Suami Idaman Penebar Kebahagiaan – Bag. 2

 

Mesra Di Tengah Kesibukan

Yakni kesibukan dalam menunaikan segera tugas dan tanggung jawab tidak menghalanginya untuk bersikap hangat dan mesra terhadap istrinya. Rasulullah adalah teladan utama dalam hal ini. Di tengah kesibukan mengemban tugas dan tanggung jawab yang begitu berat, beliau selalu menciptakan kebahagiaan bagi istri, memberikan suasana segar dan suka cita dengan lemah lembut dan penuh kemesraan. Dalam berbagai kondisi, beliau adalah sebaik-sebaik suami. Yang selalu menciptakan suasana mesra baik ketika bepergian, di rumah, menjelang tidur, saat menyantap hidangan dan bahkan ketika mandi. ‘Aisyah mengisahkan:

“Rasulullah pada suatu ketika, pernah membaca Al-Qur’an, sementara kepada beliau ada di pangkuanku dan pada saat itu aku sedang haidh.1

Suasana di meja makan juga bisa digunakan untuk menunjukkan rasa kasih sayang. Demikian juga Rasulullah saat menyantap hidangan dengan istrinya. Ia mengambilkan makanan, menyuapkan dan demikian sebaliknya. Ia meminumkan air dengan gelas di tempat mana istrinya minum. Demikian pula sang istri, ia berbuat yang sama.

‘Aisyah berkata:

“Suatu saat, ketika saya haidh, saya minum dengan gelas Rasulullah, kemudian beliau minum pada (bagian gelas) tempat saya meletakkan mulut. Ketika saya haidh dan tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada Rasulullah dan beliau meminum dari tempat mana saya meminum.” 2

Rasulullah juga kadang mandi dalam satu bak mandi dengan istri, mendahului mengambil air dan istri pun terkadang mendahuluinya. Beliau menyiramkan air ke tubuh istrinya demikian pula sang istri secara bergantian, saling menggosok badan dengan tangannya, dan demikian seterusnya dalam rangka mewujudkan kebahagiaan rumah tangganya. ‘Aisyah berkata: Saya mandi dengan Rasulullah dalam satu bak mandi. Kami saling menggosokkan badan dengan tangan. Ia mendahului saya, hingga saya katakan, “Tinggalkan untukku, tinggalkan untukku.”

Selanjutnya ia berkata, “Keduanya dalam keadaan junub” 3

Demikianlah, beliau adalah sosok panutan bagi setiap suami idaman.

Memanggil Dengan Manja

Ia memanggil istrinya dengan panggilan kesukaannya, sebagai ungkapan kasih sayang dan penguat jalinan cinta. Ia memanggil istrinya dengan panggilan manja, sehingga hal itu menumbuhkan pohon cinta dan hormat lebih subur, membangktikan kebahagiaan, melapangkan dada, dan mendendangkan irama merdu pada pendengarannya. Dengan rangsangan serupa itu lahirlah berbagai kebajikan dari pihak istri sebagai reaksinya.

Ingatlah!

Sikap memanjakan adalah bagian dari hiburan yang menyenangkan hati dan dibenarkan dalam Islam, sebagaimana perilaku Rasulullah dalam memanjakan istri-istrinya. Beliau selalu memanggil ‘Aiysah dengan suara lembut untuk memanjakannya. ‘Aisyah menuturkan: Suatu hari Rasulullah berkata: “Wahai ‘Aisy (yang hidup), Jibril menyamptaikan salam untukmu.” Saya menjawab, “Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh, engkau melihat apa-apa yang tidak bisa aku lihat.” Maksudnya adalah Rasulullah. 4

Sungguh,…

Dengan mengindahkan bimbingan nabawi ini, niscaya tembok pembatas hubungan menjadi runtuh, sikap saling terbuka pun terjalin, dan benang keruwetan pun terurai. Selanjutnya, ia menjadikan hubungan suami-sitri penuh dengan kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang. Dengan menapaki jalan ini, seorang suami idaman mampu menebarkan perasaan cinta dan memekarkan bunga-bunga kebahagiaan dalam rumah tangga untuk bekal mengarungi samudera kehidupan.

Memahami Kondisi Kejiwaan Istri

Seorang suami idaman akan selalu berusaha memahami kondisi kejiwaan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sehingga hal itu dapat membantunya dalam memilih sikap yang paling tepat dalam bermu’amalah dengan mereka. Dan dapat menghindari sikap-sikap yang menyusahkan mereka dan perbuatan yang membuat mereka kesal.

Dan orang pertama yang harus kamu pahami kondisi kejiwaannya adalah istrimu. Karena ia hidup bersamamu dan berbagi kehidupan denganmu… Kerahkanlah segala kemampuanmu untuk mengetahui kondisi kejiwaannya. Apakah ia sedang gembira, bersedih, bingung, atau sedang banyak masalah dan seterusnya. Sebab, apabila hal ini tidak engkau perhatikan, niscaya akan berakibat buruk bagi dirimu dan juga istrimu.

Termasuk dalam hal ini adalah memahami perasaan labil ketika istri sedang haidh. Allah berfirman:

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah kotoran’” (QS. Al-Baqarah:222)

Memang benar bahwa haidh mengandung kotoran dan penyakit. Termasuk di antaranya adalah perubahan-perubahan emosi yang berpengaruh besar pada tingkah laku dan akhlaq. Antara lain, mudah pusing, mudah capai, tulang linu, syaraf tegang, pencernaan tidak lancar, rasa sakit di sekitar dada, sulit berkonsentrasi, rasa malas, rasa lain sebagainya. Suami yang shalih hendaknya memahami dan memperhatikan dampak ini. Tahanlah emosi saat menghadapi munculnya sikap yang boleh jadi menyakitkan hati pada saat seperti ini.

Catatan Kaki:

1 Diriwayatkan oleh Al-Bukhiar (7549) dan Muslim (halaman 246)

2 Hadits riwayat Muslim

3 Muttafaqun ‘alaihi

4 Hadits riwayat al-Bukhari

Disadur dari buku Surat Terbuka untuk Para Suami oleh Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan, Pustaka Darul Ilmi, Bogor, Cetakan Ketiga 2011.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Senin,25 November 2013/21 Muharram 1435H

Print Friendly