Bahagia Tanpa Hasad

 

Allah memberikan nikmat-Nya pada semua hamba-Nya, hanya pembagiannya tidak sama ada yang diberi banyak, ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hamba-Nya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api yang mebersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Dengan begitu dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Alangkah ruginya kalau kita tidak mampu menghadapi ujian.

 

Adam VS Iblis

 

Karena perbedaan inilah, sering timbul sifat jelek seseorang terhadap orang lain. Dari persetruan awal, antara Adam dan iblis. Iblis melanggar perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena hasadnya terhadap Adam.

Ia merasa Allah tidak adil dalam perintah tersebut, bagaimana tidak? Dirinya yang -menurut iblis- lebih baik dan pantas dari Adam untuk mendapat kemuliaan, malahan diminta sujud padanya. Ia berkata, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah, “Saya lebih baik darinya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf:12) Kemudian permusahan orang kafir terhadap kaum mukminin, sehingga mereka mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk menjauhkan kaum mukmin dari keimanan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya, “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah:109)

 

Apa itu Hasad

 

Hasad atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’Ala. Baik dengan keinginan nikmat tersebut hilang dari orang lain atau tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya Iblis kepada Adam.

 

Contoh hasad, misalnya tetangga kita memiliki kelebihan harta benda, anak atau istri yang cantik jelita, kedudukan dan nama baik di masyarakat, lalu kita iri dan dengki kepadanya, baik berusahan jelek merusaknya ataupun tidak. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat zhalim kepada tetangganya. Menyebar gosip dan menjelek-jelekkannya di depan orang lain. Tentu ini akan menjadikan suasana bermasyarakat yang tidak kondusif dan buruk sekali

 

Sepuluh Bahaya Hasad

 

Hasad sangat berbahaya, begitupun dampaknya di antaranya :

 1. Merupakan sifat orang Yahudi yang dilaknat Allah, siapa yang memilikinya bearti menyerupai mereka. Allah berfirman tentangnya, “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya. Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (An-Nisa:54).

2. Orang yang memiliki sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.” (Muttafaqun ‘alaihi). Bahkan lebih parah dari iru, orang yang hasad merasa sangat gembira bila saudaranya celaka dan binasa.

3. Ada dalam sifat hasad ini ketidaksukaan terhadap takdir yang Allah berikan kepadanya. Bukankah yang memberikan nikmat hanya Allah Subhaanahu wa Ta’Ala? Seakan-akan ia ingin berperan aktif dalam penentuan takdir Allah dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari orang lain.

4. Setiap orang lain mendapatkan kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.

5. Menimbulkan sikap egois yang tinggi dan tidak menyukai kebaikan pada orang lain.

6. Hasad memakan dan melumat kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya, “Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Riwayat Abu Daud).

7. Menyusahkan diri sendiri, sebab ia tidak mampu mengubah takdir Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, sedikitpun. Allah telah memberikan nikmat pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang yang hasad tersebut. Walaupun ia berusaha dengan mencurahkan segala daya dan kemampuannya tidak akan mungkin mengubah takdir Allah yang sudah ditetapkan. Sehingga semua usahanya hanyalah sia-sia belaka.

8. Hasad mencegah pemiliknya dari berbuat kebaikan dan kemanfaatan. Ia selalu sibuk memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan bagaimana menghilangkannya.

9. Hasad dapat memecahkan persatuan, kesatuan, dan pesaudaraan kaum muslimin. Karena itulah Rasulullah bersabda, “Janganlah saling hasad dan jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian bersaudara. (Riwayat Muslim).

10. Hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah gulanan dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada orang lain yang memiliki kelebihan darinya.

Alangkah mengerikan bahaya dan kerusakan yang diakibatkan oleh dengki (hasad). Sudah semestinya kita berusaha menanggalkan dan menghilangkan dari diri kita.

Sepuluh Kiat

Setelah mengetahui bahayanya, tentunya kita harus berusaha menghindari dan menjauhkan diri dari sifat yang satu ini. Untuk itu perlu melihat kiat-kiat berikut :

1. Belajar dan memahami Aqidah Islam yang benar, baik tentang keimanan ataupun syariat serta mengamalkannya.Kebenaran aqidah merupakan sumber segala perbaikan dan kebaikan. Hal ini dilakukan dengan senantiasa menggali kandungan Al-Qur’an dan Hadits.

2. Memahami dengan benar konsep takdir menurut syariat Islam, sehingga paham kalau segala kenikmatan dan rezeki tidak lepas dari ketentuan takdir Allah. Dengan memahami ini diharapkan tidak timbul dalam diri kita rasa iri dan dengki terhadap orang lain.

3. Meyakini dengan benar dan kokoh bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan hikmah yang diinginkan-Nya. Sebab tidak semua kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain itu untuknya.

4. Membersihkan hati dengan berusaha mengamalkan seluruh syariat Islam.

5. Memandang dunia dengan segala perhiasannya sebagai sesuatu yang akan punah dengan cepat dan tidak seberapa dibanding akherat. Demikian juga tujuan akhir kehidupannya adalah akhirat yang kela abadi, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanamannya yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir, Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).” (Yunus:24-25).

6. Selalu mengingat bahaya hasad bagi kehidupan dunia dan akhiratnya.

7. Selalu menanamkan dalam hatinya kewajiban mencintai saudaranya, sehingga tidak merasa panas melihat saudaranya lebih baik darinya dalam permasalahan dunia. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya seustau yang ia cintai untuk dirinya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

8. Berusaha memenuhi hak-hak saudaranya sesama muslim dan mencari teman baik yang mengingatkan dan menasehatinya.

9. Selalu mengingat kematian dan pembalasan Allah atas kezhaliman dan kerusakan yang ditimbilkan hasad tersebut.

10. Mengingat keutamaan zuhud dan lapang dada terhadap nikmat yang Allah anugerahkan kepada orang lain serta kewajiban bersyukur terhadap nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Semua ini akan menimbulkan sifat qana’ah (menerima) dan kaya hati. Sifat qana’ah dan kaya hati yang akan membawanya kepada sifat iffah dan taqwa. Mudah-mudahan dengan selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan sifat hasad ini kita semua dimudahkan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Sumber : Diketik kembali oleh Ummu ‘Umar dari Majalah Nikah Vol.3, No.9, Desember 2004

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Rabu,10 Mei 2006/11 Rabiul Akhir 1427H

Print Friendly