Sepele, Jangan Remehkan !…

Perkara kecil acapkali luput dari perhatian mayoritas manusia, bahkan sementara orang menganggap remeh sesuatu yang dinilainya tak ada harganya. Padahal sering kali yang kecil berakibat fatal.

 

 

 

Menjadikan tandingan bagi Allah banyak ragamnya. Meski ini adalah sesuatu yang mutlak terlarang, namun tak pelak bagi mereka yang tidak mengetahui dan berhati-hati, akan terperosok ke dalamnya. Yakni menjadikan tandingan bagi-Nya, yang jelas-jelas larangannya termaktub dalam firman-Nya.

 

 

 

Maka janganlah kalian menjadikan tandingan bagi Allah sedang kalian mengetahuinya” (Al-Baqarah : 22)

 

 

Adalah Qutailah binti Shaify, salah satu sahabiyyah Nabi Shollawallahu ‘Alayhi wa Sallam menuturkan, ”Seorang Yahudi mendatangi Nabi seraya berkata, ”Sesungguhnya kalian telah berbuat syirik. Kalian berkata, ’Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan, dan kalian mengatakan ’Dan (demi) ka’bah”.Maka Nabi memerintahkan kepada mereka (para sahabat) apabila mereka bersumpah hendaklah mengucapkan, ”Dan (Demi) Tuhannya ka’bah dan hendaknya (pula) mereka mengatakan, ’Atas kehendak Allah kemudian kehendak Fulan”(Riwayat An-Nasa’i).

 

 

 

Sepenggal kisah tersebut mungkin saja terjadi disekeliling kita, yakni kesyirikan masih saja selalu memasuki setiap celah dan relung kehidupan manusia dengan berbagai ragamnya.

 

 

 

Lebih lanjut, di dalam hadits tersebut terdapat dua poin yang penting yang mendasari sajian kita kali ini, yaitu larangan menyetarakan perbuatan Allah dengan perbuatan makhluk, seperti ucapan, ’Dengan kehendak Allah dan kehendak fulan’, ’Atas karunia Allah dan karunia bapak fulan’, dan semisalnya. Kemudian poin kedua adalah larangan bersumpah dengan nama selain Allah seperti bersumpah dengan ka’bah, para Nabi, para Malaikat, maupun yang lainnya.

 

 

 

Karena-Mu dan Karenanya

 

 

 

Lontaran-lontaran semisal yang mungkin secara tak sadar dilakukan, akrab sekali terjadi di seputar kita. Ketika orang mengatakan, ’Aku berhasil karena pertolongan Allah dan pertolonganmu’, maka dia telah masuk dalam kawasan larangan Allah yaitu syirik (menyekutukan-Nya). Apalagi perkataan, ’Aku sukses karena bantuanmu’, lebih parah tingkatan kesyirikannya. Sepele memang, namun hal itu berakibat tak sesederhana yang terpikirkan oleh kita.

 

 

 

Seorang hamba meskipun memiliki masyiah (kehendak) namun kehendak tersebut tak lepas dari kehendak Allag Subhaanahu wa Ta’Ala. Kehendaknya tak bakalan terealisasi kecuali Allah menghendakinya, begitupun dengan segala hal yang berkaitan dengan upaya dan keinginan titah manusia tak akan terwujud tanpa kehendak-Nya, Allah Subhanaahu wa Ta’Ala menegaskannya dalam ayat-ayat-Nya,

 

 

 

”Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak (dapat) menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”.(At Takwir; 28-29).

 

 

 

Dari ayat ini jelas sekali bahwa bantuan maupun pertolongan orang lain kepada saudaranya tak akan terealisasi terkecuali dengan kehendak-Nya dan bukan semata-mata kiprah dari orang tersebut.

 

 

 

Ini pula yang menjadi komitmen dari ahlussunnah wa Jamaah yang mana mereka sangat memegangi Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shollawallahu ‘Alayhi wa Sallam. Merekapun meyakini bahwa kehendak seorang hamba dalam setiap seginya, (perbuatan maupun ucapan) tergantung dan tak lepas dari kehendak-Nya.

 

 

 

Walhasil, semua kehendak yang ada, mesti tak lepas dari kehendak yang Maha Kuasa. Segala tindakan dan ucapan hamba yang selaras dengan syariat akan mendapat kecintaan dan ridha-Nya. Adapun yang berada di persimpangan jalan dan menyelisihi syariaat akan mendapat kebencian dan pencelaan dari-nya.

 

 

 

Allah Subhaanahu wa Ta’Ala berfirman,

 

 

 

”Apabila kalian kufur, makan sesunggunhnya Allah tidak butuh terhadap kalian dan (Dia) tidak ridha terhadap kekufuran bagi hamba-Nya.”(Az Zumar;7)

 

 

 

Orang yang mengatakan, ”Dengan kehendak Allah dan kehendak fulan atau kehendakmu, atau kalaulah bukan karena Allah dan karenamu, berarti ia telah menjadikan tandingan bagi-Nya. Maka ucapan model inilah yang dilarang oleh Rasulullah Shollawallahu ‘Alayhi wa Sallam .

 

 

 

Suatu kali seorang laki-laki mendatangi Rasulullah dan berkata, ’Dengan kehendak Allah dan kehendakmu (Nabi Shollawallahu ‘Alayhi wa Sallam)’. Maka Nabi menimpalinya dengan pertanyaan, ’Apakah kamu akan menjadikanku sebagai tandingan (bagi) Allah? Akan tetapi (katakanlah), ’Dengan kehendak Allah semata”(Riwayat Al-Bukhari, Ahmad, dan lainnya).

 

 

 

Yang menjadi masalah disini adalah penggunaan kata ’dan’ yang berkonsekuensi adanya kesetaraan dalam perbuatan antara Allah Subhaanahu wa Ta’Ala dan makhluk. Seakan antara Allah dan makhluk bersamaan dalam kiprah dan perbuatan.

 

 

 

Maka ucapan manusia termulia Muhammad Shollawallahu ‘Alayhi wa Sallam mengisyaratkan bahwa menyepadankan hamba dengan Allah, secara otomatis telah menjadikan tandingan untukNya dan ia telah terpuruk dalam kesyirikan.

 

 

 

Ibnu Abbas berkata, ”Maksud dari Al andaad adalah syrik, yaitu sesuatu yang lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Kesyirikan tersebut sepeti ucapan, ’Demi Allah dan demi hidupmu wahai Fulan dan demi hidupku’. Kalaulah bukan karena anjing kecil ini, niscaya kita akan didatangi pencuri’.’kalaulah bukan karena angsa di rumah ini, niscaya kita akan didatangi pencuri’.(Dan bentuk kesyirikan adalah) ucapan seseorang yang ditujukan kepada temannya, ’Dengan kehendak Allah dan dengan kehendakmu’. Dan ucapan seseorang, ’Kalau bukan karena Allah dan karena si Fulan’. Janganlah menyebutkan si Fulan ketika mengucapkan perkataan itu. Semua itu adalah perbuatan syirik”. (Riwayat Ibnu Abi Hatim).

 

 

 

Walau bagaimana, kita telah mendapat peringatan keras dari Rasulullah Sholallallahu ’Alayhi wa Sallam untuk menjauhi dan mewaspadai kesyirikan seberapapun kecilnya. Maka waspadalah terhadapnya!

 

 

 

Jangan Dengan Selain-Nya

 

 

 

Kebiasaan yang tak harusnya biasa, terjadi dikalangan kita.Bersumpah dengan selain-Nya nyaris menjadi hal yang tak berarti dalam kehidupan. Padahal sumpah adalah satu bagian dari bentuk pengagungan, yang semestinya hanya ayak dipersembahkan untuk Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, bukan yang lain.

 

 

 

Meskipun Allah Subhaanahu wa Ta’Ala memiliki hak untuk bersumpah dengan para makhluk sesuai dengan kehendak-Nya, tak demikian halnya dengan para makhluk. Mereka tak diperkenankan bersumpah dengan selain-Nya.

 

 

 

Larangan ini sejalan dengan sebuah hadits yang bersumber dari Ibnu Umar : ”Ingatlah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian. Barangsiapa yang akan bersumpah, hendaklah bersumpah dengan Allah atau diam” (Riwayat Al-Bukhari).

 

 

 

Lagi-lagi pelaku sumpah dengan menggunakan selain Allah terancam dengan peringatan Rasulullah Sholallahu ’Alayhi wa Sallam, yang menyatakan bahwa orang tersebut telah berbuat syirik.

 

 

 

Riwayat lain yang masih berasal dari Ibnu Umar menyatakan,

 

 

 

”Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah sesungguhnya ia telah kufur atau syirik”(Riwayat Ahmad).

 

 

 

Nabi Sholallahu ’Alayhi wa Sallam telah mensabdakan,

 

 

 

”Barangsiapa yang bersumpah dengan suatu amanah, maka dia bukan termasuk golongan kami”(Riwayat Abu Daud).

 

 

 

Bagi mereka yang terlanjur berucap sumpah dengan selain Allah, tak ada kafarah (denda) yang mesti ia bayar kecuali dengan mengucapkan ’Laailaahaillallah’.

 

Rasulullah Sholallahu ’Alayhi wa Sallam menjelaskannya dalam hadits,

 

 

 

”Barangsiapa bersumpah kemudian mengatakan dalam sumpahnya tersebut, ’Demi Latta dan ’Uzza’, maka hendaknya ia mengucapkan, ’Laailaahaillallah’.”(Riwayat Al-Bukhari).

 

 

 

Sampailah pada kesimpulan, bahwa bersumpah dengan selain Allah seperti dengan orang tua, batu, para Nabi, maupun para Malaikat adalah sesuatu yang sangat terlarang dalam syariat.

 

 

 

Bahkan, saking berhati-hatinya agar tidak terjatuh ke dalamnya, seorang sahabat Ibnu Mas’ud menyatakan,

 

 

 

”Berdusta ketika bersumpah dengan nama Allah lebih aku senangi ketimbang jujur ketika bersumpah dengan selain-Nya”.(Riwayat Thabrani).

 

 

 

Nah lho, sahabat mulia saja sangat takut tergelincir dalam bahaya ini, terlebih kita yang masih lemah dalam segala hal, tentunya takutnya lebih berganda!. Allahu Al Musta’an.

 

 

 

Sumber : Artikel oleh Abu Azzam pada Majalah El-Fata Vol. 6 No. 1 / 2006.  


———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Kamis, 2 Maret 2006/1 Safar 1427H

Print Friendly