10 Hari Pertama Dzulhijjah

10 Hari Pertama Dzulhijjah

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhum dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ أَيّامٍ اَلْعَمَلُ الصّالِحُ فِيْها أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيّامِ – يعني أيام العشر- قالُوْا: يا رسولَ اللهِ وَلاَ الْجِهادُ فِي سَبِيْل اللهِ؟ قالَ: ولا الجهاد في سبيل الله، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada satu haripun yang amalan saleh lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan padanya kecuali pada hari-hari ini -yakni 10 hari pertama Dzulhijjah-.” Mereka bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Walaupun jihad di jalan. Kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya lalu tidak ada sedikitpun darinya yang kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 969)
Dari Ummu Salamah radhiallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذا دَخَلَتِ الْعَشَرُ وَأَرادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمُسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئاً
“Jika 10 hari pertama Dzulhijjah sudah masuk sementara salah seorang di antara kalian berniat menyembelih (di hari id), maka janganlah dia menyentuh (baca: mencabut) rambut dan kulitnya sama sekali.” (HR. Muslim no. 1977)
Dalam sebuah riwayat:
فَلْيُمْسِكْ عَنْ شُعُوْرِهِ وَأَظْفارِهِ
“Hendaknya dia menahan (baca: tidak menggunting) rambut dan kukunya.”

Penjelasan ringkas:
Dari kedua hadits di atas, setidaknya ada dua hukum yang harus diperhatikan di tanggal 1 Dzulhijjah ini, yaitu:
1.    Disunnahkan untuk memperbanyak amalan saleh selama 10 hari pertama Dzulhijjah, baik itu di siang hari maupun di malam hari, baik dengan amalan yang wajib maupun dengan amalan sunnah, baik dengan amalan hati, lisan, maupun amalan anggota tubuh. Karena ibadah di 10 hari ini lebih baik daripada jihad di jalan Allah, kecuali jika yang berjihad itu meninggal di medan perang.

2.    Bagi yang berniat akan menyembelih pada hari raya idul adh-ha maka dia tidak boleh sedikitpun memotong rambutnya, memotong bulu pada tubuhnya, mencabut kulitnya, dan menggunting rambutnya. Larangan ini dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah dan berakhir dengan disembelihnya hewan kurbannya. Larangan ini hanya ditujukan kepada siapa yang berniat menyembelih, adapun yang tidak berniat menyembelih maka dia boleh melakukan apa yang dilarang dalam hadits di atas. Demikian pula jika yang menyembelih adalah ayah sebagai kepala keluarga, maka yang terkena larangan ini hanyalah dia, sementara istri dan anak-anaknya tidak terkena larangan ini karena bukan mereka yang akan menyembelih.

Share and Enjoy:


———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Minggu, 7 November 2010/30 Dzulkaidah 1431H

Print Friendly