SHOLATNYA MUSAFIR dll (ringkasan shohih muslim)

Bab: Musafir boleh meng-qoshor sholat (meskipun) dalam keadaan aman

(433) Ya’la bin Umayyah mengatakan: Aku pernah bertanya kepada Umar bin khottob (mengenai firman Alloh, yang artinya:) “Kalian tidak berdosa untuk men-qoshor sholat, jika kalian takut diserang oleh musuh yang kafir‘ (an-Nisa’:101), bukankah orang-orang sekarang dalam keadaan aman?!” Maka Umar pun mengatakan: “Aku juga merasa heran dengan apa yang kau herankan itu”. Kemudian aku menanyakannya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, dan beliau menjawab: “itu adalah salah satu kemurahan yang diberikan Alloh kepada kalian, maka terimalah pemberian-Nya!”.

(434)  Ibnu Abbas mengatakan: “Allah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi kalian -shollallohu alaihi wasallam-, empat rokaat ketika hadhor (tidak safar), dua rokaat ketika safar, dan satu rokaat ketika khouf (takut musuh, misalnya ketika perang).

Bab: Sholat Yang diqoshor Ketika Safar

(435) Anas bin Malik mengatakan: Aku pernah sholat Dhuhur di Madinah bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- sebanyak empat rokaat, kemudian aku sholat Ashar bersama beliau di Dzul Hulaifah sebanyak dua rokaat.

Bab: Meng-qoshor Sholat Pada Waktu Haji

(346) Anas bin Malik mengatakan: “Kami pernah berangkat bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dari Madinah menuju Mekah, (dalam riwayat lain, redaksinya: menuju haji). dan beliau shalatnya dua rekaat dua rekaat hingga pulang.” Aku (Yahya bin Abi Ishak, si perowi) bertanya: “Berapa lama beliau tinggal di Mekah?”. Dia (Anas) menjawab: “Sepuluh hari”.

Bab: Meng-Qoshor Sholat Ketika Berada Di Mina

(437) Ibnu Umar mengatakan: “Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu sholat di Mina sebagaimana sholatnya musafir. Begitu pula (sholatnya) Abu Bakar, Umar, dan Utsman (ketika di Mina), selama delapan tahun atau enam tahun”.

Hafsh (bin Ashim, si perowi) mengatakan: Ibnu Umar, dulu sholatnya di Mina sebanyak dua rokaat, kemudian langsung pergi ke tempat tidur. Aku pun menegurnya: “Wahai paman, bukankah sebaiknya anda sholat dua rokaat setelahnya?!”. Ia menjawab: “Jika aku melakukan hal itu, berarti aku melengkapkan sholat (menjadi empat rokaat, padahal sunahnya adalah meng-qoshor sholat menjadi dua rokaat)”.

Bab: Menjamak (mengumpulkan) dua sholat (dalam satu waktu) Ketika Safar

(438) Dari Anas: “Bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, jika bergegas dalam perjalanan, beliau mengakhirkan sholat dhuhur-nya sampai awal waktu sholat ashar, dengan mengumpulkan keduanya (dalam satu waktu), dan beliau (juga) mengakhirkan sholat maghrib-nya, lalu menjamaknya dengan sholat Isya’ ketika awan merah menghilang (yakni waktu sholat isya’)”.

Bab: Menjamak Dua Sholat Ketika Sedang Mukim (tidak safar)

(439) Ibnu Abbas mengatakan: “Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah menjamak Sholat Dhuhur dengan Sholat Ashar, dan (juga menjamak) Sholat Maghrib dengan Sholat Isya’, bukan karena udzur khouf (takut musuh, misalnya ketika perang), bukan pula karena udzur hujan”.

Di dalam riwayatnya Waki’ (ada tambahan redaksi): Aku (Sa’id bin Jubair) mengatakan: “Mengapa beliau melakukan hal itu?”. Ibnu Abbas menjawab: “Beliau ingin agar dirinya tidak menyulitkan umatnya”.

Bab: Sholat Di Rumah Ketika Hujan Turun

(440) Dari Ibnu Umar: Bahwa pada suatu malam yang dingin, ber-angin dan hujan, ia pernah mengumandangkan adzan. Lalu setelah selesai adzan ia mengatakan: “Perhatian, sholatlah kalian di rumah masing-masing! Perhatian, sholatlah kalian di rumah masing-masing!”.

Ia mengatakan: “Sesungguhnya dahulu Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam– jika cuaca malam dingin atau sedang turun hujan ketika safar,  beliau menyuruh muadz-dzin untuk mengatakan: ‘Perhatian, sholatlah kalian di tempat masing-masing’”.

Bab: Meninggalkan Sholat Sunat (Qobliyah dan Ba’diyah) Ketika Safar

(441) Hafash bin Ashim mengatakan: “Aku pernah menemani Ibnu Umar di tengah perjalanan menuju mekah, saat itu ia sholat dhuhur dua rokaat sebagai imam kami, lalu ia beranjak pergi, dan kami pun mengikutinya, lalu sampailah kami di tempat peristirahatannya, ia duduk di sana, dan kami juga ikut duduk bersamanya.

Ia kemudian menoleh sepintas ke arah tempat di mana ia tadi melakukan sholat, karena ia melihat orang-orang berdiri, ia pun bertanya: “Apa yang mereka lakukan?”. Aku menjawab: “Mereka sedang sholat sunat (ba’diyah)”. Ia menimpali: “Seandainya aku memilih untuk sholat sunat (rowatib), maka lebih baik aku lengkapkan sholatku (menjadi empat rokaat)!. Wahai anak saudaraku!  Sungguh aku pernah menemani Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dalam safarnya, dan beliau sholatnya tidak pernah lebih dari dua rokaat sampai beliau wafat. Aku juga pernah menemani Abu Bakar (dalam safarnya), dan sholatnya tidak pernah lebih dari dua rokaat sampai ia wafat. Aku juga pernah menemani Umar (dalam safarnya), dan sholatnya tidak pernah lebih dari dua rokaat sampai ia wafat. Kemudian aku juga pernah menemani Utsman (dalam safarnya), dan sholatnya juga tidak pernah lebih dari dua rokaat, sampai ia wafat. Padahal Alloh telah berfirman (yang artinya): “Sungguh telah ada pada diri Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagi kalian” (al-Ahzab:21).

Bab: Sholat Sunat di Atas Kendaraan Ketika Sedang Safar

Abdulloh bin Umar mengatakan: “(Saat sedang safar) Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- biasa sholat sunat di atas kendaraannya, kemana saja kendaraannya menghadap. Beliau juga (biasa) sholat witir di atas kendaraanya. Namun beliau tidak pernah melakukan sholat wajib (lima waktu) di atas kendaraannya”.

Bab: Sholat Sunat Dua Rokaat di Masjid, Ketika Datang Dari Safar

(443) Jabir bin Abdulloh mengatakan: “Aku pernah berangkat perang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, karena untaku jalannya berat dan lambat, akhirnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- sampai (di madinah) sebelum aku. Dan pagi harinya aku baru datang. Lalu aku mampir ke masjid dan kudapati beliau di pintu masjid, beliau menyapaku: “Kamu baru datang sekarang?”. Aku jawab: “Ya”. Beliau lalu mengatakan: “Tinggalkan dulu untamu, masuk (masjid) dan sholatlah dua rokaat!”. Jabir mengatakan: “Lalu aku masuk (masjid), sholat dan kembali (ke rumah)”.

Bab: Hadits-hadits Tentang Cara Sholat Khouf

(444) Jabir bin Abdulloh mengatakan: “Kami pernah perang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- melawan musuh dari Kabilah Juhainah, saat itu mereka melakukan perlawanan dengan sangat dahsyat. Ketika kami selesai sholat dhuhur, kaum musyrikin itu mengatakan: “Seandainya kita serbu mereka (ketika sedang shalat), kita pasti akan kalahkan mereka”. Maka Malaikat Jibril memberitahukan hal itu kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, lalu beliau menuturkannya kepada kami. Kata beliau, Kaum musyrikin itu mengatakan: “Sungguh akan datang waktunya sholat, yang mereka lebih mencintainya dari pada anak-anak mereka!”.

Setelah waktu sholat ashar tiba, maka kami membuat dua shof (untuk sholat), sedang posisi kaum musyrikin berada di depan kami, (yakni) di arah kiblat. Lalu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mulai takbirotul ihrom, dan kami pun (serentak) mengikutinya, beliau ruku’ dan kami juga (serentak) mengikutinya, lalu beliau sujud dan ikut sujud bersamanya orang yang berada di shof pertama. Ketika beliau berdiri, maka orang yang berada di shof kedua baru mulai sujud.

Lalu mereka yang berada di shof pertama mundur (ke shof kedua) dan mereka yang berada di shof kedua maju ke shof pertama. Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bertakbir untuk ruku’ dan kami pun mengikutinya. Beliau lalu sujud bersama shof pertama, sedang shof kedua tetap berdiri. Setelah itu shof kedua sujud, lalu mereka semua duduk (untuk tasyahud akhir). Kemudian Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- salam bersama mereka.

Abuz Zubair mengatakan: Kemudian Jabir menambahkan: “…sebagaimana sholat (khouf) yang dipraktekkan oleh para pemimpin kalian”.

Bab: Sholat Kusuf (Gerhana Matahari dan Bulan)

(445) Aisyah mengatakan: Pada zaman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah terjadi gerhana matahari, maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (bergegas) melakukan sholat (gerhana).

(Dalam sholat itu), beliau berdiri lama sekali. Lalu beliau ruku’ dengan sangat panjang (juga). Lalu beliau mengangkat kepala dan berdiri kembali dengan sangat lama, tapi tidak selama berdiri yang pertama. Beliau kemudian ruku’ lagi, dengan sangat lama, tapi tidak selama ruku’ pertama. Lalu beliau sujud.

Beliau berdiri lagi dengan sangat lama, tapi tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian ruku’ dengan sangat lama, tapi tidak selama ruku’ yang pertama. Lalu beliau mengangkat kepala dan berdiri lagi dengan sangat lama, tapi tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian beliau ruku’ lagi dengan sangat lama, tapi tidak selama ruku’ yang pertama. Beliau kemudian sujud.

Kemudian Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam– menyelesaikan sholatnya, dalam keadaan matahari telah bersinar terang. Setelah itu beliau berkhutbah di hadapan para jamaah, beliau (memulai khutbah itu dengan) menghaturkan pujian dan sanjungan kepada Alloh, diteruskan dengan sabdanya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Alloh, dan keduanya tidaklah mengalami gerhana, karena adanya kematian atau kelahiran seseorang. Oleh karena itu, apabila kalian melihatnya (lagi), maka lakukanlah takbir, doa, sholat (gerhana) dan sedekah!

Wahai Umat Muhammad, sungguh tidak ada yang lebih cemburu melebihi Alloh, kepada hambanya yang berzina, baik pria maupun wanita! Wahai Umat Muhammad, sungguh demi Alloh, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, tentunya kalian akan banyak tangisnya dan sedikit tawanya. Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan?!”.

Dalam riwayat Abu muawiyah ada tambahan redaksi: “Amma ba’du” sebelum sabda beliau: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebagian dari tanda-tanda kebesara Alloh”. Di dalam riwayatnya juga ada tambahan redaksi: “Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya” sebelum sabda beliau “Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan?!”

(446) Ibnu Abbas mengatakan: “Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah sholat ketika terjadi gerhana matahari, dengan delapan ruku’, dan empat kali sujud”.

Bab: Sholat Istisqo’ (minta turun hujan)

(447) Dari Abdulloh bin Zaid al-Anshori: “Bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pernah keluar ke musholla (tempat lapang) untuk melaksanakan sholat istisqo’. Dan ketika hendak berdoa, beliau menghadap kiblat dan membalikkan rida’nya, kemudian sholat dua rokaat.

(448) Anas mengatakan: “Kami pernah diguyur hujan ketika sedang bersama Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- pun membuka (sebagian) pakaiannya, agar (sebagian) badannya terkena hujan. Kami lalu menanyakan: “Wahai Rosululloh, mengapa engkau lakukan hal itu?”. Beliau menjawab: “Karena air hujan tersebut baru saja diturunkan oleh Tuhannya”.

Bab: Mohon Perlindungan Ketika Melihat Angin (Kencang) Dan Mendung. Merasa Senang Karena Turun Hujan

(449) Aisyah -istri Rosululloh shollallohu alaihi wasallam– mengatakan: “Dahulu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, jika ada angin bertiup kencang, beliau mengucapkan doa: ” (اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ)  (Artinya: Ya Alloh, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan sesuatu yang dibawanya, dan kebaikan tujuan dihembuskannya. (Sebaliknya) aku berlindung kepadamu dari kejelekan angin ini, kejelekan sesuatu yang dibawanya dan kejelekan tujuan dihembuskannya).

Aisyah mengatakan (lagi): “Dan apabila langit diselimuti mendung gelap dengan kilat dan petir, wajah beliau berubah (cemas), sehingga beliau (mondar-mandir) keluar masuk rumah, ke depan, dan ke belakang. Tetapi apabila sudah turun hujan, beliau merasa senang, dan aku mengetahui hal itu dari raut wajahnya”.

Aisyah mengatakan (lagi): “Maka aku pun menanyakan hal itu kepadanya”. Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, aku khawatir jika keadaannya seperti apa yang dikatakan kaum ‘Aad (dalam firman-Nya, al-Ahqof:24): “Maka ketika melihat awan (azab) yang menuju ke lembah-lembah, mereka mengatakan: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita’.”

Bab: Tentang Angin Barat dan Angin Timur

(450) Dari Ibnu Abbas r.a.: Bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Aku mendapat kemenangan dengan angin timur, sedangkan Kaum ‘Aad, mereka dibinasakan dengan angin barat”.


Sholat khouf adalah sholat yang dilakukan ketika ada udzur rasa takut yang sangat, misalnya ketika perang menghadapi musuh, takut banjir, takut kebakaran, takut kejaran hewan buas, takut perampok, dll. (lihat: Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah 27/215-216)

Syikh Albani mengatakan: “Ringkasnya, cara sholat khouf yang benar dan datang dari sanad yang shohih dari Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam– adalah dengan dua ruku’ pada setiap rokaatnya. Keterangan ini datang dari sekelompok besar sahabat, dalam banyak kitab, sanad, dan riwayat yang paling shohih. Sedangkan cara selain itu, maka kemungkinan riwayatnya itu lemah atau syadz (ganjil), yang tidak dapat dijadikan sebagai sandaran hukum”. (al-Irwa’ 3/132)

Alih bahasa oleh Addariny, selesai di Madinah, 3 Juli 2009


———-
Sumber: Addariny – addariny.wordpress.com – Jumat, 3 Juli 2009/10 Rajab 1430H

Print Friendly