Apakah Menjelaskan Kesalahan Hanya Akan Melemahkan Iman Dan Mengereskan Hati?

 

APAKAH MENJELASKAN KESALAHAN HANYA AKAN MELEMAHKAN IMAN DAN MENGERASKAN HATI

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah

| | |

Pertanyaan: Sebagian ikhwah ada yang mengatakan bahwa membicarakan kelompok-kelompok Islam dan perkara-perkara yang diperselisihkan serta membicarakan kesalahan para ulama, semua ini akan melemahkan iman, menyebabkan kehinaan terhadap pelakunya, mengurangi ibadah, serta akan mengakibatkan tertimpa kekerasan hati.

Jawaban:

Sesungguhnya perkaranya memang demikian jika orang yang berbicara memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dan karena hawa nafsu.

Adapun jika dia melakukannya dalam rangka nasehat bagi kaum Muslimin dan memperingatkan mereka agar tidak terjatuh pada keburukan, bid’ah, dan kesesatan, maka sesungguhnya ini merupakan perkara yang wajib berdasarkan ijma’ kaum Muslimin. Dan memperingatkan terhadap bahaya bid’ah dan kesesatan termasuk kewajiban yang paling agung. Dan para ulama belum teranggap melaksanakan nasehat dengan semestinya dan tidak pula menegakkan kewajiban mendakwahkan agama Allah serta kewajiban menyampaikan risalah Islam, kecuali jika mereka menyuguhkan Islam dalam keadaan yang murni dan bersih, seperti yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi was sallam kepada para Shahabat radhiyallahu anhum dalam keadaan di atas jalan yang putih di mana tidaklah seseorang menyimpang darinya kecuali dia pasti akan binasa. Juga dengan mensucikan syariat ini dari semua hal yang mengotorinya berupa hawa nafsu manusia, kesesatan, dan penyimpangan mereka. Sama saja apakah semua itu dalam perkara-perkara akidah, atau ibadah, atau amal.

Hanya saja wajib atas pihak yang menasehati dan memperingatkan untuk ikhlash karena mengharapkan wajah Allah, dalam rangka menasehati ummat serta memperingatkan mereka dari hal-hal yang membahayakan dunia dan akherat mereka.

Adapun jika dia berbicara karena kepentingan-kepentingan pribadi dan hawa nafsu, seandainya dia menghabiskan malam untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengerjakan shalat dan menangis, namun dia riya’, maka sesungguhnya hal ini termasuk amal yang paling buruk di sisi Allah Azza wa Jalla. Walaupun dia membaca Al-Qur’an dan menangis di hadapan manusia, membaca hadits dan menangis di hadapan manusia dan dia tidak memiliki tujuan kecuali agar dikatakan: “Si fulan qari’, si fulan seorang dai, si fulan seorang khathib…” Maka itu semua jelas termasuk hal-hal yang akan mengeraskan hati dan akan menyebabkan kemurkaan Allah.

Inti dari perkataaan ini adalah bahwasanya orang yang berbicara dan menyampaikan nasehat jika dengan nasehatnya itu dia mengharapkan wajah Allah Tabaraka wa Ta’ala dan dalam rangka memperingatkan kaum Muslimin, maka ini insya Allah termasuk perkara-perkara yang menambah keimanan, karena membantah ahli bid’ah merupakan jihad, dan membela sunnah Rasulullah shallallahu alaihi was sallam lebij utama dibandingkan berjihad dengan menebaskan pedang. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam dan Yahya bin Yahya At-Tamimy rahimahullah. Dan ini teranggap termasuk jenis jihad yang dilakukan oleh para rasul –alaihimus shalatu was salam- dalam menyampaikan dakwah agama Allah serta memberikan nasehat-nasehat yang menunjukkan manusia kepada manhaj Allah yang benar.

Sumber artikel:
Kasyfus Sitaar, hal. 51-52

Alih bahasa: Abu Almass –syafahullah–
Ahad, 3 Sya’ban 1435 H

———-
Sumber: Forum Salafy – www.forumsalafy.net – Senin, 2 Juni 2014/3 Sya’ban 1435H

Print Friendly