MASA IDDAH ISTRI… (ringkasan shohih muslim)

Bab: Wanita Hamil, Jika Melahirkan Setelah Suaminya Wafat

(858) Dari Ubaidulloh bin Abdulloh bin Utbah bin Mas’ud, bahwa bapaknya menulis perintah kepada Umar bin Abdulloh bin Arqom Azzuhry, untuk menemui Subai’ah bintil Harits al-aslamiyyah, guna menanyakan peristiwa yang dialaminya dan apa jawaban Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- ketika ia meminta fatwa kepada beliau.

Kemudian Umar bin Abdulloh menulis jawaban kepada Abdulloh bin Utbah, (isinya) sesungguhnya Subai’ah mengisahkan kepadanya, bahwa awalnya ia adalah istrinya Sa’ad bin Khoulah, -seorang dari bani Amir bin Lu-aiy, dan salah satu pasukan perang badar-. Ia wafat pada waktu haji wada’, di saat istrinya sedang hamil. Tidak berapa lama setelah itu  istrinya melahirkan.

Ketika suci dari nifasnya ia menghias diri untuk mereka yang ingin melamarnya. Melihat kejadian itu Abu Sanabil bin Ba’kak –seorang dari bani dar- menemuinya, ia menanyakan: “Kenapa ku lihat kamu menghias diri? Apakah kamu ingin menikah? Demi Alloh kamu tidak boleh menikah sebelum selesai masa empat bulan lebih sepuluh hari!” Subai’ah mengatakan: “Mendengar ucapan itu, segera aku kumpulkan baju-bajuku pada sore harinya, kemudian aku menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- untuk menanyakan hal itu, maka beliau mem-fatwa-kan bahwa aku telah halal (boleh menikah) ketika aku melahirkan, dan menyuruhku untuk menikah jika aku menghendakinya”.

Ibnu Syihab mengatakan: “Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa boleh baginya menikah, langsung setelah melahirkan, walaupun masih dalam masa nifas, asalkan suaminya tidak menggaulinya sampai ia suci dari nifasnya”.

Bab: Istri yang dicerai, boleh keluar untuk mengunduh buah kurma

(859) Jabir bin Abdulloh mengatakan: Saudari ibuku dicerai suaminya, lalu dia ingin mengunduh buah kurma, tapi dilarang seseorang untuk keluar rumah. Akhirnya ia menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, beliau mengatakan: “Ya (tidak apa-apa), unduh saja kurma milikmu, mungkin dengannya kamu bisa bersedekah atau berbuat kebajikan (yang lainnya)”.

Bab: Istri yang dicerai boleh keluar dari rumah suaminya (sebelum habis iddahnya), jika takut terjadi apa-apa pada dirinya.

(860) Fatimah binti Qois bertanya: “Wahai Rosululloh!  Suamiku telah mentalakku tiga kali, dan aku takut ia akan mendatangiku lagi”. Urwah bin Zubair mengatakan: Maka beliau menyuruhnya agar pindah rumah.

(861) Dari Abu Salamah bin Abdurrohman bin Auf: bahwa Fatimah binti Qois mengisahkan kepadanya, bahwa awalnya dia diperistri oleh Abu Amr bin Hafsh bin Mughiroh, lalu suaminya mentalaknya sebanyak tiga kali. Kemudian ia mengaku telah menghadap Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- untuk menanyakan bolehnya ia keluar dari rumah suaminya, maka beliaupun memerintahkannya untuk pindah ke rumah Ibnu Ummi Maktum yang buta. Tapi Marwan tidak mau percaya akan bolehnya istri yang dicerai, untuk keluar dari rumah suaminya (sebelum habis masa iddahnya), ia berdalih bahwa Aisyah mengingkari perbuatan Fatimah binti Qois itu.

Bab: Menikahkan wanita yang dicerai, setelah habis masa iddahnya

(862) Dari Fatimah binti Qois: Bahwa sesungguhnya suaminya telah mentalaknya tiga kali, dan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak memberikan kepadanya bagian rumah maupun nafkah. Fatimah mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadaku, “Beritahulah aku jika habis masa iddahmu!”, maka akupun memberitahu beliau. Kemudian Mu’awiyah, Abu Jahm dan Usamah bin Zaid melamarnya. Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan padanya: “Adapun Mu’awiyah, ia adalah seorang fakir yang tidak memiliki harta. Sedangkan Abu Jahm, ia adalah orang yang ringan tangan. Beda dengan Usamah!” maka Fatimah pun mengisyaratkan dengan tangannya begini, “Usamah… Usamah!”. Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadanya: “Taat kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah yang terbaik untukmu”, Fatimah mengatakan: “Akhirnya aku menikahinya, dan hidupku bahagia bersamanya”.

Bab: Tentang ihdad (menahan diri selama masa iddah dari berhias, memakai wangi-wangian dan celak) bagi istri yang suaminya mati

(863) Dari Humaid bin Nafi’: Bahwa Zainab binti Salamah, mengabarkan kepadanya tiga hal berikut ini:

Zainab mengatakan: Aku pernah menemui Ummu Habibah, istri Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-ketika ayahnya -Abu Sofyan- meninggal, maka ia minta diambilkan parfum kuning campuran atau lainnya, dan ia mengusapkannya pada bocah perempuan, lalu sambil memegangi kedua pipinya ia mengatakan: “Demi Alloh, aku tidak butuh parfum lagi, karena aku pernah mendengar Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda di atas mimbar, “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, untuk melakukan ihdad karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali jika si mayit tersebut suaminya, (maka dibolehkan bagi istrinya ihdad) sampai empat bulan sepuluh hari”.

Zainab mengatakan: Kemudian aku menemui Zainab binti Jahsy ketika saudaranya meninggal, maka ia minta diambilkan parfum, lalu menyentuhnya seraya mengatakan: “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, untuk melakukan ihdad karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali jika si mayit tersebut suaminya, (maka dibolehkan bagi istrinya ihdad) sampai empat bulan sepuluh hari”.

Zainab mengatakan: Aku pernah mendengar ibuku Ummu Salamah mengatakan: “Pernah ada wanita mendatangi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ia bertanya: “Wahai Rosululloh! Sesungguhnya putriku ditinggal mati suaminya, dan dia sekarang mengeluhkan matanya, apa boleh kami memakaikan celak pada matanya?” Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menjawab: “Tidak boleh” beliau mengulangi kata tersebut dua atau tiga kali. Lalu beliau mengatakan: “Ia baru boleh melakukannya setelah empat bulan sepuluh hari. Pada masa jahiliyyah dulu, wanita yang demikian harus melempar kotoran hewan (onta/kambing) setelah setahun menunggu”.

Humaid berkata, aku bertanya kepada Zainab: “Apa maksudnya melempar kotoran hewan setelah setahun menunggu?”

Zainab menjawab: “Dahulu seorang wanita yang ditinggal mati suaminya diharuskan masuk gubuk kecil, mengenakan pakaian terjeleknya, dan tidak boleh memakai parfum atau (perhiasan) apapun juga, hingga setahun lamanya. Kemudian didatangkan kepadanya hewan, bisa keledai atau kambing atau burung. Lalu ia mengusapkan hewan tersebut ke farjinya, dan biasanya hewan tersebut akan mati karenanya. Setelah itu ia keluar dan diberi  kotoran hewan untuk dia lemparkan, maka dengan begitu ia berarti boleh lagi memakai parfum atau (perhiasan) yang lainnya.

Bab: Meninggalkan parfum dan pakaian berwarna (selain putih) bagi wanita yang sedang ihdad

(864) Dari Ummu Athiyyah: Sesungguhnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Seorang wanita tidak boleh melakukan ihdad karena kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali jika si mayit tersebut suaminya, (maka dibolehkan bagi istrinya ihdad) sampai empat bulan sepuluh hari. Janganlah ia memakai pakaian berwarna kecuali pakaian Ashob (sejenis pakaian dari negeri yaman, berwarna putih), dan janganlah ia memakai celak dan parfum, kecuali sedikit qusth atau Azhfar (keduanya nama jenis parfum) ketika suci dari haidnya (untuk ia oleskan di farjinya).

Perowi hadits ini Abdulloh bin Numair dan Yazid bin Harun meriwayatkan dari Hisyam, ia mengatakan: “…. kecuali sedikit qusth atau Azhfar (yang ia pakai) pada awal suci dari haidnya”.

———-
Sumber: Addariny – addariny.wordpress.com – Kamis,16 Juli 2009/23 Rajab 1430H

Print Friendly