Pembatal Wudhu

Pembatal  Wudhu

Dari Shafwan bin ‘Assal -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَنْ لَا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ
“Jika kami sedang bepergian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kami tidak membuka sepatu-sepatu kami selama tiga hari tiga malam kecuali ketika kami junub. Dan tetap boleh untuk mengusap sepatu karena buang air besar, buang air kecil, dan tidur.” (HR. At-Tirmizi no. 96, An-nasai no. 127, Ibnu majah no. 471 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 104)
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim -radhiallahu anhu- dia berkata:
شُكِيَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
“Seorang lelaki mengadukan kepada Nabi -shallallahu’alaihiwasallam, bahwa dia seolah-olah mendapati sesuatu (kentut) ketika shalatnya. Beliau bersabda, “Dia tidak perlu membatalkan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)
Dari Ali bin Abi Thalib -radhiallahu anhu- dia berkata:
كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ
“Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya Nabi -shallallahu’alaihiwasallam- karena puteri beliau adalah istriku. Maka aku menyuruh Al-Miqdad bin Al-Aswad supaya bertanya beliau, maka beliau menjawab, “Hendaklah dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ أُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الْإِبِلِ قَالَ لَا
“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, “Apakah aku harus berwudhu karena makan daging kambing?” Beliau menjawab, “Jika kamu mau maka berwudhulah, dan jika kamu mau maka janganlah kamu berwudhu.” Dia bertanya lagi, “Apakah aku harus berwudhu disebabkan (makan) daging unta?” Beliau menjawab, “Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta.” Dia bertanya, “Apakah aku boleh shalat di kandang kambing?” Beliau menjawab, “Ya boleh.” Dia bertanya, “Apakah aku boleh shalat di kandang unta?” Beliau menjawab, “Tidak.” (HR. Muslim no. 360)
Busrah binti Shafwan  berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah dia berwudhu.” (HR. Abu Daud no. 181, At-Tirmizi no. 82, dan selain keduanya)
Dari Thalq bin Ali -radhiallahu anhu- dia berkata:
سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَتَوَضَّأُ أَحَدُنَا إِذَا مَسَّ ذَكَرَهُ قَالَ إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ أَوْ جَسَدِكَ
“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, “Apabila salah seorang di antara kami memegang kemaluannya haruskah dia berwudhu?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya itu (kemaluan) hanyalah bagian darimu atau tubuhmu.” (HR. An-Nasai no. 165 dan selainnya)

Penjelasan ringkas:
Wudhu mempunyai beberapa perkara yang bisa membatalkannya, yakni jika pembatal atau yang dikenal dengan hadats ini ada pada seseorang maka dia harus berwudhu kembali jika dia ingin melakukan amalan yang mengharuskan adanya thaharah dalam pengamalannya. Pembatal-pembatal wudhu yang tersebut di atas adalah:
1.    Tidur berdasarkan hadits Shafwan di atas.
Hanya saja yang dimaksud dengan tidur di sini adalah tidur nyenyak, dimana orang yang tidur sudah tidak bisa merasakan apa-apa yang ada di sekitarnya. Karena dalam hadits Ibnu Umar serta hadits Ibnu Abbas yang keduanya riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dan hadits selainnya menunjukkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- para sahabat pernah tertidur, dan setelah mereka terbangun, mereka langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu kembali. Ini merupakan pendapat Malik, Az-Zuhri, Rabiah, dan Al-Auzai, dan inilah yang dirajihkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Rusyd, Ibnu Abdil Barr, dan dari kalangan belakangan: Al-Lajnah Ad-Daimah, Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan selainnya.

2.    Diikutkan kepada hukum tidur,  pingsan dan hilangnya akal berdasarkan kesepakatan para ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni: 1/113

3.    Semua yang keluar dari qubul dan dubur berupa: Tinja, kencing, mani, madzi, wadi, dan kentut.
Ini berdasarkan hadits Shafwan, Abdullah bin Zaid, dan Ali di atas, dan hadits lainnya, dan ini merupakan kesepakatan para ulama.

4.    Makan daging onta secara mutlak.
Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Asy-Syafi’i, Ishaq bin Rahawaih, dan sahabat Jabir bin Samurah. Mereka berdalilkan dengan hadits Samurah di atas dan juga hadits Al-Barra` secara marfu’, “Berwudhulah kalian karena makan daging onta dan janganlah kalian berwudhu karena makan daging kambing.” (HR. Imam Empat kecuali An-Nasai)

5.    Adapun menyentuh kemaluan, maka pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwa dia tidaklah membatalkan wudhu, akan tetapi disunnahkan bagi yang menyentuh kemaluannya secara langsung (tanpa pembatas) untuk berwudhu. Ini merupakan pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah dan Ibnu Al-Utsaimin sebagaimana dalam Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/234. Pendalilan mereka adalah memadukan antara hadits Busrah dan hadits Thalq di atas.

6.    Dan tentunya semua perkara yang mewajibkan mandi (hadats akbar) juga merupakan pembatal wudhu, seperti keluar darah haid dan nifas dan seterusnya.

Ada beberapa perkara lain yang dibahas oleh para ulama dalam masalah ini seperti: Keluar darah istihadhah, menyentuh wanita, mimisan dan muntah, serta mengangkat dan memandikan jenazah. Apakah keempat perkara ini membatalkan wudhu atau tidak? Silakan baca ulasannya di sini:

Share and Enjoy:


———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Jumat, 5 Pebruari 2010/20 Safar 1431H

Print Friendly