Masalah Tambahan Seputar Thaharah

Masalah Tambahan Seputar Thaharah

Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
وَلَقَدْ رَأَيْتُنِي أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْكًا فَيُصَلِّي فِيهِ
“Sesungguhnya aku pernah mengerik air mani yang terdapat pada pakaian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, lalu beliau menggunakan pakaian tersebut untuk mendirikan shalat.” (HR. Muslim no. 288)
Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- telah mengabarkan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ
“Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah mandi dengan sisa air mandi Maimunah.” (HR. Muslim no. 323)
Dari Abu Qatadah  dia berkata: Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang kucing:
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ
“Dia bukanlah najis. Dia hanyalah termasuk hewan yang ada di sekeliling kalian.” (HR. Abu Daud no. 75, At-Tirmizi no. 92, dan An-Nasai no. 67)
Dari Anas bin Malik  dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:
قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا
“Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Maka Nabi  memerintahkan mereka untuk mendatangi unta agar mereka meminum air seni dan susunya.”
(HR. Al-Bukhari no. 335)

Penjelasan ringkas:
Dalil-dalil di atas menyebutkan beberapa perkara yang bukan merupakan najis:
1.    Mani, berdasarkan hadits Aisyah di atas. Bahkan dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan, “Sungguh aku telah mengeriknya dengan kukuku dari pakain beliau ketika mani itu sudah kering.”
Dan sudah dimaklumi bahwa sekedar mengerik mani apalagi setelah keringnya tidak akan menghilangkan semua mani yang ada, tapi pasti ada yang tersisa. Maka ini menunjukkan sucinya mani karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- memakai pakaian yang ada mani melekat padanya.
2.    Tubuh dan liur kucing, berdasarkan hadits Abu Qatadah di atas. Dan tatkala Nabi  menyebutkan sebab kenapa kucing tidak najis, yaitu karena dia adalah hewan yang sering berada di sekitar manusia, maka para ulama mengkiaskan dengan kucing semua hewan yang senantiasa berada di sekitar manusia, seperti keledai, hewan ternak dan semacamnya.
3.    Kencing dan tinja onta. Tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan untuk meminum kencing onta sebagai obat maka itu menunjukkan dia bukanlah najis, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak membolehkan berobat dengan sesuatu yang haram, termasuk di dalamnya sesuatu yang najis.
Dan sucinya kencing dan tinja onta juga termasuk dalil yang digunakan oleh Al-Malikiah dan Al-Hanabilah untuk menyatakan sucinya kencing dan tinja hewan yang bisa dimakan dagingnya, bahkan pendapat ini merupakan pendapat para sahabat seluruhnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata dalam Al-Fatawa Al-Kubra (5/313), “Kencing dan tinja hewan yang boleh dimakan dagingnya adalah suci, tidak ada seorangpun dari para sahabat yang berpendapat najisnya. Bahkan pendapat yang menyatakan najisnya adalah pendapat yang muhdats (baru muncul), tidak ada salafnya dari kalangan para sahabat.”
Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits riwayat Muslim no. 1529 dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengizinkan shalat di kandang kambing. Maka ini menunjukkan tinja dan kencing kambing (dan dia adalah hewan yang halal dimakan) adalah suci dan bukan najis, karena tidak boleh shalat pada tempat yang ada najisnya.
4.    Adapun hadits Ibnu Abbas  di atas, maka dipetik darinya bolehnya seorang lelaki mandi junub dari bekas air yang telah dipakai mandi oleh wanita, dan demikian pula sebaliknya. Adapun larangan beliau -alaihishshalatu wassalam- seorang lelaki mandi dari air bekas mandi wanita dan demikian pula sebaliknya, maka Imam Ash-Shan’ani menyatakan bahwa larangan tersebut bersifat makruh. (Subul As-Salam: 1/21)
5.    Sehingga hadits ini menunjukkan sucinya air musta’mal (yang telah digunakan bersuci sebelumnya) sehingga dia boleh dipakai bersuci tanpa ada kemakruhan sama sekali. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan yang dirajihkan oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (1/183), Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (20/519), Ibnu Abdil Hadi dalam At-Tanqih (1/211), Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar (1/44), dan selainnya.
6.    Hadits ini juga menunjukkan bolehnya suami istri untuk mandi bersama dan bolehnya suami melihat kemaluan istrinya dan demikian pula sebaliknya.

———-
Sumber: Al-Atsariyah – www.al-atsariyyah.com – Kamis,28 Januari 2010/12 Safar 1431H

Print Friendly