Seputar Bejana

Seputar Bejana

Dari Abdullah bin Abbas  dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ
“Apabila kulit telah disamak, maka sungguh dia telah suci.” (HR. Muslim no. 366)
Dari Imran bin Al-Hushain  dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّأُوا مِنْ مُزَادَةِ امْرَأَةٍ مُشْرِكَةٍ
“Sesungguhnya Nabi  dan para sahabat beliau pernah berwudhu dari bejana wanita musyrik.” (HR. Al-Bukhari no. 477 dan Muslim no. 682)
Abu Tsa’labah -radhiallahu ‘anhu- berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ الْكِتَابِ نَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ … فَقَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكَ بِأَرْضِ قَوْمٍ أَهْلِ الْكِتَابِ تَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ فَلَا تَأْكُلُوا فِيهَا وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَاغْسِلُوهَا ثُمَّ كُلُوا فِيهَا
“Wahai Rasulullah, kami berada di wilayah orang-orang ahli kitab dan makan dengan bejana-bejana mereka, … . Beliau lalu menjawab, “Sebagaimana yang kamu sebutkan bahwa kamu tinggal di wilayah ahli kitab dan makan dengan bejana mereka, maka jika kalian mendapatkan bejana yang lain janganlah kalian makan dengan bejana-bejana mereka, jika tidak mendapatkan maka cucilah bejana tersebut lalu makanlah dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5496 dan Muslim no. 1930)

Penjelasan ringkas:
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum bejana orang kafir dari kalangan ahli kitab dan kaum musyrikin: Sebagian berpendapat najisnya bejana mereka dan sebagian lagi berpendapat sucinya bejana mereka. Dan mereka yang berpendapat najisnya berbeda pendapat mengenai sebab najisnya: Ada yang menyatakan karena tubuh mereka najis, dan ada yang menyatakan karena mereka biasa memasak, memakan, dan meminum makanan dan minuman yang haram dengan bejana tersebut, bukan karena tubuh mereka yang najis. Sehingga secara umum di sini ada 3 pendapat, walaupun ada beberapa pendapat lainnya yang tidak kami sebutkan.
Mereka yang menyatakan najisnya bejana mereka karena tubuh mereka najis, berdalil dengan hadits Abu Tsa’labah di atas dan juga ayat, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah: 28)
Sementara yang menyatakan najisnya bejana mereka karena mereka biasa makan dan minum yang haram dengannya, mereka berdalil dengan riwayat lain hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata:
إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا
“Sesungguhnya kami bertetangga dengan orang ahli kitab sementara mereka merebus babi di dalam kuali mereka dan minum khamr dalam bejana mereka?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian mendapatkan selainnya maka makan dan minumlah padanya, dan apabila kalian tidak mendapatkan selainnya maka cucilah menggunakan air dan makan serta minumlah!” (HR. Abu Daud no. 3342)
Mereka mengatakan: Maka kemutlakan dalam hadits Abu Tsa’labah (riwayat Al-Bukhari dan Muslim) di atas, dibatasi dengan riwayat Abu Daud ini, bahwa penyebab Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarang mereka menggunakan bejana musyrik adalah karena mereka merebus babi dengan kuali mereka dan minum khamar dengan bejana mereka, bukan karena tubuh mereka najis.
Sementara yang menyatakan bahwa bejana orang kafir itu suci, mereka berdalil dengan hadits Imran bin Al-Hushain di atas dimana Nabi  dan para sahabat beliau berwudhu dari bejana musyrik.

Tarjih:
Yang rajih dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa hukum asal bejana orang kafir adalah suci kecuali jika sudah jelas mereka menggunakannya untuk memakan atau meminum sesuatu yang haram, maka ketika itu diwajibkan untuk mencuci terlebih dahulu baru kemudian boleh dipakai. Hal ini karena banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- menggunakan bejana orang kafir, di antaranya adalah:
1.    Hadits Imran bin Al-Hushain di atas.
2.    Dari Jabir  dia berkata:
كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُصِيبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِينَ وَأَسْقِيَتِهِمْ فَنَسْتَمْتِعُ بِهَا فَلَا يَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ
“Dahulu kami pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kami mendapatkan bejana orang-orang musyrik dan tempat minum mereka. Lalu kami menggunakannya dan beliau tidak mencela mereka.” (Abu Daud no. 3341)
3.    Dari Anas bin Malik  dia berkata:
أَنَّ يَهُودِيًّا دَعَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ فَأَجَابَهُ
“Pernah seorang yahudi mengundang Nabi Shallallahu’alaihi wasallam untuk menyantap bubur gandum dan gulai yang sudah beberapa kali dipanaskan, dan Beliau Shallallahu’alaihi wasallam mendatanginya.” (Ahmad no. 12724)
Adapun ayat yang menyatakan bahwa orang musyrik itu najis maka yang dimaksud dengan najis di sini adalah najis secara bahasa yang bermakna sesuatu yang kotor, dan makna ini lebih luas dibandingkan makna najis secara syara’. Karena najis secara bahasa mencakup najis secara syara’ dan sesuatu yang diangap kotor tapi bukan najis menurut syara’. Atau bisa dikatakan bahwa makna ‘najis’ di dini adalah ‘yang memiliki najis’, karena kekafiran mereka najis, mereka tidak pernah bersuci, tidak pernah mandi junub, dan tidak menjauhi hal-hal yang najis.
Adapun hadits Abu Tsa’labah maka kita katakan bahwa larangan dalam hadits tersebut bersifat makruh, yakni dimakruhkan makan dari bejana mereka walaupun sudah jelas sucinya, walaupun hukum asalnya adalah boleh. Atau dikatakan bahwa larangan Nabi -alaihishshalatu wassalam- di situ adalah untuk sad adz-dzari’ah (menutup wasilah) penggunaan bejana kafir yang najis. Atau bisa juga dikatakan bahwa sebab larangan dalam hadits tersebut adalah karena telah nyata mereka menggunakannya untuk memasak dan memakan hal yang haram, sebagaimana yang ditunjukkan dalam riwayat lain hadits Abu Tsa’labah, yang dijadikan dalil oleh pendapat kedua. Artinya, seandainya bejana mereka sudah nyata tidak digunakan untuk hal-hal seperti itu niscaya beliau tidak akan melarangnya. Wallahu a’lam.
Baca juga artikel berikut:

Share and Enjoy:


———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Selasa,26 Januari 2010/10 Safar 1431H

Print Friendly