Bagaimana Pendahulu Kita Menyambut Puasa

Keagungan bulan Ramadhan sungguh telah tertanam kuat pada dada-dada kaum mukminin, Bulan yang penuh dengan berkah, rahmat dan kemuliaan ini senantiasa menjadi penantian bagi orang-orang yang ingin menggapai keridhaan Allah. Dan mereka pun menjadi bersedih ketika hendak berpisah dengan bulan yang mulia ini.

Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena mereka benar-benar memiliki pengetahuan dan keyakinan yang kuat atas berbagai keutamaan yang ada dalam bulan mulia ini. Sehingga kita juga memiliki pengetahuan dan keyakinan yang benar mengenai keutamaan-keutamaan itu, disertai dengan sebagian contoh teladan yang kita baca dari para pendahulu kita, maka mudah-mudahan kita bisa meniru dan meneladani mereka dalam bergembira menyambut Ramadhan dan dalam memanfaatkan sela-sela waktu Ramadhan yang benuh dengan keberkahan.

Keagungan dan Kemuliaan Bulan Ramadhan

Dalam hitungan satu tahun, Allah memiliki dua belas bulan yang sebahagiannya memiliki keutamaan lebih besar dari bulan yang lain. Allah berfirman,

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang emapt itu”. (at-Taubah: 36)

Pada ayat ini, empat bulan yang lebih diutamakan oleh Allah selain bulan Ramadhan adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia dibandingkan seluruh bulan yang ada di bulan inilah Allah menurunkan al-Qur’an dan di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.

Allah berfirman,

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (al-Baqarah: 185)

Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukan kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (al-Qadr:1-3)

Maka pantaslah jika Allah memberikan banyak rahmat, ampunan dan berkah dalam bulan yang mulia ini. Sehingga pahala amal kebaikan dilipatgandakan, dibuka pintu-pintu surga, dan ditutup pintu-pintu neraka.

Rasulullah bersabda,

“Jika masuk malam pertama bulan Ramadhan, maka setan-setan dan para jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak ada satu pun darinya yang dibuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak ada satu pun darinya yang ditutup. Seorang penyeru berseru, wahai pencari kebaikan datanglah, wahai pencari keburukan berhentilah. Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, dan hal ini pada setiap malamnya (di bulan Ramadhan)”1

Keutamaan Amalan di Bulan Ramadhan

Alangkah mulia dan agungnya bulan Ramadhan! Belum lagi pahala-pahala amalan yang Allah anugerahkan bagi hamba-Nya pada bulan Ramadhan ini, seperti puasa, baca Al-Qur’an, shalat malam, dan amalan-amalan kebaikan lainnya.

Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa shalat pada malam lailatur qadr karena keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq’ alaih)

Beliau juga bersabda,

“Barangsiapa shalat pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq’ alaih)

Ibnu Abbas pernah menuturkan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi ketika Ramadhan, ketika Jibril menemui beliau. Dan Jibril ‘alaihi salam selalu menemui beliau pada setiap malam bulan Ramadhan untuk mengulang-ulang bacaan al-Quran bersama beliau. Maka sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang bertiup.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah juga bersabda,

“Barangsiapa memberi makan buka orang yang berpuasa, maka dia mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa. Hanya saja dia tidak mengurangi pada orang yang berpuasa sedikit pun”2

Sungguh hadits-hadits di atas dan yang semisalnya akan bisa menggugah hati orang-orang yang beriman untuk berusaha melakukan berbagai amal kebaikan dan ketakutan di bulan Ramadhan, dan juga untuk mencintai bulan yang mulia ini.

Sebelum Datangnya Bulan Mulia

Para salaf (pendahulu umat Islam) terdahulu, sebagian mereka merasakan kesedihan yang mendalam ketika berpisah dengan bulan Ramadhan. Kesedihan yang disertai dengan kekhawatiran dan harapan. Sedih karena waktu mulia, kesempatan besar untuk menggapai keridhaan Allah dan menambah pahala telah berlalu. Khawatir akan ditolaknya amalan-amalan yang telah mereka lakukan selama Ramadhan. Dan mereka berharap, semoga Allah menerima amalan mereka dan mengampuni dosa dan kekurangan mereka.

Setelah Ramadhan berlalu, mereka pun menjadikan waktu-waktu yang mereka lalui untuk berdoa kepada Allah berkenaan dengan bulan Ramadhan ini. Di antara doa yang mereka ucapkan, adalah apa yang diucapkan oleh Yahya bin Abi Katsir, “Ya Allah, sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan, sampaikanlah bulan Ramadhan kepada kami, dan terimalah amalan-amalan kami.”

Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat cinta terhadap bulan Ramadhan, dan mereka senantiasa menunggu-nunggu datangnya bulan mulia ini.

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Menjumpai bulan Ramadhan dan berpuasa padanya, adalah suatu kenikmatan yang sangat besar bagi orang yang Allah beri kemampuan padanya. Hal ini ditunjukkan oleh hadits tentang tiga orang. Dua di antara tiga orang itu mati syahid, kemudian setelah itu orang yang ketiga mati di atas tempat tidurnya. Maka orang yang ketiga ini dilihat dalam sebuah mimpi bahwa dia mendahului dua orang yang mati syahid…”3

Barangkali hadits yang beliau maksudkan adalah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwa ada dua orang yang masuk Islam bersamaan. Dan salah satu dari keduanya memiliki kesungguhan yang lebih kuat dibanding yang lain. Maka orang ini berangkat perang sehingga mati syahid. Sedangkan satunya masih tetap hidup sepeninggalnya selama satu tahun, kemudian meninggal dunia. Thalhah berkata, aku bermimpi, ketika aku berada di pintu surga ternyata ada dua orang tadi, lalu ada seseorang yang keluar dari dalam surga dan mengizinkan orang yang meninggal dunia belakangan. Kemudian keluar lagi dan mengizinkan orang yang mati syahid. Kemudian dia kembali kepadaku dan berkata, belum saatnya untukmu. Pada pagi harinya, Thalhah menceritakan mimpina kepada orang-orang sehingga mereka pun heran dan sampailah berita itu kepada Rasulullah. Maka Rasulullah bertanya kepada mereka, “Kenapa kalian merasa heran?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, orang yang pertama memiliki kesungguhan lebih kemudia dia mati syahid, tapi kenapa orang yang meninggal belakangan masuk surga sebelumnya?” Maka Rasulullah menjawab, “Bukankah dia hidup sepeninggalnya selama satu tahun dan mendapati Ramadhan lalu dia puasa dan shalat ini dan itu selama satu tahun? Maka jarak antara keduanya lebih jauh dari pada jarak antara langit dan bumi.” 4

Maka wajarlah jika sebagian salaf berdoa dengan doa sebagaimana yang disebutkan dari Yahya bin Abi Katsir di atas.

Tunaikan Hutang Puasa

Di antara perkara yang hendaknya dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan, hendaknya setiap muslim yang memiliki hutang puasa Ramadhan untuk membayarnya, menunaikan puasa itu sebelum datang bulan Ramadhan berikutnya. Dan hendaknya setiap muslim yang memiliki hutang puasa Ramadhan berusah sesegera mungkin untuk memenuhinya.

Aisyah berkata.

“Dahulu aku memiliki hutang puasa Ramadhan. Akan tetapi aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (Muttafaq ‘alaih)

Imam Nawawi dalam keterangannya terhadap hadits ini menjelaskan bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa disukai menyegerakan qadha puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian. Jika seseorang mengakhirkannya sampai menjelang datangnya Ramadhan berikutnya maka wajib baginya untuk berniat untuk melakukannya, menurut pendapat yang benar dari para ahlu tahqiq dari kalangan fuqaha dan ahli ushul. 5

Jelas bahwa menyegerakan qadha puasa Ramadhan tentu lebih utama daripada mengakhirkannya meskipun dibolehkan. Karena, hal ini sesuai dengan keumuman dalil yang memerintahkan kita untuk bersegera dalam amal kebaikan dan tidak menunda-nundanya. Dalil atas hal ini adalah firman Allah,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Ali ‘Imran:133)

Dan firmanNya,

“Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (al-Mukminun: 61)6

Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa mereka (para ulama) sepakat seandainya seseorang yang memiliki hutang puasa meninggal dunia sebelum habisnya bulan Sya’ban, maka wajib membayar fidyah berupa makanan untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Hal ini jika dia telah memiliki kemampuan untuk meng-qadha tapi belum juga mengqadhanya. Adapun orang yang berbuka ketika Ramadhan karena suatu halangan, dan ketidakmampuannya untuk berpuasa itu terus berlanjut sehingga dia tidak mampu mengqadhanya sampai meninggal dunia, maka dia tidak wajib berpuasa, tidak pula membayar fidyah, dan tidak pula dipuasakan oleh orang lain.7

Jika sampai datang Ramadhan berikutnya tidak juga mengqadhanya puasa Ramadhan, padahal dia mampu mengqadhanya, maka dia tetap berkewajibab mengqadhanya setelah lewat Ramadhan tersebut dan dia berdosa karena mengakhirkan qadha sampai keluar dari waktunya. Namun jika memang ada halangan, maka dia tidak berdosa dan tetap wajib mengqadhanya. 8

Puasa Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban jatuh tepat sebelum bulan Ramadhan. Pada bulan ini ada salah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh Rasulullah, seperti yang disebutkan dalam hadits Aisyah berikut ini,

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurknakan puasa sebulan penuh kecuali pada Ramadhan. Dan aku tidak melihat baliau paling banyak berpuasa (dalam satu bulan) dibandingkan dengan puasa beliau pada bulan Sya’ban.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafaz,

“Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari pada puasanya yang lebih banyak dari pada puasanya pada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa Sya’ban kecuali beberapa hari saja.” (Riwayat Muslim)

al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini, adalah beliau sering berpuasa pada bulan Sya’ban dan yang lain. Dan puasa beliau pada bulan Sya’ban untuk puasa sunah, lebih banyak dari pada puasa beliau pada bulan yang lain.”9

Puasa beliau ini tidak bertentangan dengan larangan beliau dari puasa separuh akhir dari bulan Sya’ban. Larangan tersebut dari Rasulullah sebagaimana sabda beliau,

“Janganlah salah seorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari, kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa dengan puasanya, maka hendaknya dia berpuasa pada hari itu” (RIwayat al-Bukhari)

Beliau bersabda,

“Jika tinggal separuh dari bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa”10

Bergembira dengan Datangnya Ramadhan

Para pendahulu kita senantiasa menunggu-nunggu datangnya bulan Ramadhan, sehingga mereka pun berdoa kepada Allah agar diselamatkan sampai pada bulan Ramadhan berikutnya.

Maka nampaklah kegembiraan pada diri mereka ketika mereka mengetahui datangnya bulan Ramadhan. Persiapan menghadapi Ramadhan dan kegembiraan menyambutnya, termasuk salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah. Dan jika demikian, maka jelas hal ini merupakan salah satu tanda ketakwaan. Allah berfirman

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

Kaum mukminin semenjak dahulu senantiasa bergembira tatkala datang bulan mulai dengan memuji Allah dan bersyukur kepadanya, disertai niat dan tekad untuk berusaha memakmurkan bulan Ramadhan dengan ketaatan, kebaikan, dan meninggalkan berbagai keburukan dan maksiat. Kegembiraan ini timbuh karena anugerah dan rahmat dari Allah. Allah berfirman,

“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya intu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (Yunus: 58)

Maka, Rasulullah pun dalam menyambut bulan Ramadhan merasakan kegembiraan yang sangat, dan beliau juga menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah, tatkala datang bulan Ramadhan, maka Rasulullah berkata,

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian puasa padanya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsapa terhalang dari kebaikan malam itu berarti dia telah terhalangi.” 11

Oleh karena itu, hendaknya kita pun bergembira dan menyampaikan kabar gembira ini kepada sesama kaum muslimin, mengingatkan mereka akan keutamaan-keutamaan di bulan Ramadhan, amalan-amalan yang hendaknya dilakukan untuk menggapai berkah yang Allah tetapkan dalam bulan ini, sehingga kaum muslimin diharapkan dapat benar-benar mempersiapkan diri mereka.

Inilah penjelasan tentang bagaimana kita menyambut bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita. Dan hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang bisa memberikan taufik dan hidayah agar kita bisa memakmurkan bulan mulia, bulan penuh berkah. Wallahu a’lam

Catatan kaki:

1 Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 759

2 Riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, lihat Shahihul Jami’ no. 6415

3 Lihat kitab Ruhush Shiyam wa Ma’anini,
Dr. Abdul-aziz bin Mushthafa Kamil, hlm. 9

4 Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1316

5 Lihat Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim 8/23

6 Shifat Shaum an_nabi, Syekh Ali dan Syekh Salim, hlm. 74

7 Lihat Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim 8/23

8 Lihat asy-Syarhul Mumti’ 6/445-446

9Fathul Bari 4/214

10 Riwayat at-Tirmidzi dan dia mengatakan hadits hasan shahih tidak kami ketahui kecuali dari jalan ini. Dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih Ibnu Majah 1651

11 Diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasai, dishahihkan oleh al-Albani, lihat Shahihul Jami’ no. 55

Disadur dari artikel “Beginilah Pendahulu Kita Menyambut Ramadhan” dalam majalah Sakihan Volume 10, No.04. 15 Juli – 15 Agustus 2011/ Rajab-Sya’ban 1432 H.

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Jumat,27 Juni 2014/28 Sya’ban 1435H

Print Friendly