Nabi Berharap Seluruh Umatnya Selamat dan Mendapat Hidayah

Allah telah mengabarkan bahwa Nabi Muhammad, sangat antusias agar umat mendapatkan hidayah. Hal ini tidak perlu diragukan lagi, sebab beliau, seperti yang diceritakan alQuran:

Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Qs at Taubah: 124)

Kisah berikut ini sangat mewakili tentang harapan besar Nabi agar Allah berkenan memberi petunjuk umatnya. Melalui pertanyaan sang istri, Ummul Mukminin ‘Aisyah, terucap dari bibir beliau bahwa kepulangan dari dakwah di kota Thaif -sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah- merupakan kejadian yang sangat berat dan sulit setelah kekalahan yang dialami kaum Muslimin di perang Uhud.

Selama sepuluh hari berada di Thaif, beliau menawarkan Islam kepada para tokoh di sana, di antaranya Ibnu Abdi Ya Lail bin Abdi Kulal. Beliau mengadukan kepada mereka sikap kaum Quraisy yang buruk terhadap dakwah Islam. Namun respon mereka tidak berbeda dengan apa yang diperbuat kaum Quraisy terhadap Nabi. Bahkan lebih buruk.

Sangking terpengaruhnya dengan keadaan yang tidak mengenakkan dan keprihatinan yang besar, Nabi sampai tidak sadarkan diri. Begitu siuman dan mengangkat kepala, tiba-tiba awan terlihat menaungi beliau: “Allah telah mendengar komentar dan respon kaummu terhadap (dakwah)mu. Dia telah mengutus satu malaikat penjaga gunung untuk engkau perintah apa saja berkenaan dengan mereka.

Malaikat penjaga gunung memanggilku sembari berkata: “Wahai Muhammad, kalau engkau ingin agar aku tubrukkan gunung Akhsyabain di atas mereka, maka akan kulakukan.

Akhsyabain adalah dua buah gunung besar di kota Mekkah, gunung Abu Qubaais dan gunung Ahmar (merah). Disebut sebagai Akhsyabain karena kekokohan dan kekerasan bebatuannya.

Nabi yang sangat kasih dan sayang terhadap umatnya, ternyata malah berharap: “Justru aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun.” (HR. al-Bukhari no:3231)

Allah merealisasikan harapan Nabi dengan memunculkan dari keturunan mereka, sekian banyak sahabat yang masuk Islam, sementara orang tua dan kakek-kakek mereka mati dalam kekufuran.

‘Ikrimah bin Abi Jahal, masuk Islam, sementara ayahnya Abu Jahal tokoh besar kaum musyrik dalam memerangi Islam. Khalid bin Walid, ayahnya Walid bin Mughirah, pembesar kaum Quraisy yang menentang Islam. Demikian pula, Shafwan bin Umayyah bin Khalf, bapaknya termasuk yang sering menyiksa kaum Muslimin di Mekkah. Ia tewas di perang Badar dalam kekafirannya. Sedangkan sang anak, akhirnya masuk Islam pada penaklukan kota Mekkah dan ikut serta peperangan Yarmuk. Hindun binti ‘Uqbah bin Rabi’ah, ayahnya terhitung sebagai toko suku Quraisy. Ia melawan kaum muslimin di perang Badar mati-matian dan akhirnya tewas. Sedangkan sang putri akhirnya masuk Islam setelah penaklukan kota Mekkah. Wallahu a’lam

Dari Baituna, Majalah As-Sunnah Edisi 03/Thn. XIV, Jumadil Tsani 1431 H/ Juni 2010 M

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Selasa,13 Agustus 2013/6 Syawal 1434H

Print Friendly