Elemen Kebahagiaan Suami Istri

Apa mungkin pasangan suami istri hidup dengan penuh kegembiraan, kebahagiaan, suka cita, dan ketentraman?

Jika hal itu mungkin, lalu apa hakikat kebahagiaan suami istri yang harus direalisasikan oleh pasangan suami istri itu? Kemudian apa elemen praktis, dan sebab-sebab syar’i yang bisa merealisasikan kebahagiaan suami istri tersebut?

Sesungguhnya kebahagiaan suami istri adalah satu tanda dari sekian tanda kekuasaan Allah, dan sebuah bukti dari sekian bukti kekuasaan-Nya. Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikit.” (QS. ar-Rum:21)

Ayat ini disebutkan dengan penyebutan anugerah dan keutamaan atas para hamba yang menunjukkan keberadaannya dan kemungkinan untuk mewujudkannya. Kebahagiaan suami istri, pada hakikatnya bermakna ketenangan jiwa dan kedamaian hati di dalam naungan keridhaan Allah, dan mengambil petunjuk dengan petunjuk beliau yang menjamin kehidupan rumah tangga yang bahagia. Sementara umat-uamt kafir dan orang yang menuju ke arahnya, saat kehilangan jalan rabbani ini dalam memenej kehidupan rumah tangga sesuai petunjuk Allah, mereka hidup susah dan sengsara. Berikut ini beberapa bukti statistik atas buruknya kehidupan yang jauh dari wahyu ilahi tersebut.

Dalam studi Amerika di tahun 1417 H (15 tahun yang lalu) terdapat 79% kaum lelaki Amerika yang memukuli istri mereka, 83% dari para istri yang dipukuli masuk rumah sakit untuk berobat dari bekas pukulan. Sebanyak 772 wanita dibunuh oleh suami-suami mereka, itu dalam kota Sawpauloa Brazil saja. Dikuatkan bahwa pernikahan pertama dari 43% orang-orang Amerika kandas dengan perceraian. Sebagaimana studi tersebut menguatkan bahwa 71% dari orang-orang Amerika yang membuat ikatan satu sama lain untuk hidup bersama (alias Samen Leven / Kumpul Kebo) sejak 1999 M ternyata mereka tidak menikah, karena keyakinan mereka bahwa pernikahan itu akan gagal. 85% dari pasangan suami istri di negara-negara barat berakhir dengan perceraian, dan jutaan kasus perceraian tiap tahunnya di Amerika (al-Manhaj al-Akhlaqiy, DR. Yahya Zamzani (hal.44))

Nash-nash syar’i telah menghimpun berbagai aturan dari berbagai arahan dan petunjuk yang bilamana pasangan suami istri berpegang teguh dengannya maka cukuplah bagi mereka sebuah kehidupan yang menyenangkan lagi penuh kasih sayang, yang hampir-hampir kejernihannya tidak pernah keruh sedikit pun dengan izin Allah. Di antara arahan-arahan tersebut adalah:

  1. Memilih teman hidup yang shalih dalam kehidupan suami istri
  2. Berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melihat kepada calon yang dilamar
  3. Istiqamah di atas perintah Allah
  4. Menunaikan hak-hak suami istri dari kedua pasangan tersebut.
  5. Memperhatikan tabiat masing-masing pasangan suami istri
  6. Menampakkan perasaan cinta dan kasih sayang
  7. Bersabar atas kesalahan dan kekurangan
  8. Saling berlemah lembut, bercanda, dan beramah tamah di antara suami istri
  9. Mengingat berbagai kebaikan saat terjadinya kesalahan, kemudian menimbangkan di antara keduanya.
  10. Bersungguh-sungguh berdo’a meminta kebahagiaan suami istri
  11. Berakhlak mulia
  12. Memasukkan kesenangan dan kegembiraan

Itulah beberapa cuplikan dari mutiara petunjuk Nabi sebagai seorang suami yang mulia, bahagia, lagi membahagiakan istri-istri beliau, dan ridha terhadap mereka. Jika pasangan suami ostri bersungguh-sungguh, serta menunaikan segala kewajiban masing-masing dengan bersandar kepada sunnah beliau, maka dia akan sampai, dan akan menikmati kehidupan tenang menyenangkan yang diidam-idamkan oleh setiap suami istri.

Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut:69)

 

Disalin dari artikel yang dimuat pada majalah Qiblati edisi 01 th. VII Dzulhijjah 1432 H, Nopember 2011

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Jumat, 5 April 2013/24 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly