Singa Betina dari Madinah

Rasulullah mempunyai orang-orang yang dekat baik lelaki dan wanita (baca: para shahabat dan shahabiyah) dengan keimanan dan konsistensi tiada bandingannya. Mereka adalah orang-orang yang berani, dermawan, santun, dan mengasihani orang lain.

Tak terhitung literatur sejarah yang acapkali memuji kontribusi para sahabat Rasulullah, namun penting juga rasanya memeras tenaga untuk menelisik informasi yang ada tentang kontribusi para shahabiyah (sahabat wanita) Rasulullah. Di antara sekian banyak dari mereka, salah satunya adalah Nusaibah binti Ka’ab yang -bersama keluarganya- dikenal sebagai sosok yang humanis dan suka bederma.

Lengkapnya adalah Nusaibah anak perempuan dari Ka’ab bin Amr bin Auf bin Maddzul bin Amr bin Ghanim bin Mazin bin Najar al-Anshariyah al-Khazrajiyah an-Najariyah al-Maziniyah al-Madiniyah. Dikenal sebagai Ummu ‘Imarah. Kadang dipersepsikan sama dengan Nusaibah binti Harits Ummu Athiyah. Ummu Imarah bersuamikan Zaid bin ‘Ashim bin Ka’ab. Pasangan ini melahirkan Habib dan Abdullah, keduanya kelak menjadi pahlawan yang pemberani. Habib dikenal sebagai tawanan nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab yang kemudian disiksa oleh pembantu Musailamah.

Setelah mendengar Islam dan mengetahuinya, wanita yang memeluk Islam pada permulaan Islam muncul ini ikut pergi bersama kaum lelaki dari Yatsrib ke Makkah untuk bergabung dengan sahabat awal yang belajar di bawah bimbingan Nabi Muhammad. Nusaibah adalah salah satu wanita yang ikut menyaksikan perjanjian (baiat) Aqabah. Saat itu, bersama temannya sesama wanita Asma binti Amr bin Adi alias Umu Mani’, bergabung dengan 70 lelaki menyatakan sumpah setia di hadapan Rasulullah.

Nusaibah kemudian menjadi salah satu shahabiyah terkemuka yang disegani banyak orang. Hal ini dikarenakan superioritasnya, terutama keberanian yang didemonstrasikannya ketika membela Rasulullah pada Perang Uhud. Ketika itu, dia bergabung dengan pasukan Muslim untuk mengemban tugas penting dalam bidang kemanusiaan. Bersama para wanita lainnya, Nusaibah ikut memasok air kepada para prajurit muslim dan mengobati yang terluka.

Sejatinya, sungguh sangat tidak biasa bagi seorang wanita untuk ikut berpartisipasi di medan perang. Namun, mereka memiliki peran penting dalam mengerahkan pasukan, memacu semangat mereka dengan senandung jihad, mengobati dahaga para prajurit yang kehausan setiap kali cuaca panas menyegat, dan yang terpenting adlaha mengobati para prajurit terluka.

Kita dapat mengetahui keberanian Nusaibah pada Perang Uhud karena perang tersebut banyak hal-hal yang tidak berjalan mulus. Pada saat itu nyawa Nabi Muhammad pun berada dalam bahaya. Meski tidak dapat disebutkan peristiwa-peristiwa detil pada perang tersebut, tapi penting untuk menyebutkan bahwa ketika pasukan pemanah di bawah komando Abdullah bin Jubair yang berasa di bukit mengabaikan instruksi Rasulullah sehingga meninggalkan pos mereka, seketika itu juga pasukan musuh di bawah komando Khalid bin al-Walid merangsek naik menempati pos mereka.

Dalam sebuah hadits sahih dinyatakan bahwa dalam perang tersebut sedikitnya 70 sahabat terluka dan banyak lainnya yang mati syahid.

Ketika melihat Rasulullah menangkis berbagai serangan musuh sendirian, Nusaibah pun segera mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan yang lain membentuk sebuah formasi pertahanan untuk melindungi Rasulullah. Berbagai buku sejarah mencatat bahwa ketika itu Nusaibah berperang penuh keberanian dan tidak menghiraukan dirinya dalam membela beliau.

Pada akhirnya kaum Muslimin memang mendapatkan kemenangan di Perang Uhud, tetapi sejatinya perang tersebut mencata sejumlah pelajaran penting yang harus dicamkan kaum muslimin. Di sejumlah pelajaran penting tersebut terselip sebuah nota peranan penting Nusaibah dan keluarganya yang telah berjibaku bersusah paya membela Nabi Muhammad.

Dalam rangka membela Nabi Muhammad, Nusaibah sendiri menderita luka-luka, ada sekitar 12 luka di tubuhnya dengan luka di lehernya yang cukup parah. Hebatnya, dia tidak pernah mengeluh, mengadu, atau bersedih. Dia justru memohon kepada Rasulullah untuk mendoakan diri dan keluarganya agar kelak bisa bergabung bersama beliau di surga. Rasulullah pun mengabulkan permintaannya.

Dalam sejarah Islam, selain disebut-sebut sebagai salah satu sahabat pionir dan pemberani, Nusaibah juga dinyatakan sebagai seorang wanita yang memiliki kesabaran luar biasa dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain dari dirinya sendiri. Salah seorang putranya kemudian syahid di pertempuran selanjutnya. Nusaibah menerimanya dengan penuh keyakinan bahwa putranya mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah, dan menerima berita kematian itu dengan penuh kemuliaan serta kebanggaan.

Tidak hanya di Perang Uhud, Nusaibah bersama suami dan putra-putranya ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain, dan Perang Yamamah. Dalam berbagai pertempuran itu, Nusaibah tidak hanya membantu mengurus logistik dan merawat orang-orang yang terluka. Lebih dari itu, dia juga terjun ke medan perang dengan mengangkat senjata. Bahkan pada perang Yamamah, selain mendapat sebelas luka, tangannya juga terpenggal oleh musuh.

Setelah Rasulullah meninggal dunia, sebagian kaum muslimin kembali murtad dan enggan berzakat. Abu Bakar ash-Shiddiq yang menjadi khalifah pada waktu itu segera membentuk pasukan untuk memerangi mereka. Abu Bakar mengirim surat kepada Musailamah al-Kadzdzab dan menunjuk Habib, putra pasangan Zaid dan Nusaibah, sebagai utusannya.

Musailamah memerintahkan Habib untuk menyatakan bahwa dia adalah utusan Allah, namun Habib menolaknya.

Musailamah bertanya kepada Habib bin Zaid, “Apakah kamu beriman kepada Muhammad sebagai utusan Allah?!”

Habib menjawab, ‘Ya!’

Musailamah kembali bertanya, ‘Kamu yakin kalau tidak kalau saya juga utusan Allah?!’

Habib menjawab, ‘Apa?! Aku tidak mendengar apa-apa!’

Dengan jengkel Musailamah pun memotong anggota tubuh Habib. Pertanyaan serupa beberapa kali diulang, dan begitu pula jawaban Habib bin Zaid. Musailamah yang merasa marah akhirnya menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu sampai syahid. Meninggalnya Habib meninggalkan luka yang dalam di hati Nusaibah. Pada perang Yamamah, Nusaibah dan putranya Abdullah ikut memerangi Musailamah. Beberapa tahun setelah peristiwa perang Yamamah, Nusaibah meninggal dunia.

Sumber bacaan:

  1. Ad-Duraru fi Ikhtisharil Maghazi was Siyar juz I hal. 42
  2. Al-Isti’ab fi Ma’rifatil Ash-hab juz I hal. 622 dan 633
  3. Ayuhuma A’zham? Muhammad awil Masih? Juz I hal. 208
  4. Da’awil Munawi-in Lisyaikh Ibni Taimiyah juz I hal. 299
  5. Ma’rifatus Shahabah juz VI hal. 280
  6. Siyar min A’lamin Nubala’ juz II hal 278-318

disalin dari Majalah Fatawa Vol. VI/No. 07-08

———-
Sumber: JILBAB.OR.ID – www.jilbab.or.id – Kamis,10 Oktober 2013/5 Dzulhijjah 1434H

Print Friendly