Mukmin Bukanlah Pelaknat

Mukmin Bukanlah Pelaknat

Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
مَنْ حَلَفَ بِمِلَّةٍ غَيْرِ الْإِسْلَامِ كَاذِبًا فَهُوَ كَمَا قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ
“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain agama Islam secara dusta, maka dia seperti apa yang dia katakana. Barangsiapa yang bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan disiksa di neraka Jahannam dengan sesuatu yang ia pergunakan untuk bunuh diri. Barangsiapa yang melaknat seorang muslim maka dia seperti membunuhnya. Dan barangsiapa yang menuduh seorang muslim dengan kekafiran maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 6652 dan Muslim no. 110)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَنْبَغِي لِصِدِّيقٍ أَنْ يَكُونَ لَعَّانًا
“Tidak boleh orang yang jujur itu suka melaknat.” (HR. Muslim no. 2597)
Abu Ad-Darda` radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang suka melaknat itu tidak akan dapat menjadi syuhada’ (orang-orang yang menjadi saksi) dan tidak pula dapat memberi syafa’at pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim no. 2598)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang sukamencela, melaknat, berperangai buruk, dan mengucapkan ucapan yang kotor.” (HR. At-Tirmizi no. 1977 dan dinyatakan shahih oleh Al-Wadi’i dalam Ash-Shahih Al-Musnad: 2/24)
Abu Ad-Darda radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا
“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tertutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, dia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR. Abu Daud no. 4905 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1269)

Penjelasan ringkas:
Laknat mempunyai dua makna:
a.    Celaan atau cercaan.
b.    Menjauhkan dari rahmat Allah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang hadits ‘Barangsiapa yang melaknat seorang muslim maka dia seperti membunuhnya’, “Karena jika dia melaknatnya maka seakan-akan dia mendoakan kebinasaan atasnya.”
Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingatkan bahayanya melaknat dan mengabarkan bahwa siapa saja yang melaknat orang yang tidak pantas untuk dilaknat, maka hukum laknat ini akan kembali kepadanya.

Oleh karena itu tidak boleh melaknat seorang muslim baik dia telah mati apalagi jika dia masih hidup. Karena melaknatnya berarti menjauhkan dia dari rahmat Allah dan itu sama saja dengan menghukuminya sebagai orang kafir atau memastikan dia masuk dalam neraka, sementara hanya orang kafir yang dijauhkan dari rahmat Allah dan dipastikan masuk neraka.

Adapun melaknat pelaku maksiat secara umum maka hal itu dibolehkan. Karena telah shahih dalam beberapa hadits bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melaknat para penggambar, melaknat wanita yang menyerupai lelaki dan sebaliknya, melaknat wanita yang menyambung rambutnya, dan yang lainnya sangat banyak.

Adapun melaknat orang kafir maka:
a.    Jika dia masih hidup maka tidak boleh melaknatnya, karena dia belum pasti meninggal dalam kekafiran, sementara sudah dijelaskan tadi bahwa melaknat sama saja dengan memastikan yang dilaknat itu masuk neraka.
b.    Jika orang kafir itu sudah meninggal, maka dibolehkan jika ada maslahat dari sisi keagamaan. Adapun jika tidak ada maslahat keagamaan dan sekedar celaan kepadanya, maka hal itu dilarang berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata: Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda:
لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا
“Janganlah kalian mencela orang yang telah meninggal karena mereka telah sampai (mendapatkan) apa yang telah mereka kerjakan”. (HR. Al-Bukhari no. 1306)

———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Kamis, 1 Juli 2010/19 Rajab 1431H

Print Friendly