mulai condong kepada keduniaan, maka hendaklah dia berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkannya dan harapan-harapannya pun menjadi pupus.

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memegangi kedua pundakku lalu beliau bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang pelancong.” (HR Bukhary dan Ahmad). Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada pada sore hari, maka janganlah menunggu sore hariny. Pergunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.”

Dari Al-Hasan, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam bertanya kepada para sahabat, “Apakah setiap orang di antara kalian ingin masuk surga?” Mereka menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pendekkanlah angan-angan, buatlah ajal kalian ada di depan mata kalian dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (Diriwayatkan Ibnu Abid-Dunya)

Dari Abu Zakaria At-Taimy, dia berkata, “Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis: Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi. Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan. Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian.”

Ketahuilah, munculnya angan-angan yang muluk-muluk ini ada dua hal:

1. Cinta Kepada Dunia.Jika manusia sudah menyatu dengan keduniaan, kenikmatan dan belenggunya, maka hatinya merasa berat untuk berpisah dengan dunia, sehingga di dalam hatinya tidak terlintas pikiran tentang mati. Padahal kematianlah yang akan memisahkan dirinya dengan dunia. Siapa pun yang membenci sesuatu, tentu akan menjauhkan sesuatu itu dari dirinya. Manusia selalu dibayang-bayangi angan-angan yang batil. Dia berangan-angan sesuai dengan kehendaknya, seperti hidup terus di dunia, mendapatkan seluruh barang yang dibutuhkannya, seperti harta benda, tempat tinggal, keluarga dan sebab-sebab keduniaan lainnya. Hatinya hanya terpusat pada hal-hal ini, sehingga lalai mengingat mati dan tidak membayangkan kedekatan kematiannya.

Andakain di dalam hatinya sesekali melintas pikiran tentang kematian dan perlu bersiap-siap menghadapinya, tentu dia bersikap waspada dan mengingat dirinya. Namun dia hanya berkata, “Hari-hari ada di depanmu hingga engkau menjadi dewasa. Setelah itu engkau bertaubat.” Setelah dewasa dia berkata, “Sebentar lagi engkau akan menjadi tua.” Setelah tua dia berkata, “Tunggulh hingga rumah ini rampung atau biar kuselesaikan terlebih dahulu perjalananku.” Dia menunda-nunda dan terus menunda-nunda, hingga selesainya kesibukan demi kesibukan dan hari demi hari, hingga ajal menjemputnya tanpa disadarinya, dan saat itulah dia akan merasakan penyesalan yang mendalam.’

Kebanyakan teriakan para penghuni neraka ialah kata-kata, “Andaikata”. Mereka berkata, “Aduhai aku benar-benar menyesal”, yang juga menggambarkan kata-kata “Andaikata”. Sumber dari seluruh angan-angan ini adalah cinta kepada dunia dan lalai terhadap sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam, “Cintailah apa pun sekehendakmu, toh engkau akan berpisah dengannya.” (Diriwayatkan Al-Hakimn dan Abu Nu’aim)

2. Kebodohan

Hal ini terjadi karena manusia tidak mempergunakan masa mudanya, menganggap kematian masih lama datangnya karena dia masih muda. Apakah pemuda semacam ini tidak menghitung bahwa orang-orang yang berumur panjang di wilayahnya tidak lebih dari sepuluh orang? Mengapa jumlah ornag tua hanya sedikit? Karena banyak manusia yang meninggal dunia selagi muda. Berbarengan dengan meninggalnya satu orang tua, ada seribu bayi dan anak muda yang meninggal dunia. Dia tertipu oleh kesehatannya dan tidak tahu bahwa kematian bisa menghampirinya secara tiba-tiba, sekalipun dia menganggap kematian itu masih lama. Sakit bisa menimpanya secara tiba-tiba. Jika dia jatuh sakit, maka kematian tidak jauh darinya.Andaikan dia mau berpikir dan menyadari bahwa kematian itu tidak mempunyai waktu yang pasti, entah pada musim panas, gugur atau semi, siang atau malam, tidak terikat pada umur tertentu, muda atau tua, tentu dia akan menganggap serius urusan kematian ini dan tentu dia akan bersiap-siap menyongsongnya.
Ibnu Qudamah, Minhajul Qasidin Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk, Pustaka Al-Kautsar.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Rabu, 4 April 2007/16 Rabiul Awal 1428H

Print Friendly