Tathayyur (Pamali) Adalah Syirik

Tathayyur (Pamali) Adalah Syirik

Dari Anas -radhiallahu ‘anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah. Dan yang menakjubkanku adalah al-fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5756 dan Muslim no. 2224)

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا

“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3528)

Penjelasan ringkas:

Thiyarah atau di negeri kita biasa disebut pamali merupakan salah satu dari bentuk-bentuk kesyirikan yang tersebar luas di masyarakat, sampai-sampai tidaklah ada satu daerah kecuali mempunyai tathayyur sendiri yang terkadang berbeda dengan daerah lainnya.

Thiyarah dihukumi kesyirikan berdasarkan kaidah yang telah kita pernah singgung sebelumnya pada pembahasan jimat, yaitu: Menjadikan sesuatu menjadi sebab padahal dia bukanlah sebab syar’i dan bukan pula sebab kauni adalah kesyirikan, maka itu adalah syirik asghar. Misalnya meyakini bahwa adanya burung gagak di atas sebuah rumah menunjukkan akan ada hal jelek yang akan menimpa penghuninya. Burung gagak bukanlah sebab syar’i dari timbulnya musibah, yakni syariat tidak pernah menerangkan kalau itu merupakan sebab datangnya musibah. Dan dia juga bukanlah sebab kauni dari timbulnya musibah, maksudnya sama sekali tidak ada hubungan sebab akibat antara burung gagak dan musibah. Karenanya menjadikan gagak sebagai sebab datangnya musibah merupakan syirik asghar.

Hanya saja, hukum tathayyur ini bisa menjadi syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Yaitu jika dia sudah tidak meyakini sesuatu itu menjadi sebab, akan tetapi dia meyakini sesuatu itulah yang berbuat dengan sendirinya. Misalnya pada contoh di atas: Jika dia menjadikan burung gagak sebagai sebab musibah dan tetap meyakini musibah datangnya dari Allah maka ini adalah syirik asghar. Tapi jika dia meyakini burung gagak inilah yang mendatangkan musibah (bukan sebagai sebab), maka ini adalah syirik akbar dalam masalah rububiah, karena dia meyakini adanya makhluk yang juga mengatur maslahat dan mafsadat di samping Allah Ta’ala.

Adapun contoh al-fa`lu misalnya dia mendapatkan sebuah masalah, lalu ketika dia berpikir akan jalan keluarnya, tiba-tiba temannya yang bernama Sahl datang, dan Sahl maknanya adalah kemudahan. Ketika Sahl datang, diapun berharap kepada Allah semoga masalahnya menjadi mudah, tapi harapannya ini muncul karena datangnya Sahl, temannya. Maka dari penggambaran di atas kita bisa melihat bahwa al-fa`lu yang disenangi oleh Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, tidak ada di dalamnya ketergantungan hati kepada selain Allah Ta’ala. Bahkan yang ada adalah hati bertambah semangat dan menguat untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tatkala dia mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan. Jadi, thiyarah merupakan kesyirikan kepada Allah, sementara al-fa`lu adalah ibadah raja` (harapan) dan husnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah Ta’ala.

Lihat pembahasan selengkapnya di: http://al-atsariyyah.com/?p=139

———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Sabtu, 9 Januari 2010/23 Muharram 1431H

Print Friendly