Saat Anak Mulai Tertarik Belajar

 

Belajar baca-tulis pada anak usia dini bisa dilakukan dengan cara menyenangkan. Oleh karena itu, cara paksaan dengan jadwal belajar ketat dan harus memebuhi target buatan orang dewasa hanya akan membuat anak merasa tertekan.

Nah, bagaimana sebaiknya orang tua bersikap di saat anak sudah tertarik untuk belajar?

Abu dan Ummu, anak bisa saja mahir baca-tulis pada usia dini, tetapi apakah kesadaran dan kebutuhan juga ikut tumbuh dalam jiwa mereka? Itu pertanyaan dasarnya. Tanpa disadari, kebutuhan belajar anak terbentuk seperti robot yang pasrah saja diprogram apapun oleh orangtuanya.

Masa anak-anak adalah saat tepat untuk menggali dan melatih kepekaan. Dengan melatih kepekaan anak sejak dini melalui proses alamiah si anak, akan terbentuk kesadaran dari jiwa terdalam anak. Kepekaan ini kemudian melahirkan kebutuhan dasar anak yang datang dari rasa ingin tahu mereka. JIka anak dapat menyadari kebutuhannya, kesadaran belajar akan muncul dengan sendirinya tanpa dipaksa, termasuk dalam hal baca-tulis sejak usia dini.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan kesadaran belajar dari dalam diri si anak?

Jawabnya, bebaskan anak beraktivitas dan menggali rasa ingin tahu. Seberapa sering Abu dan Ummu melihat anak membolak-balik buku cerita atau buku bacaan? Apa yang Abu dan Ummu lakukan? Menghentikan aktivitas si anak karena menurut persepsi Anda si anak akan merobek buku dan membuat berantakan seisi rumah? Jika itu cara ABu dan Ummu, lebih baik dihentikan sekarang juga.

Masa alami anak-anak menggali rasa ingin tahunya dimulai dengan membongkar rak buku dan melihat buku-buku tersebut meski si anak belum bisa membaca. Bebaskan anak menggali rasa ingin tahunya dengan melihat bentuk buku, gambar, tulisan, atau apa pun yang menarik perhatian mereka dari bahan bacaan. Bahkan, sekedar memegang buku pun menjadi awal ketertarikan anak yang semestinya tidak diintervensi orang dewasa.

Selanjutnya, anak akan mulai mengenali alat tulis dan membuat coretan tak beraturan. Sebagai orangtua, arahkan anak untuk mencoret di tempat yang disediakan. Biarkan anak mengeksplorasi dirinya. Jika anak terlihat aktif, pantau mereka tanpa perlu mencampuri, apalagi melarang. Bukankah anak-anak tak akan tahu rasanya sakit karena terjatuh jika dilarang berlarian?

Jika kebebasan eksplorasi ini didapatkan oleh anak-anak, akan muncul masa di mana anak merasa butuh sesuatu, termasuk belajar membaca.

Penjelasan sederhananya, dimulai dari pegang buku, membolak balik halaman, hingga mencoret, anak mulai merasa butuh belajar baca-tulis. Jika sudah butuh, anak akan meminta. Nah, disini orangtua punya peran. Mulai saja dengan membacakan buku cerita dan mendiskusikan; perlahan anak akan mulai bertanya cara membacanya. Peran aktif orangtua sangat memengaruhi sejauh mana kemampuan baca-tulis anak.

Proses ini tak berarti harus berjalan berurutan, setiap anak punya kebutuhan berbeda. Jadi, proses alami ini bisa saja dilakukan acak. Bisa jadi anak lebih tertarik mencoret daripada membuka buku. Unutk itu, melihat karakter anak menjadi acuan untuk memilih metode belajar yang paling tepat bagi mereka. Selain itu, hal itu akan membuat mereka mengenal dan menyadari belajar. Untuk itu Abu dan Ummu, selamat membimbing anak Anda dalam mengenal kegiatan belajar.

Sumber artikel:  Yaa Bunayya (Bonus Majalah Sakinah) Vol. 5 No. 01. Agustus 2011

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Sabtu,28 Juni 2014/29 Sya’ban 1435H

Print Friendly