Cinta Rasul

Bagi orangtua muslim yang bersemangat terhadap Islam dalam mendidik anak, mungkin tidak asing dengan kata ‘cinta Rasul’Nya, kalimat itu pernah menggena di dunia hiburan anak-anak muslim untuk mengajak mereka mencintai Rasul, terlepas dari benar tidaknya cara tersebut dalam pendidikan Islam terhadap anak.

 

 

Memang benar, sebagai orang tua muslim, kita wajib menanamkan kecintaan anak-anak kita kepada Rasulullah. Alan tetapi, perlu diperhatikan makna cinta kepada beliau dan bagaimana tata cara ang benar dalam mewujudkannya. Agar semangat yang baik ini tidak rusak oleh sebab ketidaktahuan akan hakikat cinta Rasul, atau karena cara yang salah dalam mewujudkannya.

PENTINGNYA MENCINTAI RASUL

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan satu hadits yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah menempati kedudukan yang sangat agung. Disebutkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, kapan terjadinya hari kiamat?”

Lalu Rasulullah balik bertanya, “Apa yang engkau persiapkan untuknya?

Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak mempersiapkan banyaknya shalat, puasa atau sedekah, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Maka Rasulullah pun bersabda, “Engkau bersama orang yang engkau cintai.

Di sini menunjukkan bahwa kecintaan seseorang kepada Nabi adalah sebab dikumpulkannya dia bersama Nabi, di surga. Hal ini tidak lain karena cinta kepada Nabi adalah salah satu konsekuensi dary syahadat Muhammad Rasulullah.

HAKIKAT CINTA RASUL

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua, pengakuan cinta Rasul bisa saja diucapkan oleh setiap orang. Namun sebagai orangtua yang menghendaki anak shalih, tentunya kita tidak ingin kecintaan anak kita kepada Rasulullah hanya sebagai pengakuan atau slogan semata. Oleh karenanya, perlu kiranya kita ajarkan makna yang benar, tentang kecintaan terhadap Rasulullah ini.

Mencintai seseorang tentu maksudnya adalah mencintai dzat orang tersebut, sekaligus mencintai apa yang dia cintai, dan membenci apa yang dia benci. Maka kecintaan kepada Rasulkullah akan terwujud dengan hal itu pula.

WUJUDKAN CINTA KEPADA NABI

Bacakanlah kisah hidup Rasulullah akhlak dan tingkah laku beliau yang sangat indah dan sangat layak dijadikan panutan. Dengan mengetahuinya, anak kita akan benar-benar mencintai beliau, menghormati dan mengagungkannya, tidak melecehkan atau mencelanya, bahkan akan membela beliau dari orang-orang yang mencela.

Pahamkanlah anak kita, bahwa kecintaan kita kepada Rasulullah harus disertai kecintaan terhadap perkara yang beliau cintai, juga kebencian terhadap perkara yang beliau benci. Tanpa hal ini, cinta Rasul hanyalah sebagai pengakuan dan slogan semata.

Oleh karena itu orang tua harus menjelaskan secara rinci apa saja yang dicintai dan apa saja yang dibenci oleh Rasulullah. Tentu dengan perlahan-lahan, bertahap, dan menyesuaikan tingkat pemahaman anak.

Jelaskanlah bahwa Rasulullah sangat mencintai tauhid, beribadah hanya kepada Allah, mencintai orang-orang yang bertauhid, bahkan beliau berdakwah dan mengharapkan agara umatnya (termasuk kita dan anak kita) benar-benar mentauhidkan Allah. Sebaliknya, beliau sangat membenci syirik, yaitu memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah. Beliau juga membenci orang-orang yang berbuat syirik, bahkan memerangi mereka.

Jelaskan pula bahwa Rasulullah sangat senang jika tuntunannya dilaksanakan oleh umatnya. Sebaliknya, belia sedih bahkan marah jika tuntunan beliau diganti dengan tuntunan lain yang tidak beliau ajarkan.

Beliau pernah mengatakan, “Barangsiapa membenci tuntunanku, dia bukanlah golonganku.” [Muttafaq’alaih]

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak ada tuntunan dari kami, maka tertolak.” [Riwayat Muslim]

MAKA PERHATIKANLAH

Para orang tua yang dirahmati Allah, maka perhatikanlah dengan benar pendidikan terhadap anak kita dalam menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah. Jangan sampai kita memberikan pendidikan cinta Rasul yang ternyata menempuh cara-cara yang tidak dicintai Rasulullah. Sebutlah sebagai contoh, perayaan maulid, atau hiburan-hiburan anak bernafas “Islam” yang hakikatnya merupakan adopsi dari budaya non Islam dan sama sekali tidak dicintai Rasulullah, atau yang lainnya.

Jauhilah itu semua, dan cukupkanlah dengan tuntunan Rasulullah, demi baiknya pendidikan agama anak kita. Semoga Allah memberi petunjuk-Nya kepada kita semua, amiin

Disadur dari tulisan oleh abu_ubaed yang dimuat dalam Majalah Nikah Vol.7, No 10, 15 Januari-15 Februari 2009/ Muharram-Shafar 1430

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Minggu,24 Maret 2013/12 Jumadil Awal 1434H

Print Friendly