Pertempuran antara Tauhid dengan Syirik (2)

Oleh : Al-Ustadz Abul Mundzir Dzul-Akmal As-Salafy

2. Selanjutnya datanglah para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam sesudah Nabi Nuh `Alaihis Sallam, yang mereka tetap menyeru kaumnya untuk ber`ibadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta`aala saja, dan meninggalkan seluruh bentuk per`ibadatan dalam bentuk peng-agungan, pensucian dan pengkultusan selain kepada Allah Jalla wa `Alaa. Padahal seluruh bentuk makhluq tersebut tidak pantas untuk di`ibadati, dimana al Quraan telah menjelaskan kepada kita dalam surat al A’raaf : (65).

Allah Subhaanahu wa Ta`aala berfirman:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Artinya : “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Aad saudara mereka Hud `Alaihis Sallam. Ia berkata: “Hai kaumku, ber`ibadatlah kepada Allah!, sekali kali tidak ada Ilaah bagi kalian selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Al A’raaf : 65).

Berkata al Imam as Sa’adiy Rahimahullahu ketika menafsirkan ayat yang mulia ini :
”Dan (Kami telah mengutus) kepada `Aad”. `Aad generasi pertama, mereka tinggal di negeri Yaman, (saudara mereka) dalam segi keturunan Hud `Alaihis Sallam menyeru mereka kepada Tauhid, dan melarang mereka dari kesyirikan, berbuat kema`siatan di muka bumi dan berkata Hud `Alaihis Sallam kepada mereka: “Hai kaumku, ber`ibadahlah kalian kepada Allah!, sekali kali-tidak ada Ilaah (yang di`ibadati) bagi kalian selain-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertaqwa juga kepada-Nya?” Daripada kemurkaan dan `adzab-Nya?, tatkala di`adili kalian atas perbuatan yang kalian lakukan, mereka tidak juga mengikuti dan tunduk kepada seruan Rasul-Nya `Alaihis Sholaatu was Salaam.” [1]

Allah Tabaaraka wa Ta`aala berfirman :
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

Artinya :“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Sholeh `Alaihis Sallam. Sholeh `Alaihis Sallam berkata: “Hai kaumku, `ibadatilah Allah!, sekali-kali tidak ada bagimu Ilaah (ma`buud/yang di`ibadati) selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pema`murnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat lagi memperkenankan (do`a hamba Nya).” (QS. Hud: 61).

Berkata al Imam `Abdurrahmaan as Sa’diy Rahimahullah Jalla wa `Alaa :

“(Dan kepada Tsamud (Kami utus) Sholih `Alaihis Sallam.” Sampai akhir kisah mereka; artinya: (dan) Kami telah mengutus (kepada Tsamud), mereka adalah kaum `Aad generasi kedua, yang ma`ruuf (dikenal) mereka bertempat tinggal di al Hijr, dilembah al Qurra, maksudnya (saudara mereka) satu keturanan dengan (Sholih `Alaihis Sallam) hamba Allah Subhaana wa Ta`aala dan RasulNya, dimana dia menda`wahi/mengajak mereka untuk ber`ibadah kepada Allah saja, maka dia berkata kepada kaumnya : “(Hai kaumku, ber`ibadahlah kepada Allah!)”; artinya : Ber`ibadahlah kepada-Nya saja, dan ikhlaskanlah seluruh bentuk per`ibadatan semata-mata hanya kepada-Nya. “(Sekali-kali tidak ada Ilaah bagi kalian selain Dia)”, tidak dari penduduk langit, maupun penduduk bumi.” [2]

Alloh Subhaana wa Ta`aala berfirman :
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
Artinya : “Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib `Alaihis Sallam , dia berkata : “Hai kaumku ber`ibadahlah kepada Allah, sekali-kali tiada Ilaah (ma`buud/yang di`ibadati) bagimu selain Dia.” (QS. Hud : 84).

Berkata al Imam `Abdurrahmaan as Sa’diy Rahimahullahu Jalla wa `Alaa :

“Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus).” Yaitu qabilah yang dikenal, mereka tinggal di Madyan, dipinggiran Palestina; (saudara) mereka, satu garis keturanan. Maksudnya; (Syu’aib `Alaihis Sallam), sebab mereka telah mengenalnya, agar mereka lebih kokoh untuk mengambil manfa`at darinya, maka ia berkata kepada mereka : “(Hai kaumku ber`ibadahlah kepada Allah!, sekali-kali tidak ada Ilaah bagi kalian selain Dia).” Maksudnya : “Agar kalian meng-ikhlaskan seluruh per`ibadatan kepada-Nya saja, sebab mereka dalam keadaan melakukan kesyirikan kepada-Nya, sekaligus mereka berlaku curang terhadap ukuran dan timbangan, maka oleh karena itulah mereka diingatkan : “(Jangan sekali-kali mengurangi timbangan dan neraca!),” bahkan tunaikan timbangan dan neraca secara adil.” [3]
Allah Subhaana wa Ta`aala berfirman :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ
إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya : “Dan ingatlah ketika Ibrahim `Alaihis Sallam berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kalian `ibadahi, tetapi aku ber`ibadah kepada Robb yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku, Dan Ibrahim menjadikan kalimat Tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat Tauhid itu.” (QS. Az Zukhruf : 26-28).

Berkata al Imam as Sa’diy Rahimahullahu Ta`aala ketika menafsirkan ayat yang mulia ini :

“(Dan ingatlah ketika Ibrohim `Alaihis Sallam berkata kepada bapaknya dan kaumnya)”, mereka yang telah menjadikan selain Allah Ilah-Ilah (ma`buudaat)- yang di`ibadati dan bertaqarub kepadanya. “(Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian `ibadati)”: aku membencinya, menjauhi dan memusuhi para pelakunya, “(tetapi aku ber`ibadah kepada Robbku yang telah menjadikanku)”, maka aku berikan kecintaanku kepada-Nya saja, aku berharap agar Dia memberikan petunjuk bagiku diatas `ilmu dengan kebenaran, dan ber`amal denganya, sebagaimana Dia telah menciptakanku dan mengatur seluruh kebajikan bagi badanku dan duniaku, “(Dia akan memberikan hidayah bagiku),” untuk kemaslahatan duniaku dan akhiratku. ” [4]

Sudah merupakan Sunnatullahi, dimana terjadinya penentangan dari kaum musyrikin, khurafiyiin, ahlul bid`ah, shufiyiin terhadap ad Da`watus Salafiyah yang mubaarakah ini, mulai di zaman para Nabi dan Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam sampai hari ini dan sampai akhir zaman. Jangan kita membayangkan bahwa da`wah tersebut sama dengan membentangkan permadani, tanpa ada hambatan dan rintangan, sebab para Nabi `Alaihimus Sholaatu was Salaam telah menghadapi ummat mereka dengan hal yang sama.

Sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta`aala berfirman :
((وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلّ نِبِيّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنْسِ وَالْجِنّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً وَلَوْ شَآءَ رَبّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ)). الأنعام : (112).
Artinya : “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon syaithon dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebahagian mereka membisikan kepada sebahagian yang lainnya perkataan-perkataan yang indah indah untuk menipu manusia. Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada adakan.” (QS. An An`aam : 112).

Berkata asy Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy dalam menafsirkan ayat ini :

“Allah Jalla wa `Alaa berkata:- menghibur Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam- sebagaimana Kami telah menjadikan bagi engkau musuh-musuh yang akan menentang da`wah kamu, memerangimu, dan akan hasad kepadamu, ini merupakan Sunnah Kami, untuk Kami ciptakan musuh-musuh bagi setiap Nabi yang Kami utus kepada seluruh makhluq, dari kalangan syayaathiin yang berbentuk manusia dan jin, yang akan menentang apa-apa yang dibawa oleh para Rasul `Alaihis Sholaatu was Salaam.

“Sebahagian mereka membisikan kepada sebahagian yang lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” Maksudnya sebahagian mereka atas sebahagian lainnya menghiasi ajaran yang mereka seru kepadanya, dari bentuk kebathilan, dan kemudian dihias-hiasinya dengan ungkapan-ungkapan yang indah, sampai betul-betul mereka posisikan dalam bentuk gambaran yang sangat indah, dengan tujuan agar orang-orang bodoh tertipu, dan supaya tunduk padanya orang-orang dungu, yang mereka sama sekali tidak memahami haqiqat sebenarnya, dan tidak mengerti tentang ma`na-ma`na yang ada.

Bahkan mena`jubkan mereka lafazh-lafazh yang dihiasi, dan ungkapan-ungkapan yang menipu, sehingga mereka beri`tiqad (berkeyakinan) yang haq itu bathil, dan yang bathil adalah haq.” [5]
((وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلّ نَبِيّ عَدُوّاً مّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَىَ بِرَبّكَ هَادِياً وَنَصِيراً)). سورة الفرقان (31).
Artinya : “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong.” (QS. Al Furqaan : 31).

Berkata asy Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala :
Ma`nanya : dari kalangan orang-orang yang tidak pantas untuk kebajikan, dan tidak membersihkan diri mereka dengan kebajikan itu, merekalah menentang, menolak dan membantah para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam tersebut dengan cara bathil.

Diantara faedah demikian ialah : Tingginya al Haq (kebenaran) di atas kebathilan, supaya nampak kebenaran itu, juga akan jelas kebenaran itu dengan kejelasan yang agung karena penentangan kebathilan terhadap kebenaran diantara penyebab akan bertambah jelas dan terangnya kebenaran itu, akan sempurnya juga bentuk pendalilan, kemudian akan lebih jelas juga bagi kita apa yang akan dilakukan Allah Tabaaraka wa Ta`aala atas pengikut kebenaran dari bentuk karaamah/kemuliaan, dan dengan pengikut kebathilan dalam siksaan. Maka janganlah kamu bersedih dan jangan pula merasa pesimis.

“Dan cukuplah Rabbmu sebagai Pemberi petunjuk,” maksudnya menunjuki engkau, sehingga kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, dalam bentuk kemashlahatan bagi Din (Agama)mu dan duniamu.

“Penolong,” ma`nanya Dia akan menolongmu dari musuh-musuhmu, dan akan menjauhkan dari kamu seluruh bentuk kejelekkan, dari bentuk urusan Din dan dunia, maka cukuplah Allah Jalla wa `Alaa yang Maha Mampu untuk melakukan demikian, dan bertawakkallah kepadaNya. [6]
———————————-

[1] “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan”, oleh asy Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy.
[2] “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan”, asy Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy.
[3] “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan,” asy Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy.
[4] “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan”, asy Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy.
[5] “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan,” oleh asy Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy.
[6] “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan,” oleh asy Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy.

Sumber : Buletin Jum’at Ta’zhim As-Sunnah Edisi 9 Jumadi Tsani 1428 H; URL sumber: http://tazhimussunnah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=21&Itemid=30

———-
Sumber: Akhwat – akhwat.web.id – Selasa, 2 Juni 2009/8 Jumadil Akhir 1430H

Print Friendly