Nabi Yahya ‘Alaihissalam dalam Al-Quran

Syaikh Asy-Syinqithi berkata:
”Hai Yahya, ambillah
Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Maryam(19) :12)

 

Kalimat ‘ambillah Al-Kitab (Taurat)’ berarti mengambilnya dengan
sungguh-sungguh dan berusaha keras. Ini bisa dilakukan setelah sebelumnya
memahami isi Taurat dengan benar, lalu beramal dengannya dalam semua aspek,
mengimani ajarannya, menghalalkan sesuatu jika memang dihalalkan, dan
mengharamkan sesuatu jika memang itu diharamkan, mengamalkan aturan/tata
cara/syari’atnya, mengambil pelajaran dari kisah-kisah di dalamnya, dan
melaksanakannya dalam segala cara. Dan sebagian besar mufasirin (ahli tafsir)
mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Al-Kitab’ di sini adalah Taurat.

 

”Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS.
Maryam(19) :12)

 

Para ulama berbeda pendapat mengenai ‘hikmah’, namun semuanya cenderung untuk
dekat pada arti satu hal, dimana ALlah memberikan pemahaman Taurat kepadanya,
sehingga dia dapat mengerti dan beramal dengannya meskipun dia masih kecil.

 

”dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami” (QS. Maryam(19)
:13)

 

Kalimat ini disebutkan setelah kata ‘hikmah’. ‘Hanaan’ (rasa belas kasihan)
berarti kemurahan, perasaan kasih, dan empati yang ada pada dirinya. Dan kata
ini banyak digunakan orang Arab merujuk pada kemurahan dan belas kasihan,
seperti perkataan mereka, ”Hanaanak wa hanaaniyka yaa Rabb”, yang artinya ‘Saya
memohon belas kasihmu, ya Rabb’.

 

”dan kesucian (dari dosa)” (QS. Maryam(19) :13)

 

Kalimat ini disebutkan setelah yang di atas, dan berarti bahwa dia bebas dari
dosa dan ketidaktaatan, karena dia menaati ALlah dan mendekatkan diri kepada
ALlah dengan hal-hal yang diridhai-Nya.

 

”Dan ia adalah seorang yang bertaqwa” (QS. Maryam(19) :13)

 

Ini berarti bahwa Nabi Yahya menaati perintah dari Rabb-nya dan menghindari
apa-apa yang dilarang-Nya. Jadi, dia tidak pernah melakukan dosa satu kalipun
dan tidak pernah disalahkan atas apa yang diperbuatnya.

 

”dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya,” (QS. Maryam(19) :14)

 

Kata ‘barr’ (berbakti) berarti melakukan sebuah kebaikan, yaitu: Kami
menjadikannya berbakti kepada orang tuanya, misalnya dengan melakukan kebaikan
dan memperlakukan keduanya dengan akhlaq sebaik-baiknya.

 

”dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” (QS. Maryam(19) :14)

 

Ini berarti bahwa Nabi Yahya tidak sombong dalam ketaatannya kepada ALlah
atau ketaatannya kepada orang tua. Beliau sangat taat kepada ALlah dan sangat
rendah hati kepada orang tuanya. Ini menurut pendapat Ibnu Jarir. ‘Jabbar’
(sombong) berarti seseorang yang suka berbuat dhalim kepada orang lain dan
merendahkan mereka. Siapapun yang sombong terhadap orang lain dan melakukan
kekerasan kepada mereka, maka dia dinamakan ‘jabbaar’.

 

”Salam atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan
pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam(19) :15)

 

Ibnu Jarir berkata, ‘Salam atas dirinya’ berarti dia selamat dan aman. Arti
yang lengkap dari ‘Salam atas dirinya pada hari ia dilahirkan’ adalah salam dari
ALlah untuk Nabi Yahya, dan itu berarti keamanan dan keselamatan.

 

Pada Surat Ali-Imran, ALlah berfirman:
”… menjadi ikutan, menahan diri
(dari perempuan) dan seorang Nabi, dari keturunan orang-orang bertaqwa” (Q.S.
Ali Imran(3) :39)

 

Kata ‘sayyid’ (yang menjadi ikutan) berarti adalah seseorang yang ditaati dan
diikuti oleh sejumlah besar manusia.
Kata ‘husur’ (menahan diri) berarti
bahwa beliau menjaga dirinya sendiri dari perempuan, meskipun beliau mampu
melakukannya, sebagai bentuk kepatuhan kepada ALlah. Hal ini diperbolehkan
menurut ajaran/syari’at yang dibawanya, sedangkan Sunnah Muhammad RasuluLlah
adalah untuk menikah, bukan menjadi bujangan untuk selamanya…

 

Pada frase ‘seorang Nabi, dari keturunan orang-orang bertaqwa’, kata Nabi
berasal dari kata ‘naba’, yang artinya berita penting, karena wahyu adalah
berita yang penting dari ALlah. Orang-orang bertaqwa adalah mereka yang iman,
amal, perkataan, dan niatnya lurus. Ketaqwaan berlawanan artinya dari
kemaksiatan atau pelanggaran. ALlah menjelaskan bahwa Yahya adalah seorang yang
bertaqwa dan Dia menceritakan pula nabi-nabi lain dengan cara yang hampir serupa
pada Surat Al-An’am, dimana ALlah berfirman:
”dan Zakaria, Yahaya, ‘Isa, dan
Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-An’am(6) :85)

 

terjemahan dari
(Question. 22248), adaptasi dari Adwaa’ al-Bayaan,
4/245-252

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Minggu,27 Juli 2003/27 Jumadil Awal 1424H

Print Friendly