Adab Menjenguk dan Menemani Orang Sakit (bagian 3)

 

1. Jenguklah orang sakit sekalipun ia tidak menyadari kedatangan kita.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk Jabir bin ‘Abdillah yang sedang pingsan.

 

Diriwayatkan darinya bahwa ia berkata, “Aku sakit, lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar menjengukku. Mereka berdua berjalan kaki dan mendapatiku sedang pingsan. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwudhu’ dan menuangkan air bekas wudhu’nya kepadaku. Maka aku pun siuman…”1

2. Mengajarkan ucapan syahadat bagi orang yang sedang sakit, saat ajal menjemput, lalu menutup matanya dan berdo’a baginya jika telah meninggal dunia.2

Jika jelas-jelas orang yang sakit itu sedang menghadapi sakaratul maut, maka hendaklah ia di-talqin3 (dibimbing dan diajarkan) kalimatul ikhlaash (kalimat tauhid). Yang harus di-talqiin-kan kepada seseorang yang sedang sakaratul mau adalah ucapan kalimat:

‘Laa ilaaha illaallaah’ (Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah)

Ingatkanlah terus kalimat itu, dan sebut-sebutlah hingga orang yang di-talqiin tersebut telah mengucapkannya, maka pen-talqiin-an harus dihentikan.

 

Dan apabila orang yang di-talqiin itu mengucapkan kalimat lain selain kalimat tauhid, maka pen-talqiin-an harus diulangi, dengan harapan bahwa kalimat terakhir yang diucapkannya adalah kalimat “Laa ilaaha illaallaah”, dan semoga ia masuk Surga. Hal-hal di atas berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Bimbinglah orang-orang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian untuk mengucapkan: ‘Laa ilaaha illaallaah’”4

 

Dan berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang akhir perkataannya kalimat Laa ilaaha illaallaah, pasti masuk Surga.”5

 

Orang yang sedang menghadapi kematian dianjurkan untuk dihadapkan ke arah Kiblat, yakni berbaring miring dengan lambung badannya sebelah kanan. Hal ini berdasarkan hadits dan atsar yang menjelaskannya. Jika tidak mungkin maka ditelentangkan dengan posisi kedua kakinya di arah Kiblat. Jika ruh seorang muslim sudah berpisah dari badannya, maka disunnahkan untuk memejamkan kedua matanya, ditutup dengan kain dan tidak dikatakan di sisinya kecuali kebaikan. Berdo’alah:

‘Allahummaghfirlahu, Allahummarhamhu’ (Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.)

 

Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau melawat Abu Salamah yang meninggal dunia. Ketika itu mata Abu Salamah terbelalak, maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun memejamkannya. Kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya jika ruh seseorang dicabut, maka pandangan matanya akan mengikuti ruh tersebut.”6

 

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Bukhari, kitab al-Mardhaa, bab ‘Iyaadatul Mughmaa ‘alaih.

2 Dari As-ilah wa Ajwibah ‘an Ahkaamil Janaazah, karya ‘Abdullah al-Qar’awi

3 Makna talqiin adalah: Seseorang mengucapkan sesuatu, lalu orang lain mengikuti ucapan tersebut.

4 HR. Muslim dan al-Arba;ah (imam-imam ahli hadits yang empat, yang menyusun kitab Sunan, yaitu Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-I, Ibnu Majah).

5 HR. Abu Dawud dan al-Hakim. Al-Hakim menshahihkannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

6 HR. Muslim, kitab al-Janaa-iz, bab Ighmaadhil Mayyit wad du’a-I lahu idzaa hudhira.

 


———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Senin, 3 Pebruari 2014/2 Rabiul Akhir 1435H

Print Friendly