Dimana Allah?

Dimana Allah?

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Ustadz setelah membaca di beberapa tulisan tentang dimana Allah,tolong jelaskan kepada kami tentang itu berdasarkan dalil yang jelas agar umat ini kembali kepada aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal jama’ah..

jazakallah khoiron

Agus [bustomi.agus@yahoo.co.id]

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Berikut potongan tulisan dari ust. Luqman Jamal hafizhahullah dalam majalah An-Nashihah edisi I, dengan judul ‘Dimana Allah’:

Allah Jalla fii ‘Ulahu yang menciptakan kita mewajibkan kepada kita untuk mengenal dan mengetahui di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berada sehingga hati-hati kita menghadap/mengarah kepada-Nya, demikian pula ketika berdo’a dan beribadah khususnya ketika sholat. Siapa yang tidak mengenal Rabbnya maka dia berada dalam keadaan tersesat, karena tidak tahu dimana beradanya yang dia sembah, dan dia juga tidak akan bisa menegakkan ibadah dengan sebaik-baiknya, bahkan dia tidak tahu siapa Ilah yang dia sembah.

Salah satu cara untuk mengenal dimana Allah adalah dengan mengenal sifat-sifat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan masalah dimana Allah. Kemudian menetapkan dan meyakininya dengan sebenar-benarnya. Keyakinan dimana Allah termasuk masalah besar yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya yaitu penetapan sifat Al-‘Uluw (sifat ketinggian Allah Azza wa Jalla dan bahwa Dia di atas seluruh makhluk), ketinggian yang mutlak dari segala sisi dan penetapan Istiwa`-Nya di atas Al-Arsy, berpisah dan tidak menyatu dengan makhluk-Nya. Namun perlu diketahui bahwa penetapan sifat Al-‘Uluw dan sifat Al-Istiwa` sama dengan penetapan seluruh sifat Allah yang lainnya, yaitu harus berjalan di atas dasar penetapan sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya. Sebagaimana dalam Firman-Nya :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy-Syura : 11)

Dan dalam ucapan Imam Malik yang sangat masyhur ketika beliau ditanya tentang sifat Al-Istiwa`, maka beliau menjawab :

الْإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Al-Istiwa` bukan tidak diketahui (baca : telah dimaklumi), kaifiyatnya (gambaran bentuk/caranya) tidak bisa digapai dengan akal, mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”.

Maka tidak ada yang mengetahui kaifiat ketinggian-Nya kecuali Allah Al-‘Aliyyu Al-‘Azhim sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dan dalil-dalil yang menunjukkan penetapan sifat ini sangatlah banyak, sangat lengkap dan jelas, baik dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, ijma, akal dan fitrah sehingga para ulama menganggapnya sebagai perkara yang harus diketahui secara darurat dalam agama yang agung ini.

 

Disyari’atkan Bertanya Dimana Allah

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ : كَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍِ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ آسِفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِيْ بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamy radiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Saya mempunyai seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing-kambingku di arah gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (sebelah utara Madinah). Maka suatu hari (ketika) saya mengontrol ternyata seekor serigala telah membawa (memangsa) seekor kambingku -dan saya adalah seorang lelaki dari anak Adam- sayapun marah sebagaimana (umumnya) anak Adam. Tetapi saya memukulnya dengan sekali pukulan. Lalu saya mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Maka beliau menganggap besar hal tersebut atasku, saya berkata : Wahai Rasulullah, bolehkah saya memerdekan dia ?. Rasulullah menjawab : “Datangkanlah dia”, maka saya mendatangkannya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya : “Dimana Allah?”. Dia menjawab : “Di atas langit”. Dan beliau bertanya (lagi) : “Siapakah aku?”. Dia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”. Kemudian beliau bersabda : “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”. ( HR. Muslim no. 537)

Beberapa hukum dan faidah berkaitan dengan hadits.

Imam Al-Hafidz Ad-Darimy (wafat 280 H) menyebutkan beberapa faedah dari hadits diatas, diantaranya :

@      Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang jika dia tidak tahu bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla ada di atas langit bukan di bumi maka tidaklah ia dikatakan beriman. Tidakkah kamu perhatikan bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menjadikan tanda keimanan budak tersebut dengan pengetahuannya bahwasannya Allah berada di atas langit.

@      Dan sabda beliau : “’Dimana Allah?”, membongkar kebodohan orang yang berkata bahwa Allah ada di mana-mana. Karena sesuatu yang ada pada semua tempat mustahil untuk dikatakan “di mana dia ?”. Dan tidak dikatakan “dimana” kecuali pada sesuatu yang berada di tempat tertentu.

@      Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana yang disangka oleh orang-orang yang menyimpang tersebut maka pasti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam akan mengingkari ucapan budak perempuan tersebut, Tapi Rasulullah justru membenarkannya dan mempersaksikan keimanannya.

@      Dan seandainya Allah ada di bumi sebagaimana Allah berada di atas langit, maka tidaklah sempurna keimanan budak perempuan tersebut sampai dia mengetahui bahwa Allah berada di bumi sebagaimana dia mengetahui bahwa Allah berada di atas langit.

@      Ketika ‘Abdullah ibnul Mubarak ditanya : “Bagaimana kita mengenal Robb kita?”, beliau menjawab : “Bahwasanya Allah berada di atas langit yang ketujuh di atas Arsy berpisah dari makhluk-Nya”.

@      Dan ini sangat sesuai dengan pertanyaan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kepada budak wanita tersebut : “Dimana Allah?”, Nabi menguji keimanannya dengan pertanyaan tersebut. Maka tatkala dia menjawab : “Di atas langit”, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”.

(Lihat Ar-Radd ‘alal Jahmiyah hal. 64-67, tahqiq Badr Al-Badr)

@       Berkata Imam Abu Muhammad Al-Juweiny Asy-Syafi’iy (wafat th. 438 H.) : Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam hadits yang shohih (hadits di atas -pent.) kepada budak perempuan : “Dimana Allah ?”, dia menjawab : “Di atas langit”. Dan beliau tidak mengingkari budak tersebut dihadapan para shahabatnya supaya tidak timbul anggapan yang menyelisihi jawaban tersebut, bahkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menetapkannya dan bersabda : “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”. (Lihat : Majmu’atur Rosa`il Al-Muniriyah 1/176).

@      Berkata Imam Adz-Dzahaby (wafat th. 748 H.) : Hadits ini adalah hadits yang shohih dikeluarkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, An-Nasa`i dan Imam-Imam lainnya dalam karya-karya mereka. Mereka memahami apa adanya tanpa ta`wil (memalingkan dari makna sebenarnya tanpa dalil,-pent.) dan tidak pula merubah-rubah. Dan demikianlah kami melihat, semua orang yang ditanya “Dimana Allah ?” maka akan menjawab dengan tepat sesuai dengan fitrahnya bahwasanya Allah berada di atas langit.

Dalam hadits ini ada dua perkara yang penting :

  1. Disyari’atkannya ucapan seorang muslim untuk bertanya : “Dimana Allah ?”.
  2. Disyari’atkan jawaban yang ditanya : “Di atas langit”.

Maka siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia mengingkari Al-Musthofa shollallahu ‘alaihi wa sallam.

(Lihat Mukhtashor Al-‘Uluw hal. 81).

 

Makna Al-‘Uluw Dan Al-Istiwa` Serta Perbedaan Antara Keduanya

Pengertian Al-‘Uluw secara bahasa adalah bermakna As-Samuw (diatas) dan Irtifa (ketinggian).

(lihat : Mu’jam Maqayis Al-Lughoh 4/122 karya Ibnu Faris).

Kata Al-‘Uluw menurut para ulama dalam nash Al-Qur`an dan Sunnah tidak keluar dari tiga makna :

1.       ‘Uluwudz Dzat (Ketinggian Dzat)

Di katakan : Fulan ‘Uluw di atas gunung, yaitu apabila ia berada diatasnya.

2.       ‘Uluwul Qahr (Ketinggian kekuasaan dan keperkasaan).

‘Uluw jenis ini menunjukkan makna keagungan dan kesombongan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ‘Uluw (menyombongkan diri) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Qoshosh : 83)

3.       ‘Uluwul Qadr (Ketinggian derajat/kekuatan).

Dan kata Al-‘Uluw secara umum di mutlakkan pada ketinggian yang merupakan lawan dari kerendahan atau di bawah.

 

Adapun Al-Istiwa` secara bahasa, ada beberapa penggunaan :

  1. Apabila Al-Istiwa` tidak Muta’addi maka ia bermakna lengkap dan sempurna. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا

“Dan setelah Musa cukup umur dan telah Istiwa` (sempurna akalnya), Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan”.” (QS. Al-Qoshosh : 14)

  1. Dan apabila Al-Istiwa` Muta’addi maka Al-Istiwa` tidak lepas dari empat makna :

@      Al-‘Uluw : Tinggi.

@      Al-Irtifa : Tinggi.

@      Al-Istiqrar : Menetap (di atas ketinggian).

@      Al-Sho’ud : Naik (di atas).

 

Perbedaan antara sifat Al-‘Uluw dan Al-Istiwa`:

Para ulama menyebutkan beberapa perbedaan antara keduanya :

  1. Al-Istiwa` termasuk sifat-sifat yang ditetapkan hanya dengan perantara nash baik Al-Qur`an maupun As-Sunnah dalam artian kalau Allah tidak mengabarkan tentang Istiwa`-Nya maka kaum musliminpun tidak mengetahuinya, berbeda dengan Al-‘Uluw yang dapat ditetapkan secara nash, akal maupun fitroh. Lihat Al-Fatawa 5/122, 152 dan 523.
  2. Al-Istiwa` termasuk sifat Fi’liyah (perbuatan) yang Allah bersifat dengannya sesuai dengan kehendaknya. Adapun Al-‘Uluw adalah sifat Dzatiyah yang terus-menerus Allah bersifat dengannya.
  3. Al-Istiwa` adalah bagian dari Al-‘Uluw namun Al-Istiwa` lebih khusus darinya atau dengan kata lain Al-Istiwa` adalah Al-‘Uluw yang khusus.

 

———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Jumat,27 Mei 2011/23 Jumadil Akhir 1432H

Print Friendly