Sebab-sebab Terjadinya Kesyirikan

Oleh: Ustadz Luqman Jamal

Banyak di antara kaum muslimin yang terjerumus di dalam kesyirikan dengan melakukan amalan-amalan tertentu yang mereka anggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah padahal justru merupakan sebab-sebab kesyirikan. Oleh sebab itu mohon penjelasan mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka!

Mengetahui sebab-sebab terjadinya kesyirikan adalah perkara yang sangat penting dalam rangka menghindarkan diri dengan sejauh-jauhnya darinya, sebab kesyirikan adalah dosa yang terbesar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengampuninya bila dia tidak bertaubat. Hal ini mewajibkan bagi seorang hamba untuk berhati-hati dan sangat takut kepada-Nya, dan membawanya untuk mengetahui dan menjauhinya, karena sesunguhnya dia (kesyirikan) adalah sejelek-jelek perkara dan kezholiman yang paling besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezholiman yang paling besar.” (QS. Luqman: 22)

Sebab-sebab kesyirikan sangatlah banyak, dan yang akan disebutkan adalah pokok-pokoknya yang mana dari pokok-pokok inilah kemudian sebab-sebab itu bercabang-cabang. Pokok-pokok itu antara lain

1. Berlebih-lebihan dalam memuji:

• Berlebih lebihan dalam memuji Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim dari hadits ‘Umar radhiyallahu ‘anhu:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ

“Janganlah kalian Ithro` kepadaku sebagaimana orang-orang Nashoro Ithro` terhadap ‘Isa bin Maryam, sesungguhnya saya hanyalah seorang hambaNya. Maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Ithro`adalah melampaui batas dalam memuji. Jadi maksud hadits di atas: “Janganlah kalian memujiku dengan melampaui batas sebagaimana Nashoro telah berlebih-lebihan dalam memuji ‘Isa bin Maryam sampai mereka mengangkatnya sebagai Ilah yang patut disembah, tapi sifatilah saya sebagai hamba-Nya dan Rasul-Nya sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati saya dalam Al Qur`an:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” (QS. Al Kahfi: 1)

Akan tetapi orang-orang musyrikin dari dahulu sampai sekarang tidak mau kecuali menyelisihi perintah beliau dan melanggar larangannya. Mereka mengagungkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dengan berlebihan dan melakukan hal-hal yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah larang dan peringatkan umatnya dari hal tersebut yaitu berlebihan dalam mengagungkan beliau. Mereka menyerupai orang-orang Nashoro yang berlebihan dalam memuji nabinya. Di antara bentuk kesyirikan dari jenis ini adalah perkataan Al Bushiry berupa syair di dalam Al Burdah, dia berkata:

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعُمَمِ

“Wahai Makhluq yang paling mulia, kepada siapa saya memohon perlindungan, kecuali kepadamu jika terjadi musibah yang besar”

Dan perkataannya yang lain:

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ الْلَوْحِ وَالْقَلَمِ

“Sesungguhnya dari kemulyaanmu lahir dunia dan pasangannya (akhirat) dan termasuk dari ilmumu ilmu Lauh Mahfudz dan Al-Qalam”

Bait-bait sya’ir seperti ini mengandung doa, permintaan dan perlindungan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan juga berisi permintaan untuk dihilangkan darinya kesempitan hidup dan kesengsaraan serta kerusakan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini bisa terjadi karena syaitan menghias-hiasi pada mereka. Syaitan menampakkan kepada mereka bahwa ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam yang walaupun itu merupakan syirik akbar adalah dalam rangka mencintai dan memujinya.Dia juga menampakkan bahwa berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu tidak berlebihan dalam memujinya adalah merupakan perbuatan membenci beliau shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, mengurangi haknya, enggan untuk bersholawat dan tidak memuliakan beliau shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Allahu Musta’an“.

• Berlebih-lebihan dalam memuji orang-orang sholeh.

Jika berlebih-lebihan dalam memuji Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam saja terlarang, maka berlebih-lebihan kepada selain beliau seperti orang-orang sholeh adalah jelas lebih terlarang lagi. Dan hal inilah yang merupakan penyebab kesyirikan pertama pada umat manusia, yaitu pada umat Nabi Nuh ‘alahis salam sebagaimana disebutkan dalam Al Qur`an dalam surah Nuh ayat 23:

وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr.”

Imam Bukhory mengeluarkan dalam Shohihnya (8/667) tentang tafsir ayat ini dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

ثُمَّ صَارَتْ الأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوْحٍ فِي العَرَبِ بَعْدُ. أَمَّا وَدُّ كَانَتْ لِكَلْبِ بِدَوْمَةِ الجَنْدَلِ, وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ, وَأَمَّا يَغُوْثُ فَكَانَتْ لِمُرَادِ ثُمَّ لِبَنِي غَطِيْفِ بِالجَوْفِ ثُمَّ سَبَأَ, وَأَمَّا يَعُوْقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانِ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرِ لآِلِ ذِي الكَلاَعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِيْنَ مِنْ قَوْمِ نُوْحٍ فَلَمَّا هَلَكُوْا أَوْحَى الشَيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصَبُوْا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوْا يَجْلِسُوْنَ أَنْصَابًا وَسَمُّوْهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوْا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَى إِذَا هَلَكَ أُوْلَئِكَ وَتَنْسَخُ العِلْمُ عُبِدَتْ

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Kemudian jadilah patung-patung yang ada pada kaumnya Nabi Nuh ‘alahis salam disembah di Jazirah Arab setelahnya. Adapun Wadd adalah patung kepunyaan Kalb di Daumatul Jundal. Adapun Suwa` adalah patung kepunyaan Hudzail. Adapun Yaguts adalah patung kepunyaan Murodi yang kemudian untuk Bany Ghotif di daerah Juf kemudian Saba`. Adapun Ya’uq adalah patung kepunyaan Hamdan. Adapun Nasr adalah patung kepunyaan Himyar khususnya keluarga Dzilkila’. (Kelima nama ini) adalah nama orang-orang shaleh dari kaumnya Nuh ‘alahis salam. Maka tatkala mereka (orang-orang shaleh) itu wafat, setan mempengaruhi kaumnya Nuh agar membuat patung-patung pada majelis-majelis mereka yang mereka biasa duduk padanya (dalam rangka untuk mengingat mereka), dan (setan juga mempengaruhi mereka) agar mereka menamakan patung-patung terrsebut dengan nama-nama orang shaleh tersebut. Maka merekapun (kaum Nuh) melakukannya. Dan ketika itu mereka (patung-patung itu) belum disembah. Akan tetapi tatkala orang-orang yang membuat patung tersebut telah meninggal dan ‘ilmu agama telah hilang, maka patung-patung itupun disembah.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini).

Yang dimaksud dengan berlebih-lebihan terhadap orang-orang shaleh adalah mengangkat mereka pada kedudukan yang tidak ada yang boleh mendudukinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti istighotsah tatkala terkena kesusahan atau tatkala ditimpa bencana, tawaf di kuburan mereka, tabarruk (mencari berkah) dari barang-barang peninggalan mereka, menyembelih di kuburan-kuburan mereka dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada mereka, meminta pertolongan padahal mereka telah meninggal, dan lain-lain.

Dan telah terjadi pula pada ummat ini seperti apa yang terjadi pada umatnya Nuh ‘alahis salam tatkala syaitan menampakkan kepada kebanyakan orang yang bahwa ghuluw (berlebih-lebihan) dan bid’ah-bid’ah adalah pengagungan terhadap orang-orang yang shaleh dan bukti kecintaan kepada mereka. Kemudian syaitan mempengaruhi mereka agar membangun kuburan-kuburan orang-orang shaleh itu, i’tikaf di situ dan menganggap do`a di tempat itu diterima . Kemudian meningkat lagi ke bentuk keharaman yang lebih tinggi bahkan sampai kepada kesyirikan, seperti berdo`a dan bertawassul kepada mereka. Kemudian berpindah lagi kepada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu mengajak manusia untuk beribadah kepada kuburan-kuburan tersebut dalam bentuk menjadikan hari-hari tertentu sebagai hari peringatan untuk mengunjungi kuburan-kuburan tersebut dan melaksanakan ibadah-ibadah tertentu padanya. Kalau semua hal di atas telah tetap dan mendarah daging, maka berpindah lagi kepada yang lebih jelek yaitu keyakinan bahwasanya barang siapa yang melarang perbuatan-perbuatan seperti itu, maka sesunguhnya dia adalah orang yang merendahkan derajat para wali serta membencinya. Mereka meyakini bahwa orang yang melarang perbuatan mereka adalah orang yang tidak memiliki penghormatan, pemuliaan dan pengakuan terhadap kedudukan para wali tersebut. Dan keyakinan ini telah menghujam kuat di dalam hati orang-orang awam yang bodoh, bahkan orang-orang yang dianggap mempunyai ilmu agama. Sehingga mereka memusuhi ahli tauhid dan menggelarinya dengan gelar-gelar yang buruk yang menyebabkan manusia lari dari ahli tauhid tersebut. Mereka memusuhi ahli tauhid dengan mengatasnamakan kecintaan dan pengagungan kepada orang-orang shaleh, padahal mereka itu berdusta karena mencintai orang-orang shaleh hakikatnya adalah sejalan dan sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah menurut pemahaman para Salaf Ash-Sholeh. Adapun caranya adalah dengan mengetahui keutamaan-keutamaan mereka dan mencontohnya dalam amalan-amalan yang sholeh tanpa meremehkan atau bersikap berlebih-lebihan terhadap mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 10:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

1. Ta’ashshub (fanatisme) terhadap peninggalan nenek moyang walaupun itu bathil dan menyelisihi yang haq khususnya dalam masalah aqidah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Az-Zukhruf ayat 23:

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلاَ قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا ءَابَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorangpun sebagai pemberi peringatan dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah (para pembesar) di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.”

Dan hujjah mereka ini dalam mengikuti nenek moyang telah terbantah oleh firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 170:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”

Keyakinan inilah yang merasuk dan tertanam dalam jiwa-jiwa kaum musyrikin dari dahulu hingga sekarang, sehingga mereka menentang dakwah para Nabi dan dakwah orang-orang yang mengikutinya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaumnya Nuh ‘alaihissalam:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ. فَقَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي ءَابَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)? Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kalian. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (QS. Al Mu`minun: 23-24)

• Dan lihat keadaan kaum Nabi Sholih ‘alaihissalam:

قَالُوا يَاصَالِحُ قَدْ كُنْتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَذَا أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُنَا

“Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?” (QS. Hud: 62)

• Juga perhatikan kaum Nabi Ibrahim ‘alahissalam:

قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا ءَابَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ

“Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (QS. Asy Syuara`: 73)

• Dan tentang orang-orang musyrikin Arab dan yang mengikuti mereka hingga kini berkata kepada Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan kepada orang-orang yang mengikuti beliau:

وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى ءَالِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ. مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلاَّ اخْتِلاَقٌ

“Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (meng-esakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (QS. Shod: 6-7)

Namun perku diketahui bahwa mengikuti nenek moyang kadang terpuji bila mereka berada di atas kebenaran sebagaimana nabi Yusuf mengikuti nenek moyangnya:

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ ءَابَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

“Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya`qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” (QS.Yusuf: 38)

Dan senada dengannya ayat 21 dari surat Ath-Thur.

2. Kejahilan atau kebodohan terhadap aqidah yang benar

Hal ini disebabkan karena keengganan untuk mempelajari aqidah yang benar dan mengajarkan nya atau sangat sedikitnya perhatian dan pemeliharaan terhadapnya sehingga melahirkan generasi yang tidak mengenal aqidah yang benar atau tidak mengenal hal-hal yang menyelisihi dan membatalkannya, sehingga pada akhirnya dia meyakini yang batil itu haq dan yang haq itu batil sebagaimana perkataan Umar Ibnu Khaththab radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya akan dicabut nilai-nilai keislaman sedikit demi sedikit jika di dalam Islam tumbuh dan berkembang orang-orang yang tidak mengenal jahiliyah.” Dan kebodohan ini merata dan merajalela di tengah-tengah masyarakat Islam. Di antara kebodohan tersebut misalnya pemahaman terhadap tauhid yang hanya terbatas pada tauhid Rububiyah saja seperti anggapan bahwa orang-orang musyrik dahulu dikatakan musyrik karena mereka meyakini patung-patungnya mampu menciptakan, memberi rezki, memberi manfaat dan mudarat dan selainnya. Anggapan ini adalah asal kesesatan mayoritas manusia dimana sebab mendasar dari tersebarnya pemahaman ini di kalangan manusia adalah falsafat Yunani yang tercela dan orang-orang yang mengambil ilmu dari mereka dari ahli kalam yang mereka itu memusatkan perhatian dalam menafsirkan kalimat tauhid dengan tafsiran tauhid Rububiyah saja.

Dan yang haq, yang tidak ada keraguan padanya dan dijadikan dasar penerapan oleh seluruh ulama dan sesuai dengan penjelasan Al Qur`an adalah bahwasanya orang-orang musyrik dahulu pada zamannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam meyakini Allah sebagai pencipta mereka dan pemberi rezki kepada mereka. Mereka menetapkan tauhid Rububiyah dalam perbuatan-perbuatan Allah seperti: mencipta, memberi rezki, mengatur urusan, menghidupkan, mematikan dan sebagainya, dimana mereka tidak meyakini sedikitpun adanya sesuatu yang menyamai Allah dalam perbuatan-perbuatan tersebut. Itulah yang dinamakan oleh para ulama sebagai tauhid Rububiyah. Akan tetapi mereka tidak mentauhidkan Allah dalam perbuatan-perbuatan mereka seperti: Berdo’a, meminta pertolongan, mengharap, menyembelih, bernadzar dan sebagainya yang para ulama menamakannya sebagai tauhid Uluhiyah atau tauhid Ibadah. Dan untuk memperjelas masalah ini maka perhatikanlah beberapa ayat dalam Al Qur`an yang menjelaskan dengan berbagai macam pendalilan yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin menetapkan tauhid Rububiyah sementara kesyirikan mereka adalah dalam tauhid Uluhiyah.

• Jenis yang pertama: Ayat-ayat yang menjelaskan tentang penetapan mereka terhadap tauhid rububiyah.

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Yunus ayat 31:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالاَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالاَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الاَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah: “Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

“Dan dalam surah Al Mu`minun ayat 84-89:

قُلْ لِمَنِ الاَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ. قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ. سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ. قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلاَ يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kalian tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Rabbnya langit yang tujuh dan Rabbnya `Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kalian tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kalian mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka bagaimana kalian bisa tertipu/tersihir?”

Dan lihat: Al-Ankabut: 61-63, Luqman: 25 dan Az-Zumar: 38.

Ayat-ayat tersebut menggambarkan keyakinan orang-orang musyrikin Arab dahulu dan orang-orang musyrik selain mereka yang menetapkan tauhid Rububiyah, kemudian dengan mengambil konsekwensi dari pengakuan mereka terhadap tauhid Rububiyah mereka dipojokkan dengan pertanyaan tentang pengingkaran mereka terhadap tauhid Uluhiyah. Lalu bagaimana dengan orang yang mengingkari tentang hal ini dan mengatakan bahwasanya orang-orang musyrikin tidak menetapkannya padahal Allah telah menceritakan penetapan mereka didalam Alquran .

• Jenis yang kedua: Ayat-ayat yang menjelaskan persaksian mereka tentang adanya sembahan-sembahan selain Allah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al An’am ayat 19 :

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ لأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ ءَالِهَةً أُخْرَى قُلْ لاَ أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kalian. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kalian mengakui bahwasanya ada sembahan-sembahan yang lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah sembahan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan (dengan Allah).”

Ayat yang mulia ini memberikan faedah bahwasanya orang-orang musyrikin mempersaksikan bahwasanya Allah adalah ilah (sesembahan) mereka, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya bersama Allah ada sembahan-sembahan yang lain. Persaksian mereka ini dikuatkan dengan sumpah, penguat dengan huruf anna dan dengan huruf lam. Maka lafadz ma’a pada firman Allah : أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ ءَالِهَةً أُخْرَى menunjukkan bahwasanya mereka menetapkan Rububiyahnya Allah dan sekaligus Uluhiyahnya, akan tetapi mereka menjadikan bersama Allah ilah-ilah yang lain. Maka kesyirikan mereka dari sisi penyekutuan mereka kepada ilah-ilah bersama Allah yang mereka menghadap kepada ilah-ilah itu dengan menjadikannya sebagai perantara untuk menghubungkan mereka kepada Allah, menyampaikan hajat dengan berdo’a kepada mereka. Ini adalah keyakinan dan agama mereka. Dan makna seperti ini terdapat di dalam Al Qur`an dalam ayat-ayat yang banyak. Dan diantaranya firman Allah dalam berapa ayat dalam surah An Naml ayat 60-64:

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ. أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ. أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ. أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِيْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ. أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)?. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar.”

Dan lihat surah Al-Hijr: 95 – 96.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al Qur`an apa yang diyakini oleh orang-orang musyrikin bahwasanya bersama Allah ada ilah-ilah (sembahan) yang lain. Mereka menetapkan RububiyahNya Allah dan UluhiyahNya akan tetapi menjadikan bersamaNya ilah-ilah yang lain dalam beribadah. Maka siapa yang memperhatikan dan mentadabburi ayat-ayat yang mulia ini, maka akan dibukakan baginya pintu-pintu ilmu yang membawanya kepada pemahaman yang shohih tentang aqidah yang shohih.

• Jenis yang ketiga:Ayat-ayat yang berisi pengakuan dan penetapan mereka atas kesyirikan mereka .

Diantaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-An’am ayat 148:

سَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ أَشْرَكُوْ لَوْ شَاءَ الله مَا أشْرَكَنَا وَ لاَ أبَائُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ

“Akan berkata orang-orang musyrikin: “Seandainya Allah menginginkan, maka kami tidak akan berbuat kesyirikan dan tidak pula bapak-bapak kami, dan tidak pulaa mengharamkan sesuatu apapun.”

Ayat ini memberikan faedah bahwasanya mereka menetapkan pada diri mereka kesyirikan dalam ibadah. Mereka mengakui dirinya berbuat kesyirikan dalam uluhiyah-Nya Allah pada saat mereka menetapkan RububiyahNya.

• Jenis yang keempat: Ayat-ayat yang menggambarkan bahwa terjadinya kesyirikan mereka adalah di saat senang/lapang.

Firman Allah dalam surah Al ‘Ankabut ayat 65:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, seketika mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).”

Dan perhatikan ayat yang semakna dengannya dalam surah Luqman: 32

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Yunus ayat 22:

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo`a kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan dalam ayat-ayat di atas bahwasanya orang-orang musyrikin yang mendustakan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan memerangi beliau, mereka tidak berbuat kesyirikan kecuali dalam keadaan lapang dan senang dan bukan dalam keadaan susah atau tertimpa bencana dan kesulitan. Mereka pada saat seperti itu mengikhlaskan Agama hanya kepada Allah, tidak berdo’a kepada selain-Nya dan tidak mengambil perantara antara dirinya dengan Allah. Maka bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwasanya orang-orang kafir itu musyrik dalam Rububiyah Allah tidak dalam ibadah kepada-Nya. Apakah mungkin mereka itu berdo’a dalam keadaan ikhlas ketika ditimpa bencana kalau mereka tidak meyakini Rububiyah dan Uluhiyah-Nya?

• Jenis yang kelima: Ayat-ayat yang menggambarkan penetapan mereka terhadap tauhid Rububiyah dan kesyirikan mereka dalam tauhid Uluhiyah:

Diantaranya adalah firman Allah dalam surah Yusuf ayat 106:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”

Iman mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ucapan mereka bahwasanya Allah adalah pencipta kami, pemberi rezki kepada kami, yang mematikan dan menghidupkan kami. Dan kesyirikan mereka adalah tatkala mereka menjadikan bagi Allah syarikat dalam ibadah dan berdo’a kepadaNya. Maka mereka tidak mengikhlaskan bag-Nya dengan meminta hanya kepada-Nya.Demikianlah tafsirnya menurut para ahli tafsir seperti: Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Qotadah, Atho’ dan yang lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim tentang ayat ini).

Adapun dalil-dalil dari As Sunnah yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin menetapkan tauhid Rububiyah adalah:

• Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam Shohih Muslim (2/4):

كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يُغِيْرُ إِذَا طَلَعَ الفَجْر,ُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ الأَذَانَ. فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ, وَإِلاَّ أَغَارَ. فَسَمِعَ رَجُلاً يَقُوْلُ: الله أكبر الله أكبر. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم: عَلَى الفِطْرَةُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ. فَنَظَرُوْا فَإِذَا هُوَ رَاعِيُ مُعْزِى.

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyerang jika telah terbit fajar. Dan beliau menunggu adzan, kalau beliau mendengar adzan, maka dia menahan (tidak menyerang). Dan kalau tidak, maka beliau menyerang. Maka beliau mendengar seseorang mengatakan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mengatakan: “Di atas fitrah.” Kemudian orang tadi berkata: “Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah.” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Kamu selamat dari neraka,” kemudian para shahabat melihat maka ternyata orang itu hanyalah seorang pengembala kambing.”

Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Di atas fitrah” kepada orang yang berkata: “Allahu akbar”, memberikan faedah bahwasanya perkataan orang ini dan apa yang ditunjukkannya berupa makna Rububiyah adalah merupakan suatu fitrah yang telah tetap bagi manusia, oleh sebab itu Rasulullah belum menghukuminya sebagai orang yang selamat dari neraka dan sebagai orang Islam kecuali setelah ucapannya “Asyhadu alla ilaha illallah”, syahadat yang mengandung pengingkaran kepada seluruh yang disembah selain Allah, dan itulah tauhid Uluhiyah.

• Dalam shohih Muslim (15/11 serta Syarh An-Nawawy) dari hadits ‘Amr Ibnu Asy-Syarid dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

رَدِفْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ: هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةِ بْنِ أَبِي الصَّلْتَ شَيْئًا ؟ قُلْتُ: نعم. قَالَ : هِيْهِ, فَأَنْشَدَتْهُ بَيْتًا فَقَالَ: هيه, ثُمَّ أَنْشَدَتْهُ بَيْتًا فَقَالَ: هيه حتى أنشدته مِائَةَ بَيْتٍ

“Saya membonceng Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam suatu hari, kemudian beliau berkata: “Apakah kamu menghafal sesuatu dari sya’ir ‘Umayyah Ibnu Abi Ash Shalt?”, saya menjawab “Iya”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata lagi: “Perdengarkan!”, maka sayapun memperdengarkan satu bait sya’ir. Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata: “Tambah lagi”, maka saya menambah lagi satu bait. Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata: “Tambah lagi”, sampai saya membawakan 100 bait.”

Dalam riwayat yang lain dari riwayat ‘Abdurrahman Ibnu Mahdy ada tambahan: “Dan sungguh-sungguh hampir dia Islam dengan sya’irnya”.

Maka perhatikan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Dan sungguh-sungguh hampir dia Islam dengan syairnya”, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak menghukumi baginya Islam dengan sekedar tauhidnya bahwasanya Allah pencipta, menghidupkan dan mematikan dan sebagainya, dan dia (‘Umayyah bin Abi Ash-Sholt) termasuk orang-orang kafir yang ada pada zamannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Kata Imam An-Nawawy: “Nabi meminta tambahan dari syair-syairnya karena didalamnya terkandung penetapan terhadap Rububiyah Allah dan hari kebangkitan.

Dan di antara sya’ir-sya’ir yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin Arab menetapkan tauhid Rububiyah semata antara lain:

• Sya’ir ‘Umayyah bin Abi Ash-Sholt:

الْحَمْدُ للهِ مَمْسَانَا وَمَصْبَحِنَا بِالخَيْرِ صَبَّحَنَا رَبِّي وَ مَسَّانَا

رَبِّ الحَنَفِيَّةِ لَمْ تَنْفُدْ خَزَائِنُهَا مَمْلُوْءَةً طِبْقَ الْآفَاقِ أَشْطَانَا

أَلاَّ نَبِيَّ لَنَا مِنَّا فَيُخْبِرُنَا مَا بَعْدَ غَايَتِنَا مِنْ رَأْسٍ هُجْرَانَ

Segala puji bagi Allah diwaktu petang dan pagi
Dengan kebaikan Rabb-ku diwaktu pagi dan petang
Tuhan yang Maha Hanif tidak pernah habis perbendaharaannya
Selalu penuh, memenuhi seluruh ufuk luasnya
Kenapa bukan Nabi dari kami yang mengkhabarkan kepada kami
Apa tujuan kami yang sebenarnya berpindah

Disarikan dari sumber-sumber berikut:

1. Al-Irsyad ila Tashih Al-I’tiqod karya Syeikh Doktor Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan
2. Hadzihi Mafahimuna karya Syeikh Doktor Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz Ali Syeikh
3. At-Ta’liqot ‘ala Kasyf Asy-Syubhat Karya Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin
4. Kitab At-Tauhid li As-Soff Al-Awwal Ats-Tsanawy. Cet. Wizaratul Ma’arif

Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Aqidah&article=40

———-
Sumber: Akhwat – akhwat.web.id – Minggu, 9 Maret 2008/1 Rabiul Awal 1429H

Print Friendly