Mereka Membolehkan ‘Berhubungan’ Dengan Budak Orang Lain

Mereka Membolehkan ‘Berhubungan’ Dengan Budak Orang Lain

 

Di antara kesesatan Rafidhah adalah: Mereka membolehkan seseorang melakukan jima’ dengan budak orang lain jika pemiliknya mengizinkan. Al-Hulli berkata, “Boleh ‘berhubungan’ dengan budak milik orang lain dengan syarat yang mengizinkannya adalah orang yang bisa memerdekakannya dan sudah diakui hak kepemilikannya, serta budak tersebut halal bagi orang yang akan ‘berhubungan’ dengannya.

Cukuplah sebagai bantahan terhadap kebatilan ini adalah firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki.” (QS. Al-Mu`minun: 5-6)

Dan sudah diketahui bersama bahwa ‘berhubungan’ dengan budak orang lain bukanlah pernikahan dan budak itu juga bukan budaknya. Juga firman Allah Ta’ala:

وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran.”(QS. An-Nur: 33)


Wasa`il Asy-Syi’ah (7/463-464)

Share and Enjoy:


———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Selasa,31 Juli 2012/12 Ramadhan 1433H

Print Friendly