7 Faedah Seputar Penguasa

Rakyat Meniru Penguasa

Ibnu Jarir mengutip perkataan Ali bin Muhammad al-Madini yang mengatakan, “Al-Walid bin Abdul Malik menurut pandangan penduduk Syam adalah penguasa mereka yang terbaik. Beliaulah yang membangun berbagai masjid di kota Damaskus, membangun berbagai menara, memberi rakyat yang perlu bantuan finansial, dan menggaji bulanan para pengidap penyakit lepra dan berkata kepada mereka, “Janganlah kalian mengemis.” Beliau memberikan kepada setiap orang yang lumpuh pelayan dan kepada setiap orang yang buta penuntut.

Ketika berkuasa beliau menaklukkan banyak negeri-negeri kafir. Beliau kirimkan semua anak laki-lakinya dalam setiap peperangan dengan Romawi. Beliau berhasil menaklukkan India, Spanyol, dan berbagai negeri non-Arab. Pasukan beliau bahkan sudah memasuki Cina dan selainnya.

Meski demikian, suatu ketika beliau melewati penjual sayur-mayur lantas beliau mengambil satu ikat sayuran dengan tangannya lalu bertanya kepada penjual, “Berapa harganya?” “Satu fulus,” jawab sang penjual sayur. Beliau kemudian mengatakan, “Tambahi sayurannya karena engkau terlalu untung dengan harga tersebut.”

Para pakar sejarah mengatakan bahwa obsesi al-Walid bin Abdul Malik adalah membangun, demikian juga dengan rakyatnya. Jika ada seseorang bertemu kawannya, maka pertanyaan yang terlontar, “Apa yang telah kau bangun saat ini? Kau makmurkan dengan bangunan apa tanah yang kau miliki?”

Sedangkan obsesi saudaranya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik adalah perempuan sehingga rakyatnya pun demikian. Jika ada seseorang bertemu dengan kawannya maka yang pertama kali ditanyakan, “Berapa kali engkau menikah? Berapa budak perempuan yang kau gauli?”

Banyak orang mengatakan, “Rakyat itu mengiktui agama atau ketaatan penguasanya. Jika sang penguasa hobi menenggak khamar, maka akan banyak kamar yang beredar di masyarakat.”

Jika penguasa memiliki penyimpangan seksual berupa homoseksual maka kondisi rakyat juga demikian. Jika penguasa itu pelit dan rakus dengan harta maka kondisi rakyat juga demikian. Namun, jika penguasa dermawan dan berjiwa sosial tinggi maka kondisi rakyat juga serupa. Jika penguasanya rakus dan suka bertindak kezhaliman maka kondisi rakyat juga demikian.

Jika penguasa adalah seorang yang bagus agama, bertakwa, suka berbuat baik, maka kondisi rakyat juga demikian. Pengaruh penguasa semacam ini dijumpai pada sebagian masa pada sebagian person penguasa tertentu. (Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir 9:186)

Murji’ah dan Penguasa

Berbagai aliran sesat disampaikan kepada Raqbah bin Mashqalah. Beliau lantas berkomentar, “Rafidhah adalah orang-orang yang menjadikan kebohongan sebagai dalil. Sedangkan Murjiah itu mengikuti agama (mayoritas) para penguasa. Kukira Zaidiyyah adalah aliran sesat buatan perempuan (karena begitu rusaknya pen.) Tentang Mu’tazilah, demi Allah, dalam pandanganku tidaklah aku pergi ke kebunku lalu pulang ke rumah melainkan mereka, orang-orang itu Mu’tazilah, telah bertaubat dari keyakinan sesat mereka (karena demikian jelas kesesatannya pen.).”

Mencegah Munculnya Hajaj dengan Takwa

Diriwayatkan oleh ad-Dainawari dalam kitabnya, al-Mujasalah no. 2433 dari al-Hasan al-Bashri ketika Hajjaj bin Yusuf masih berkuasa beliau berkata, “Bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah memiliki banyak Hajjaj (baca: penguasa yang zhalim seperti Hajjaj).”

Masuk Surga Karena Taat Penguasa

Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsipa yang menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun lantas menegakkan shalat, membayar zakat, dan mendengar serta taat kepada penguasa (selama tidak dalam kemaksiatan, pen.) maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga itu memiliki delapan pintu. Namun, siapa saja yang beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya, dengan sesuatu apa pun dan menegakkan shalat, membayar zakat, mendengarkan aturan penguasa tetapi mendurhakainya, maka urusannya terserah Allah antara menyayanginya ataukah menyiksanya.” (HR. Ahmad no. 22820, sanadnya dinilai hasan oleh Syu’aib al-Arnauth)

Meminta Jabatan

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Sebagian ulama merinci hukum meminta jabatan. Mereka mengatakan, ‘Jika seorang itu meminta jabatan untuk memperbaiki kondisi yang rusak, maka hukumya boleh jika dia yakin bahwa dirinya mampu melakukannya. Jika dia tidak yakin maka tidak boleh. Karena yang paling selamat bagi seseorang adalah menyelematkan diri sendiri sebelum yang lain’.”

Pendapat yang merinci inilah pendapat yang benar. Dengan pendapat ini semua dalil yang ada bisa dikompromikan. Jika seorang –misalnya- melihat bahwa pemegang suatu jabatan adalah orang yang tidak kapabel untuk memegangnya, boleh jadi yang bermasalah pada diri orang tersebut adalah kualitas agamanya, tidak amanah dalam menjalankan tugas, atau berbagai kebijakannya ternyata tidak bijak, dan dia yakin memiliki kemampuan untuk memegang jabatan tersebut dengan lebih baik atau minimal lebih baik daripada sebelumnya maka tidak mengapa hukumnya meminta jabatan karena tendensinya adalah bekerja dan memperbaiki kondisi bukan memuaskan kepentingan pribadi.

Namun, jika alasan untuk meminta jabatan atau seorang itu mengetahui bahwa dirinya itu tidak mampu menjalankan jabatan tersebut dengan baik, maka dia tidak boleh meminta jabatan.”

Kerabat Penguasa Lebih Berat Hukumnya

Dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu bercerita bahwa jika Khalifah Umar bin al Khaththab radhiallahu ‘anhu melarang rakyatnya melakukan suatu hal, maka beliau menemui keluarganya, beliau mengatakan, “Aku mengeluarkan larangan demikian dan demikian dan rakyat itu memandang kalian sebagaimana burung memandang daging (baca: mencari-cari kesempatan).

Jika kalian menerjang larangan penguasa, maka mereka juga akan menerjangnya. Jika kalian takut untuk melanggar larangan, maka mereka pun akan takut. Demi Allah, tidaklah ada di antara kalian yang dibawa ke hadapanku karena melanggar salah satu laranganku yang telah kuumumkan kepada masyarakat kecuali aku akan melipatgandakan hukuman untuknya karena mengingat kedekatannya dengan diriku. Siapa yang mau mendapatkan hukuman tersebut, maka silakan dan siapa yang tidak maka juga silakan.” (Mushannaf Abdurrazzaq no. 20713)

Urgensi Dekat dengan Penguasa

Dr. Sa’id bin Musfir al-Qahthani mengatakan, “Pada saat kendali aliran Mu’tazilah berada di tangan Bisyr bin Ghyiyats al-Marisi dan Ahmad bin Abi Duad. Melalui keduanya, aliran Mu’tazilah memiliki dimensi politik. Keduanya bisa meyakinkan Khalifah al-Ma’mun –yang sebenarnya juga sudah sangat terpengaruh dengan pemikiran Mu’tazilah.

Sang Khalifah lantas mengadopsi aqidah bahwa Alquran itu makhluk dan dia paksa kaum muslimin untuk menganut keyakinan ini. Sang Khalifah pun membuat permusuhan sengit terhadap para ulama Ahli Sunnah dengan memaksa mereka untuk meyakini bahwa Alquran itu makhluk. Sehingga para ulama Ahli Sunnah mendapatkan gangguan keras dan intimidasi berupa dipukul, dipenjara, dan dibunuh. Suatu kejadian yang tiada bandingnya dalam sejarah umat Islam.

Kejadian ini tidak akan terjadi seandainya para ulama Ahli Sunnah yang terlebih dahulu mengambil hati sang Khalifah dengan meyakinkan untuk menerima kebenaran dan mendorongnya untuk menghadang aliran sesat, memeranginya, dan menumpas orang-orang yang memeluknya sebagaimana yang terjadi pada Ja’d bin Dirham dan al-Jahm bin Sofyan. Namun,kecerdikan Bisyr al-Marisi dan Ibnu Abi Duad dan upaya mereka untuk mengambil simpati Khalifah al-Ma’mun dan memanfaatkan kekuasaannya untuk menyebarkan aliran sesat yang dia peluk dan memaksa banyak orang untuk memeluknya menyebabkan terjadinya bencana yang menimpa umat Islam dan para ulamanya.

Kejadian ini hendaknya diambil peajarannya oleh para da’i di zaman ini dan di sepanjang zaman dengan membangun hubungan komunikasi dan saling menasihati yang baik serta menghilangkan jurang pemisah antara para da’i dengan penguasa yang senagaja dibuat oleh para musuh agama ini.

Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 8 Tahun Ke-11 1433 H

Artikel

———-
Sumber: YUFIDIA – www.yufidia.com – Kamis,26 Juni 2014/27 Sya’ban 1435H

Print Friendly