Suami Idaman Penebar Kebahagiaan – Bag. 3

Kunjungan yang Mendatangkan Kebahagiaan

Yaitu mengadakan kunjungan bersama istri. Mengunjungi sahabat, sanak, kerabat, handai taulan dan orang-orang shalih. Selain hal ini akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri, juga mendatangkan pahala yang agung dan faedah-faedah kebajikan yang banyak. Mengunjungi saudara karena Allah termasuk perkara yang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah bersabda: Pernah ada seserang yang mengunjungi saudaranya di suatu kampung dekat tempat tinggalnya. Lalu Allah mengirimkan seorang Malaikat untuk menjaga perjalanannya. Ketika sampai kepadanya, Malaikat bertanya, “Mau kemana kamu?” Ia berkata, “Saya mau menemui saudaraku di kampung ini.” Malaikat bertanya lagi, “Apakah ada nikmat yang kau harapkan darinya?” Ia menjawab, “Tidak ada, kecuali semata-mata karena saya mencintainya karena Allah.” Kemudian Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.” 1

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, berserulah seorang penyeru, ‘Kebaikan semoga tetap atasmu dan menyertai perjalananmu dan engkau telah mendapatkan Surga sebagai tempat tinggal’”2

Sesungguhnya kunjungan seperti ini akan membuahkan dampak yang positif, antara lain, pemenuhan kebutuhan dasar hidup bermasyarakat dan menghilangkn rasa jenuh bagi sang istri serta mengusir rasa kesepian lantaran tugas-tugas harian yang monoton. Kunjungan juga membangkitkan semangat baru dan menumbuhkan berbagai kreasi amal kebajikan.

Agar kunjungan ini benar-benar membuahkan hasil serta menjadikannya faktor kebahagiaan, hendaklah seorang suami menyertai istrinya atau mengizinkan ia pergi sendiri selama masih dalam batas-batas syar’i.

Jadikan acara kunjungan sesuatu sesuatu yang dibutuhkan oleh suami-istri, dan mengantarkan keduanya untuk meraih kebahagiaan, mengurai benang kusut perasaan serta mengokohkan hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Hal itu bisa dilakukan dengan saling bercerita yang menarik, saling menukar informasi, serta nasehat menasehati karena Allah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Suami juga harus pandai dalam memilik orang yang akan dikunjungi. Sebab perumpamaan kawan yang baik dan yang buruk adalah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah:

Sesungguhnya perumpamaan kawan yang shalih dan kawan yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka engkau akan mendapatkannya secara cuma-cuma atau engkau akan membelinya atau paling tidak engkau akan mencium aroma wanginya. Sedangkan pandai besi, maka kalau apinya tidak membakar bajumu, maka paling tidak engkau akan mencium baunya yang tidak sedap.3

Adab Bepergian

Kadang, karena suatu keperluan suami harus pergi untuk sementara waktu meninggalkan orang-orang yang dicintai. Istri, anak dan karib kerabat harus berpisah dengannya. Suami yang shalih selalu memperhatikan perkara-perkara yang dapat meringankan perasaan mereka dan mendatangkan kebahagiaan. Sehingga kepergiannya semakin memupuk rasa rindu dan cinta yang mendalam.

Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri duduk-duduk bersama istri. Berbincang dalam suasana hangat dan penuh kasih sayang. Bisikanlah nasehat dan wasiat kepadanya agar selalu menjaga diri dan menjaga amanah Allah. Sebaliknya meminta didoakan istri semoga Allah senantiasa menjaganya dan memudahkan segala urusannya.

Untuk menambah kehangatan, berikan di tengah perbincangan itu sekedar ciuman dan pelukan hangat sembari berjanji untuk selalu setia padanya dan cepat kembali, seraya mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah

Saya titipkan kalian kepada Allah yang titipan-Nya tidak akan disia-siakan4

Di antara adab yang harus diperhatikan suami apabila hendak bepergian adalah menitipkan keluarganya kepada sahabat yang terpercaya dan bertaqwa, serta membekali istri dengan nafkah secukupnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama kepergiannya. Di samping hal intu merupakan bentuk perhatian kepada mereka.

Demikianlah yang biasa dilakukan oleh Rasulullah apabila hendak mengadakan perjalanan, baik untuk berjihad maupun untuk keperluan lainnya. Beliau memerintahkan dan mewasiatkan kepada sahabat dekat beliau untuk mengurus urusan kaum wanita dan anak-anak.

Disebutkan bahwa pada perang Tabuk, beliau meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib di Madinah, makan ‘Ali berkata, “Wahai Rasulullah, engkau tinggalkan aku untuk menjaga para perempuan dan anak-anak?”

Rasulullah bersabda, “Tidakkah engkau rela bila engkau di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku”

Selama berjauhan, tetaplah jalin hubungan dengannya meski hanya sekedar menanyakan kabar dan berbincang ringan. Bukankah hal itu mudah saja! Apalagi dengan alat telekomunikasi berupa HP atau yang lainnya.

Apabila telah selesai urusan, segeralah kembali dan jangan mengulur-ulur waktu. Sebab istrimu tentu sangat merindukanmu. Rasulullah telah bersabda:

“Safar adalah sepotong adzab. Seseorang dihalangi dari makan, minum, dan tidur. Maka apabila telah selesai urusan, cepatlah kembali kepada keluarganya.” 5

Bawalah oleh-oleh yang disenangi istri. Hadiah yang diberikan saat berjumpa setelah lama berpisah tentu akan memberikan kesan mendalam, mendatangkan kebahagiaan serta menambah rasa cinta dan kasih sayang.

Kabarkanlah kepulanganmu dan jangan mengagetkan! Janganlah datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan, apalagi di malam hari, Hal itu perlu diperhatikan untuk menghindari kecurigaan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Di samping itu istri dapat mempersiapkan diri menyambut kedatangan suami tercinta, seperti merapihkan dandanan, mempercantik solekan dan mencukur bulu kemaluan, Rasulullah bersabda:

“Apabila engkau datang dari bepergian pada malam hari, janganlah langsung menemui istrimu, supaya ia dapat mencukur rambut kemaluannya dan merapikan dandanannya.” Rasulullah berkata, “Jangan lupa lakukanlah jima’, lakukanlah jima’6

Dan apabila memungkinkan, ada bagusnya sesekali mengajak istri bepergian bersama. Ini adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Karena itu Nabi, apabila hendak bepergian biasanya beliau mengundi para istrinya. Siapa yang keluar namanya maka dialah yang akan menyertai beliau dalam perjalanannya.

 

Catatan kaki:

1 Hadits riwayat Muslim

2 Hadits riwayat At-Tirmidzi (2008) dan Ibnu Majah (1443). Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibnu Majah

3 Muttafaqun ‘alaihi

4 Hadits riwayat Ahmad (9230) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilsah ash-Shahihah (2547)

5 Muttafaqun ‘alaihi

6 Muttafaqun ‘alaihi

Disadur dari buku Surat Terbuka untuk Para Suami oleh Abu Ihsan al-Atsari & Ummu Ihsan, Pustaka Darul Ilmi, Bogor, Cetakan Ketiga 2011.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Senin,16 Desember 2013/12 Safar 1435H

Print Friendly