Amalan Tahdzir Oleh Ulama Salaf

Banyak sekali bentuk dan praktik tahdzir yang dilakukan oleh para ulama salaf atas berbagai penyimpangan dan penyelisihan terhadap syariat Allah ‘azza wa jalla. Ini merupakan hal yang sangat wajar. Sebab, mereka adalah generasi terbaik umat ini yang sudah tentu memiliki sifat kecemburuan terhadap Islam yang lebih kuat dibandingkan dengan generasi setelahnya.

Namun, pada bahasan ini, akan dipaparkan praktik para ulama salaf yang berkaitan dengan sikap mereka terhadap bid’ah dan ahli bid’ah. Sebab, hal inilah yang sering menjadi sebab perselisihan dan pembeda antara Ahlus Sunnah dan dua kelompok yang ekstrem serta yang bermudah-mudahan: Haddadiyah dan Sururiyah Mumayyi’ah.

 

Ulama Salaf Mentahdzir dari Bid’ah Secara Umum

Para ulama salaf senantiasa memberi peringatan kepada umat ini dari bahaya bid’ah dan ahli bid’ah, baik secara umum maupun secara khusus. Mereka menyebutkan nama kelompok tersebut atau nama para ahli bid’ah tersebut secara khusus. Di antara riwayat yang datang dari ulama salaf yang mentahdzir bid’ah secara umum,

  • Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

لاَ تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ، فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوبِ.

“Jangan kalian bermajelis dengan para pengikut hawa nafsu, karena sesungguhnya bermajelis dengan mereka akan menumbuhkan penyakit hati.” (al- Ibanah, 6/619)

  • Abu Qilabah rahimahullah berkata,

لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ اَلْأَهْوَاءِ وَلَا تُجَادِلُوهُمْ، فَإِنِّي لَا آمَنُ أَنْ يَغْمِسُوكُمْ فِي ضَ لَالَتِهِمْ أَوْ يُلَبِّسُوا عَلَيْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ.

“Jangan kalian bermajelis dengan para pengikut hawa nafsu dan jangan mendebati mereka. Sesungguhnya aku tidak merasa aman, karena mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatan mereka atau menyamarkan kepada kalian apa yang sebelumnya kalian yakini.” (Ushul as-Sunnah, 236, Ibnu Abi Zamanin)

  • Amr bin Qais al-Mula’i rahimahullah berkata,

لاَ تُجَالِسْ صَاحِبَ زَيْغٍ فَيُزِيغَ قَلْبَكَ

“Jangan engkau bermajelis dengan orang yang menyimpang, (karena) akan menyebabkan hatimu menyimpang.” (al-Ibanah, 2/436)

  • Mujahid rahimahullah berkata,

لاَ تُجَالِسْ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ فَإِنَّ لَهُمْ عَرَّةً كَعَرَّةِ الْجَرَبِ

“Jangan kalian bermajelis dengan para pengikut hawa nafsu, karena sesungguhnya mereka memiliki keburukan seperti buruknya penyakit kudis.” (al- Ibanah, 2/441)

  • Ismail bin Abdullah rahimahullah berkata,

لاَ تُجَالِسْ ذَا بِدْعَةٍ فَيَمْرَضَ قَلْبُكَ، وَلاَ تُجَالِسْ مَفْتُونًا فَإِنَّهُ مُلَقِّنُ حُجَّتَهُ

“Jangan kalian bermajelis dengan ahli bid’ah, (karena) akan menyebabkan hatimu sakit. Jangan pula engkau bermajelis dengan orang yang terfitnah (menyimpang), karena dia akan mendiktekan hujahnya kepadamu.” (al-Ibanah, 2/443)

  • Mufadhdhal bin Muhalhal rahimahullah berkata,

لَوْ كَانَ صَاحِبُ الْبِدْعَةِ إِذَا جَلَسْتَ إِلَيْهِ يُحَدِّثُكَ بِبِدْعَتِهِ، حَذَرْتَهُ وَفَرَرْتَ مِنْهُ، وَلَكِنَّهُ يُحَدِّثُكَ بِأَحَادِيثِ السُّنَّةِ فِي بُدُوِّ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يُدْخِلُ عَلَيْكَ بِدْعَتَهُ، فَلَعَلَّهَا تَلْزِمُ قَلْبَكَ فَمَتَى تَخْرُجُ مِنْ قَلْبِكَ؟

“Seandainya engkau duduk di majelis ahli bid’ah, lalu dia memberitakan kepadamu tentang kebid’ahannya, niscaya engkau langsung berhati-hati dan lari meninggalkannya. Namun, dia memberitakan kepadamu hadits sunnah di awal majelisnya. Setelah itu, dia akan menyusupkan bid’ahnya kepadamu. Bisa jadi, bid’ah itu menetap di hatimu. Lalu kapan dia akan keluar dari hatimu?”(al-Ibanah, 2/444)

  • Dari Hisyam bin Hassan rahimahullah, Hasan (al-Bashri) dan Muhammad bin Sirin rahimahumallah berkata,

لاَ تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ وَلَا تُجَادِلُوهُمْ وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ.

“Jangan kalian bermajelis dengan para pengikut hawa nafsu, jangan mendebati mereka, dan jangan mendengar sedikit pun dari mereka.” (Syarhus Sunnah al-Lalakai, 1/133 dan al-Ibanah, 2/444)

  • Dari Hambal bin Ishaq, Abu Abdillah rahimahullah berkata,

أَهْلُ الْبِدَعِ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُجَالِسَهُمْ وَلَا يُخَالِطَهُمْ وَلَا يَأْنَسَ بِهِمْ

“Tidak sepantasnya bagi siapa pun untuk bermajelis dengan ahlul bid’ah, berkumpul, dan bercengkerama dengan mereka.” (al-Ibanah, 2/ 475)

  • Dari Tsabit bin ‘Ajlan rahimahullah, bahwasanya Anas bin Malik, Ibnul Musayyab, Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, Ibrahim an-Nakha’i, Atha’ bin Abi Rabah, Thawus, Mujahid, Abdullah bin Abi Mulaikah, az-Zuhri, Makhul, al-Qasim Abu Abdirrahman, Atha al-Khurasani, Tsabit al-Bunani, al- Hakam bin Utaibah, Ayyub as-Sakhtiyani, Hammad, Muhammad bin Sirin, Abu Amir (beliau pernah bertemu Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu), Yazid ar-Raqasyi, Sulaiman bin Musa; memerintahkan kepadaku (Tsabit bin ‘Ajlan) untuk berpegang kepada al-Jamaah dan melarangku dari para pengekor hawa nafsu.” (al- Ma’rifah wat-Tarikh, 3/491—492 karya al-Fasawi dan Syarhus Sunnah al-Lalakai, 1/133)

Dari berbagai riwayat yang dipaparkan di atas, jelas bagi kita bahwa memberi tahdzir dari ahli bid’ah adalah perkara masyhur yang menjadi sikap yang menyeluruh dari ulama salafus saleh.

 

Tahdzir Ulama Salaf Terhadap Kelompok Bid’ah dan Para Ahli Bid’ah

Demikian pula dalam hal mentahdzir sebuah kelompok atau individu, para ulama salaf senantiasa berusaha memelihara dan menjaga agama Allah ‘azza wa jalla dari hal asing yang disusupkan ke dalamnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

فَلَا بُدَّ مِنَ التَّحْذِيرِ مِنْ تِلْكَ الْبِدَعِ وَإِنْ اقْتَضَى ذَلِكَ ذِكْرَهُمْ وَتَعْيِينَهُمْ

“Merupakan suatu keharusan dengan memberi peringatan dari berbagai bid’ah tersebut, meskipun harus menyebut mereka secara langsung.” (Majmu’ Fatawa, 28/233)

Telah diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang kelompok al-Qadariyah,

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Apabila engkau bertemu dengan mereka, beritakan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Allah yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang mereka memiliki emas sebesar bukit Uhud lalu menginfakkannya, Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir.” (HR. Muslim no. 8)

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang kelompok al-Qadariyah, “Demi Allah, tidaklah ayat ini turun kecuali mengenai mereka,

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ ٤٩

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Al- Qamar: 49)

Mereka adalah seburuk-buruk umat ini. Jangan jenguk mereka ketika sakit dan jangan shalati jenazah mereka. Jika engkau perlihatkan kepadaku salah seorang dari mereka, akan kucungkil kedua matanya dengan kedua jariku ini.” (Syarah Ushul al-Lalakai, no. 1162 jilid 4)

Sikap keras Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap kelompok Qadariyah adalah hal yang masyhur. Demikian pula para sahabat yang laing. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibnu Abbas adalah seorang yang bersikap keras terhadap kelompok Qadariyah. Demikian pula para sahabat radhiallahu ‘anhum.” (Syifa’ul Alil, hlm. 60)

Abdur Rahman bin Mahdi rahimahullah berkata bahwa dia mendatangi al- Imam Malik rahimahullah saat di sisi beliau ada seorang lelaki yang bertanya kepada beliau tentang al-Qur’an. Al-Imam Malik rahimahullah menjawab, “Jangan-jangan engkau termasuk pengikut Amr bin Ubaid. Semoga Allah ‘azza wa jalla melaknat Amr, karena sesungguhnya dialah yang memunculkan bid’ah ini.” (Dzammul Kalam wa Ahlihi, 5/860)

Al-Imam Malik rahimahullah juga berkata, “Hati-hati kalian dari ashabur ra’yi (pengagung akal). Sesungguhnya mereka adalah musuh-musuh Ahlus Sunnah.” (Hilyatul Auliya’ 6/326)

Demikian pula al-Imam Ahmad rahimahullah, sangat banyak dinukilkan dari beliau tentang ucapannya terhadap para ahli bid’ah; bahkan nama mereka disebut dengan jelas. Tidaklah hal itu beliau lakukan kecuali dalam rangka menasihati kaum muslimin. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Karena kekokohan beliau dalam berpegang teguh dengan sunnah dan melarang dari melakukan bid’ah, Al-Imam Ahmad rahimahullah membicarakan sekelompok orang saleh yang tampak dari mereka sesuatu yang menyelisihi sunnah. Ucapan beliau dipahami bertujuan untuk menasihati dalam agama.” (Manaqib al-Imam Ahmad, hlm. 253, Ibnul Jauzi)

Diriwayatkan dari Abu Muzahim Musa bin Ubaidullah bin Khaqan, Abu Ali Abdur Rahman bin Yahya bin Khaqan (paman Abu Muzahim) berkata kepadaku, “Khalifah al-Mutawakkil memerintahku untuk bertanya kepada Ahmad bin Hambal rahimahullah tentang siapa yang layak diangkat menjadi qadhi. Aku pun bertanya kepadanya.”

Abu Muzahim, “Aku memohon kepadanya untuk memberikan jawaban kepadaku. Dikirimkanlah kepadaku sebuah catatan dan ia menulisnya. Aku kembali menanyai pamanku dan ia mengakui kebenaran catatan yang dikirim tersebut. Catatan tersebut berbunyi, ‘Bismillahirrahmanirrahim. Catatan salinan yang aku perlihatkan kepada Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah setelah aku bertanya kepadanya tentang isinya. Beliau memberi jawaban kepadaku sebagaimana yang telah aku tulis.

Beliau perintah anaknya yang bernama Abdullah untuk menandatanganinya di bagian bawahnya berdasarkan perintah al-Imam Ahmad. Aku tidak meminta kepadanya untuk menandatanganinya. Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Ahmad bin Rabah.

Beliau menjawab, ‘Dia seorang yang berpemahaman Jahmiyah. Dia diketahui dengan hal tersebut. Jika diberi jabatan qadhi, sungguh dia akan menimbulkan kemudaratan kepada kaum muslimin, karena pemikiran dan bid’ah yang ada pada dirinya.’ Aku bertanya kepadanya tentang Ibnul Khalanji. Beliau menjawab seperti jawaban tentang Ahmad bin Rabah dan menyebutkan bahwa dia seorang Jahmi yang dikenal dengan pemikirannya itu. Bahkan, dia termasuk yang paling jahat dan paling besar kemudaratannya terhadap manusia. Aku bertanya kepadanya tentang Suhail bin Sahl. Beliau menjawab bahwa dia seorang Jahmi yang dikenal dengannya.

Aku bertanya kepadanya tentang Ubaidullah bin Ahmad. Beliau menjawab bahwa dia Jahmi yang dikenal dengannya. Aku juga bertanya kepadanya tentang orang yang dikenal dengan sebutan Abu Syu’aib. Beliau menjawab bahwa dia seorang Jahmi yang dikenal dengan pemikiran tersebut. Aku bertanya kepadanya tentang Muhammad bin Manshur, seorang qadhi dari Ahwaz. Beliau menjawab,

‘Sesungguhnya dia sering bersama Ibnu Abi Duad dalam kesibukan dan pekerjaannya, tetapi dia orang yang lebih baik dari yang lainnya, namun saya tidak mengetahui pemikirannya.’ Aku bertanya kepadanya tentang Ibnul Ali bin al-Ja’ad. Beliau menjawab bahwa dia dikenal oleh manusia sebagai seorang Jahmi. Dia masyhur dengannya. Akan tetapi, telah sampai berita kepada beliau bahwa sekarang dia telah rujuk. Aku juga bertanya kepadanya tentang al-Fath bin Sahl, pemilik Mazhalim, Muhammad bin Abdillah di Baghdad.

Beliau menjawab bahwa dia seorang jahmi. Dia dikenal dengan pemikiran tersebut dan termasuk murid Bisyr al-Mirrisi. Tidak sepantasnya urusan kaum muslimin diserahkan kepada orang yang semisalnya, sebab hal tersebut akan menimbulkan kemudaratan.

Aku bertanya kepadanya tentang Ibnu ats-Tsalji. Beliau menjawab bahwa dia ahli bid’ah, pengikut hawa nafsu. Aku bertanya kepadanya tentang Ibrahim bin Attab. Beliau menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya, hanya saja dia termasuk murid Bisyr al-Mirrisi. Sepantasnya diperingatkan darinya dan tidak didekati. Dia tidak boleh diberi tanggung jawab untuk mengurusi perkara kaum muslimin.’

Secara umum, sesungguhnya ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu tidak sepantasnya dimintai bantuan dalam hal apa pun dalam menyelesaikan urusan kaum muslimin, sebab hal itu akan menimbulkan kemudaratan yang terbesar di dalam agama. Di samping apa yang menjadi sikap Amirul Mukminin—semoga Allah ‘azza wa jalla memanjangkan usianya—berupa sikap berpegang teguh kepada sunnah dan menyelisihi ahli bid’ah.” (Manaqib al-Imam Ahmad, hlm. 251—252, Ibnul Jauzi. Lihat Ijma’ al-Ulama fil Hajr wat Tahdzir min Ahlil Ahwa’, hlm. 28—29, karya asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri)

Demikian pula Qatadah bin Di’amah as-Sadusi rahimahullah, sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Ashim al-Ahwal, bahwa ia berkata, “Aku duduk bersama Qatadah, lalu beliau menyebut Amr bin Ubaid dan mencercanya.” Aku berkata, “Aku berpandangan bahwa para ulama tidak boleh saling mencela.”

Beliau berkata, “Wahai Ahwal, apakah engkau tidak tahu bahwa jika seseorang melakukan satu bid’ah  sepantasnya ia disebut agar (manusia) berhati-hati darinya?!”

Aku pun bersedih, lalu aku bermimpi dan melihat Amr bin Ubaid mengerik satu ayat dalam mushaf. Aku berkata, “Subhanallah.” Ia berkata, “Saya akan mengulanginya kembali.” Aku berkata, “Coba engkau ulangi lagi.” Dia menjawab, “Aku tidak mampu.” (Mizanul I’tidal, 3/273, adz-Dzahabi)

Abu Idris al-Khaulani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Abu Jamilah tidak beriman kepada takdir. Jangan kalian bermajelis dengannya.” (al-Ibanah, 2/449)

Abu Taubah berkata, “Para sahabat kami telah memberitakan kepada kami bahwa Tsaur bertemu dengan al-Auza’i. Ia mengulurkan tangannya. Akan tetapi, al-Auza’i enggan mengulurkan tangannya dan berkata, ‘Wahai Tsaur, seandainya (ini adalah) urusan dunia, tentu ada kedekatan. Akan tetapi, ini adalah masalah agama’.” (Siyar A’lam an-Nubala, 11/344, adz-Dzahabi)

Demikian pula sikap Sa’id bin Jubair rahimahullah. Ismail bin Ulayyah mengatakan bahwa Said bin Jubair berkata kepadanya tanpa diminta dan tanpa diingatkan, “Jangan kalian duduk bersama Thalaq. Sebab, dia seorang yang berpaham Murji’ah.” (al-Ibanah, 2/450)

 

Tahdzir Ulama Salaf Terhadap Kitab-Kitab Ahli Bid’ah

Dalam menyikapi kitab-kitab ahli bid’ah, para ulama salaf senantiasa memperingatkan bahaya tulisan mereka yang dibubuhi racun yang sangat berbahaya, yang dapat mematikan hati seorang muslim, dan memalingkannya dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan rahimahullah menerangkan, “Barang siapa berkeinginan mencari dalil untuk meraih kebenaran, Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya telah mencukupi dan menyelesaikan.

Keduanya adalah senjata bagi setiap ahli tauhid dan yang menegakkannya. Adapun kitab-kitab Ahlus Sunnah semakin menambah kecintaan kepadanya dan membantunya untuk memahaminya. Kalian memiliki karya-karya dari syaikh kami (Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahpen.) yang telah mencukupi apabila diiringi dengan perhatian khusus. Kalian wajib meninggalkan ahli bid’ah dan mengingkarinya.” (ad-Durar as-Saniyah, 3/211. Lihat Ijma’ Ulama fil Hajr, hlm. 65)

Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan sahabatnya agar tidak membaca kitab milik ahli kitab. Padahal di dalamnya terdapat sebagian dari kebenaran.

Diriwayatkan dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari ahli kitab. Dia lalu membacakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau pun marah dan berkata, “Apakah engkau bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa syariat yang putih dan jernih. Jangan kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu pun. Jangan sampai mereka memberitakan kebenaran kepada kalian lalu kalian mendustakannya atau mereka memberitakan kebatilan lalu justru kalian membenarkannya. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup, tidak diperkenankan baginya kecuali harus mengikutiku.” (HR. Ahmad no. 15156/22, Ibnu Abi Syaibah no. 26421/5, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, no. 50; dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, no. 1589)

Abu Manshur Ma’mar bin Ahmad rahimahullah berkata, “Termasuk perkara sunnah adalah meninggalkan ra’yu, qiyas dalam agama, meninggalkan perdebatan dan pertengkaran, tidak memberi kesempatan berbicara kepada kelompok Qadariyah dan ahli kalam, serta tidak melihat kitab ilmu kalam dan ilmu nujum. Sunnah ini telah disepakati oleh para imam. Sunnah ini diambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan perintah dari Allah ‘azza wa jalla.” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 1/231—242. Lihat Ijma’ al-Ulama, hlm. 66)

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal, ayahnya berkata, “Sallam bin Abi Muthi’ termasuk perawi yang tepercaya. Ibnu Mahdi memberitakan kepada kami darinya.” Lalu ayahku berkata, “Abu Awanah menulis sebuah kitab yang di dalamnya menyebut celaan terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penyimpangan lainnya.

Datanglah Sallam bin Abi Muthi’ dan berkata, ‘Wahai Abu Awanah, berikan kepadaku kitab itu.’ Abu Awanah memberikan kepadanya, kemudian Sallam mengambilnya lalu membakarnya.” Ayahku (al-Imam Ahmad rahimahullah) berkata, “Sallam termasuk salah seorang murid Ayyub. Dia adalah orang yang saleh.”

Diriwayatkan dari Fadhl bin Ziyad bahwa ada seorang lelaki menanyakan tentang perbuatan Sallam bin Abi Muthi’ (ketika membakar kitab tersebut). Ia berkata kepada Abu Abdillah (Ahmad bin Hambal), “Aku berharap hal itu tidak memudaratkannya sama sekali, insya Allah.”

Abu Abdillah Ahmad bin Hambal menjawab, “Memudaratkannya!? Dia justru mendapat pahala dengannya, insya Allah.” (Ijma’ al-Ulama, hlm. 67)

Fadhl bin Ziyad berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah—yaitu Ahmad bin Hambal rahimahullah—tentang al-Karabisi dan apa yang ia sebarkan. Wajah beliau menjadi geram dan berkata, ‘Sesungguhnya musibah mereka itu datang dari kitab yang mereka tulis dan tekuni, lantas mereka meninggalkan riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (al-Ma’rifah wat-Tarikh, 3/494 karya al-Fasawi, Ijma’ al-Ulama, hlm. 67)

Al-Hafizh Abu Utsman Sa’id bin Amr al-Barda’i rahimahullah berkata, “Aku menyaksikan Abu Zur’ah tatkala ditanya tentang Harits al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada si penanya, ‘Hati-hati kalian terhadap kitab-kitab ini. Ini adalah kitab bid’ah dan kesesatan.  Hendaknya kalian berpegang kepada atsar, karena sesungguhnya engkau akan dapati apa yang di dalamnya mencukupimu dari kitab-kitab tersebut’.”

Ada yang berkata bahwa dalam buku-buku ini ada pelajaran (yang bisa dipetik). Beliau menjawab, “Barang siapa tidak menjadikan kitabullah sebagai pelajaran, buku-buku ini tidak akan menjadi pelajaran baginya. Apakah telah sampai kepada kalian bahwa Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, al-Auza’i, dan para imam terdahulu menulis kitab-kitab ini yang membahas tentang bisikan-bisikan hati, waswas, dan hal semisal? Mereka adalah kaum yang menyelisihi para ulama….” Lalu beliau berkata, “Begitu cepatnya manusia terjatuh ke dalam bid’ah.” (adh-Dhu’afa karya Abu Zur’ah, Ijma’ al-Ulama, hlm. 70—71)

Demikian pula yang disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Termasuk perkara sunnah adalah memboikot ahli bid’ah dan menjauhi mereka, meninggalkan perdebatan dan pertengkaran dalam urusan agama, tidak melihat kitab-kitab ahli bid’ah dan mendengarkan ucapan mereka; serta setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah.” (Lum’atul I’tiqad, hlm. 33)

Perkataan ulama salaf tentang hal ini banyak sekali. Silakan merujuk kepada kitab Ijma’ul Ulama fil Hajr wat Tahdzir min Ahlil Ahwa (hlm. 63—88).

 

Fatwa Ulama Tentang Membaca Buku Ahli Bidah

  • Al-Allamah Saleh al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Apa pendapat yang benar tentang membaca kitab-kitab ahli bid’ah dan mendengar kaset-kaset mereka?” Beliau hafizhahullah menjawab, “Tidak boleh membaca kitab-kitab ahli bid’ah dan mendengarkan kaset mereka, kecuali bagi orang yang ingin membantah dan menjelaskan kesesatannya.” (al-Ajwibah al-Mufidah an As’ilatil Manahijil Jadidah, hlm. 70)
  • Al-Allamah Ubaid al-Jabiri hafizhahullah merinci tentang hukum membaca kitab-kitab ahli bid’ah menjadi tiga bagian.
  1. Tidak halal membaca kitab tersebut kecuali seorang alim yang kokoh dan hendak membantah kitab mereka. Hal ini apabila seluruh kitab tersebut adalah bid’ah, tidak ada kebenarannya sedikit pun di dalamnya. Misalnya kitabkitab Rafidhah seperti Ushul al-Kafi, dan Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab karya al-Kulaini.
  2. Kitab yang tercampur di dalamnya antara sunnah dan bid’ah. Tidak dihalalkan membaca isinya kecuali seorang alim yang mampu membedakan antara sunnah dan bid’ah. Ia dapat memberi faedah darinya. Contoh hal ini adalah kitab al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari. Dia seorang yang berpaham Mu’tazilah, tetapi di dalamnya terdapat faedah berupa ilmu sharaf, nahwu, ma’ani, bahasa Arab, dan beberapa hadits sahih.
  3. Kitab yang murni kebenaran di dalamnya, tidak tercampur sedikit pun oleh bid’ah, tetapi penulisnya seorang ahli bid’ah. Dia sibuk mentahqiq kitab, seperti kitab nahwu dan fikih. Kesibukannya adalah mencari nafkah. Dia tidak menyusupkan sedikit pun dari bid’ahnya.

Dalam hal ini ada keleluasaan. Akan tetapi, kitab sunnah pada hakikatnya telah mencukupi.” (al-Fawaid al-‘Aqadiyah wal Qawa’id al-Manhajiyah al-Mustanbathah min Ta’shilati Ushulis Sunnah, hlm. 49)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat,22 Januari 2016/11 Rabiul Akhir 1437H

Print Friendly