Ummu Zufar al-Habasyiyyah; Ia Meraih Jannah dengan Kesabaran

Jannah atau surga, merupakan sebuah tempat yang sarat dengan kenikmatan. Jannah menjadi idaman setiap orang yang beriman. Kenikmatan di jannah tak pernah terbetik dalam hati manusia, belum pernah terdengar oleh telinga, dan pandangan mata pun tak pernah menikmatinya. Kenikmatannya tak terjangkau oleh indera manusia yang terbatas. Akan tetapi, keberadaannya merupakan haqqun (sebuah kebenaran). Rasulullah menceritakan tentang jannah:

Di dalamnya (jannah) terdapat sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik di hati manusia.

Selanjutnya, beliau membaca ayat:

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Qs as-Sajdah/32:17).

Dalam beberapa hadits, Rasulullah telah memberitahukan sejumlah penghuni surga dari kalangan sahabat, saat mereka masih hidup. Nas’alullah min fadhlihi wa karamihi. Di antara sahabat yang memperoleh kebahagiaan itu ialah Ummu Zufar al-Habasyiyyah. Dahulu, Ummu Zufar sebagai maasyithah (tukang sisir rambut) Khadijah.

 

Allah memberikan usia panjang bagi sahabat wanita ini. Bisa dibuktikan dari seorang Tabi’in, bernama ‘Atha’ bin Abi Rabah yang sempat menjumpai calon penghuni syurga ini berjalan di atas bumi. Tepatnya di Masjidil-Haram, yaitu saat Ummu Zufar berada di tangga Ka’bah.

Berdasarkan keterangan hadits, ketika berada di Masjidil-Haram, Ibnu ‘Abbas menawarkan sesuatu kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah.
Ibnu ‘Abbas bertanya, “Maukah engkau aku perlihatkan seorang wanita yang termasuk penghuni surga?”
‘Atha’ menjawab, “Iya, mau.”
Ibnu ‘Abbas menceritakan:
Wanita yang berkulit hitam ini, dulu mendatangi Rasulullah sembari berkata:

“Aku terkena penyakit ayan. Aku khawatir auratku tersingkap karenanya. Tolong berdoalah untuk kebaikanku.”

Rasulullah (kala itu) menjawab:

“Kalau engkau mau, bersabarlah saja (dengan penyakit itu), maka engkau akan memperoleh surga. Kalau tidak, aku akan berdoa kepada Allah supaya menyembuhkanmu.”

Ia menyahut:

“Saya mau bersabar saja. (Tetapi) aku khawatir auratku terlihat (oleh manusia). Karena itu, berdoalah kepada Allah supaya auratku tidak tersingkap,”

Kemudian Rasulullah berdoa untuk memenuhi permintaan yang ia perlukan itu (HR al-Bukhari, hadits n.5652. Lihat Fat-hul-Bari, 13/23).

Demikian, salah satu bentuk kesabaran seorang sahabat, sehingga membuahkan surga. Dan dari kisah Ummu Zufar al-Habasyiyyah ini, dapat diambil beberapa pelajaran (Fat-hul-Bari, 13/25).

  • Keutamaan seseorang yang terkena penyakin ayan, bila ia bersabar.
  • Kesabaran menghadapi musibah dan malapetaka di dunia dapat mendatangkan jannah
  • Mengambil keputusan yang berat lebih afdhal (utama) daripada memilih rukhsah bagi seorang yang mengetahui dirinya mampu untuk melakukannya dan tidak lemah (malas).
  • Hadits atau riwayat ini juga mengandung dasar (dalil) diperbolehkan tidak berobat bagi seseorang yang sakit
  • Pengobatan sesuatu penyakit dengan doa dan iltija-ilallah (bersimpuh di hadapan Allah) itu akan bisa berdaya-guna jika dengan dua syarat. Pertama, syarat dari sisi penderita, yaitu ia harus shidqul qashdi (memiliki kebersihan dan keyakinan hati). Kedua, dari sisi therapis, yaitu kekuatan tawajjuh dan keteguhan hatinya dengan takwa dan tawakkal. Wallahu a’lam

Kisah ini juga berisi seruan untuk para wanita yang senang memperlihatkan aurat dan menyingkap pesona fisiknya di hadapan kaum lelaki, agar bercermin dengan keteguhan dan kesabaran Ummu Zufar al-Habasyiyyah. Meskipun dalam keadaan yang sangat mungkin ia tak sadar karena penyakitnya, namun ia berharap auratnya tetap terjaga. Sedangkan para wanita senang tabarrju itu berbuat sebaliknya, padahal Allah telah memberinya anugerah keselamatan jasmani dan kesehatan tubuh. Kisah ini mengajak kaum wanita pada umumnya untuk bertaubat kepada Allah al-Ghafurur-Rahim al-‘Azizu Dzun tiqam. (Abu Minhal)

Maraji’:

  1. Durus min Hayatish-Shahabiyyat, Dr. ‘Abdul Hamid bin ‘Abdir-Rahman as-Suhaibani, Madarul-Wathan, Cetakan I, Tahun 1424 H, halaman 79-82.
  2. Fat-hul-Bari bi Syarhi Shahihil-Bukhari, al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajr al-‘Asqalani (774-852 H), Ta’liq: Syaikh ‘Abdur-Rahman bin Nashir al-Barrak, Dar Thaibah, Cetakan I, Tahun 1426 H/2005M.

Tulisan ini disadur dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Thn. XI/1429H/2008M

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Kamis,14 Maret 2013/2 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly