Sejahat-jahatnya Pencuri

 

Banyak orang berang ketika menemukan seorang pencuri baik skala kecil macam mencuri sandal di masjid, dompet, ayam tetangga ataupun skala besar seperti mencuri kendaraan bermotor, uang ratusan juta rupiah dan lain-lainnya. Acara “gebuk ramai” dan “bogem mentah”pun rasanya belum cukup untuk melampiaskan kekesalan atas apa yang dilakukan para pencuri itu sebelum di gelandang ke kantor polisi. 

 

 

 

Sebenarnya ada satu tindak pencurian yang digolongkan dalam kategori sejahat-jahatnya pencuri bahkan pelakunya apabila mati dalam keadaan demikian maka ia berada di luar islam anehnya para pelakunya banyak yang tidak menyadari hal ini padahal perkara ini lebih penting dan vital bagi masa depan mereka di hari akhir. Begitupula orang yang menjumpai saudaranya melakukan kejahatan pencurian terbesar inipun diam saja diantara mereka ada yang tidak tahu atau boleh jadi tahu akan tetapi segan untuk menegurnya,..waah bahaya kan??Kejahatan ini mudah kok kita temukan, coba anda datang ke masjid maka dengan sekejap mata akan anda temui modus kejahatan ini. Kok di masjid??

 

 

Ya,…karena sebagian besar kaum muslimin dan muslimah yang sedang shalat di masjid banyak yang tidak khusyu’ dan tukmaninah dalam shalatnya. Dan, ini ditemukan hampir di sebagian besar masjid kita. Banyak diantara mereka yang shalat “instan’/ekspres macam makanan siap saji. Padahal mereka sedang bermunajat pada Rabb mereka. Rajanya para raja. Akan tetapi macam orang yang terburu-buru seakan-akan takut ketinggalan kereta atau bis saja. Wajarlah bila Rasulullah junjungan kita yang mulia mengatakan orang yang tidak tukmaninah dalam shalatnya di golongkan dalam sejahat-jahatnya pencuri, coba anda simak hadits berikut ini:

 

Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”, mereka bertanya: “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Beliau menjawab: “(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” 

 

 (Hadits riwayat Imam Ahmad, 5/ 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no: 997).

 

 

 

Bahkan tidak sah shalat mereka karena tidak tukmaninah berarti mereka harus mengulangi lagi shalatnya.

 

“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud “

 

(Hadits riwayat Abu Daud; 1/ 533, dalam shahihul jami’, hadits; No: 7224).

 

Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran, pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya.Dan, lebih bahayanya lagi orang yang sedang mencuri dalam shalatnya ini apabila ia mati dalam keadaan demikian maka ia berada di luar milah Muhammad.Abu Abdillah Al Asy’ari t berkata: “(suatu ketika) Rasulullah  shalat bersama shahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk masjid dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk maka Rasulullah barsabda: “Apakah kalian menyaksikan orang ini? barang siapa meninggal dunia dalam keadaan seperti ini (shalatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya

 

(Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya: 1/ 332, lihat pula shifatus shalatin Nabi, Oleh Al Albani hal: 152-153).

 

Sangat mengerikan sekali kan?? Padahal secara zahir kita lihat ia sedang melakukan amal shalih kebajikan yaitu shalat, ternyata amal kebajikan ini tidak bernilai dan tidak mendatangkan manfaat apapun di sisi Allah azza wajalla karena orang yang shalat dalam keadaan demikian berarti ia tidak memenuhi hak Rabb-nya, bersikap curang, korupsi waktu karena berusaha mengerjakkan shalat dalam waktu yang cepat  dan sesingkat-singkatnya. Semoga Allah memperbaiki keadaan kita dan kaum muslimin semuanya.amin.

 

23/8/06 Nassim, Riyadh, KSA.


———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Rabu,23 Agustus 2006/28 Rajab 1427H

Print Friendly