Duduk Tasyahud

Duduk Tasyahud

Dari Aisyah -radhiallahu’anha- dia berkata:
وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ
“Beliau membaca ‘tahiyyat’ pada setiap dua raka’at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkkan kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan beliau melarang seseorang menghamparkan kedua dzira’ sebagaimana binatang buas menghamparkannya. Dan beliau menutup shalatnya dengan salam.” (HR. Muslim no. 498)
Duduknya setan yang dimaksud adalah: Seseorang menegakkan kedua betisnya lalu duduk di atas pantatnya dan meletakkan kedua tangannya di atas tanah. Ini adalah penafsiran Abu Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna, Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallaam, dan selainnya. Lihat Aun Al-Ma’bud (2/348)
Maksud menghamparkan dzira’ (ujur jari tengah sampai siku) adalah merapatkannya ke tanah.
Dari Abu Humaid As Sa’idi -radhiallahu anhu- dia berkata:
فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
“Apabila beliau duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau mengedepankan (baca: memasukkan) kaki kirinya (di bawah kaki kanannya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya (lantai).” (HR. Al-Bukhari no. 828)
Dari Abdullah bin Az-Zubair -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ
“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dalam shalat, maka beliau memasukkan kaki kirinya di antara pahanya dan betisnya, serta menghamparkan telapak kaki kanannya, sambil meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, lalu beliau memberi isyarat dengan jari (telunjuk) nya.” (HR. Muslim no. 579)

Penjelasan ringkas:
Dalam shalat, ada dua duduk tasyahud yang disyariatkan: Duduk tasyahud awal yaitu yang terletak pada rakaat kedua dan duduk tasyahud akhir yang terletak pada rakaat terakhir. Persamaan antara keduanya adalah bahwa tangan kanan di letakkan di atas lutut kanan dan tangan kiri di atas lutut kiri, lalu berisyarat dengan jari telunjuk.

Adapun perbedaan di antara keduanya, maka para ulama menyebutkan beberapa perbedaan sebagai berikut:
1.    Duduk tasyahud awal (pada rakaat pertama) adalah kewajiban shalat, sementara duduk tasyahud terakhir adalah rukun shalat.
2.    Karenanya meninggalkan tasyahud awal -baik sengaja maupun tidak- tidaklah membatalkan shalat, akan tetapi cukup ditutupi dengan sujud sahwi kalau memang dia meninggalkannya karena lupa. Adapun jika sengaja maka dia telah berdosa dan tidak perlu ditutupi dengan sujud sahwi.
3.    Cara duduk pada tasyahud pertama adalah dengan duduk iftirasy, yaitu menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri lalu duduk di atasnya (kaki kiri). Sementara dalam tasyahud akhir, ada dua cara duduk yang tersebut dalam sunnah:
a.    Menegakkan kaki kanan lalu memasukkan kaki kiri di bawah betis, dan duduknya di lantai.
b.    Menegakkan kaki kanan lalu memasukkan kaki kiri di antara betis dan paha, dan duduknya di lantai.
4.    Perbedaan keempat akan disebutkan pada artikel ‘Bacaan Dalam Tasyahud’ selanjutnya.

———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Senin,22 Maret 2010/6 Rabiul Akhir 1431H

Print Friendly