Niat wudhu dan duduk tasyahud

Niat wudhu dan duduk tasyahud

Tanya:
Assalamu’alaikum Ustadz.
Saya ada beberapa pertanyaan, yaitu:
1. Apakah benar bahwa niat wudhu itu diucapkan dalam hati saat membasuh muka?
2. Bagaimana cara duduk tasyahud makmum masbuk ketika imam duduk tasyahud akhir, menyamai duduk imam atau duduk seperti tasyahud awal.
3. Saya melihat orang shalat sunnah dua rokaat lalu pada rokaat terakhir cara duduk tasyahudnya seperti duduk tasyahud awal (bukan seperti duduk tasyahud akhir).
Saya mohon pencerahannya Ustadz.
Semoga Allah merahmati Ustadz.

“Donny”

Jawab:
1.    Tidak benar, niat itu tidak perlu diucapkan walaupun di dalam hati. Karena niat adalah maksud dan kehendak, sehingga kapan dia sudah bermaksud dan berkehendak mengerjakan sesuatu maka itulah niatnya, walaupun dia tidak mengucapkannya di dalam hatinya.

2.    Ia, dia mengikuti posisi duduk imam: Jika imam iftirasy maka dia juga iftirasy dan jika imam tawarruk maka dia juga tawarruk walaupun bagi dia (yang masbuk) duduk tersebut belum duduk tahiyat terakhir.
Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam hadits Abu Hurairah:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ
“Tidaklah imam diadakan kecuali agar diikuti. Karenanya bila dia bertakbir maka bertakbirlah, dan apabila dia sujud maka bersujudlah, apabila dia mengangkat maka angkatlah. Apabila dia mengucapkan, ‘Samiallahu liman hamidahu (Allah mendengar orang yang memujinya) ‘ maka kalian ucapkanlah, ‘Rabbana wa laka al-Hamdu (Wahai Rabb kami, dan hanya milik-Mu segala pujian) ‘, dan apabila dia shalat duduk maka shalat duduklah kalian semuanya.” (HR. Al-Bukhari pada banyak tempat, di antaranya no. 648 dan Muslim no. 622)

3.    Itulah yang sunnah, yakni pada shalat yang hanya punya sekali tasyahud (2 rakaat) maka posisi duduk di akhir shalat adalah duduk iftirasy. Ini berdasarkan hadits Wail bin Hujr beliau berkata menggambarkan sifat shalat Nabi -alaihishshalatu wassalam-:
وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ أَضْجَعَ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَنَصَبَ أُصْبُعَهُ لِلدُّعَاءِ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى
“Dan saat duduk pada dua rakaat, beliau -shalallahu ‘alaihi wasallam-membaringkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan, meletakkan tangan kanan di atas paha kanan, menegakkan jari untuk berdoa, dan meletakkan tangan kiri di atas paha kiri.” (HR. An-Nasai no. 1147 dengan sanad yang shahih)
Dan juga berdasarkan hadits Abdullah bin Az-Zubair dia berkata:
كَانَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ, اِفْتَرَشَ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى, وَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى الْوُسْطَى وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ, وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَأَلْقَمَ كَفَّهُ الْيُسْرَى رُكْبَتَهُ
“Adalah Rasulullah  apabila beliau duduk dalam dua raka’at, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan yang kanan dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengah dan beliau berisyarat dengan telunjuknya dan beliau meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya  dan telapak tangan kanannya menggenggam lututnya”. (HR. Ibnu Hibban -sebagaimana dalam Al-Ihsan- no. 1943)

Hanya saja ini berlaku jika dia menjadi imam atau sedang shalat sendiri. Tapi jika dia menjadi makmum maka dia mengikuti posisi duduk imam sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah di atas. Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Senin, 4 Januari 2010/18 Muharram 1431H

Print Friendly