Amir bin Syarahil

Nama Dan nasab beliau

Beliau adalah Amir bin Syarahil, ada yang menyebut beliau dengan “Ibnu Abdullah bi Syarahil bin Abdu Asy-Sya’bi Abu ‘Amr Al-Kufi.”

Kelahiran beliau

Menurut pendapat yang masyhur, beliau dilahirkan enam tahun setelah berjalannya pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. ibu beliau berasal dari daerah Jalula’. Jalula adalah nama sebuah desa di daerah Persia, di sinilah pernah terjadi perang besar yang terkenal, di mana kaum muslimin memperoleh kemenangan yang gemilang atas Persia. Daerah ini sekarang berada di wilayah Irak degan nama As-Saidiyyah.

Menurut pendapat lain, bahwa beliau dilahirkan pada tahun 21 H.

Sanjungan para ulama terhadap beliau 

Az-Zuhri berkata: “Ulama itu ada empat, yaitu: Said bin Al-Musayyab di Madinah, ‘Amir Asy-Sya’bi di Kufah, Al-hasan bin Al-Hasan Al-Bashri dan Makhul Di Syam”.

Usamah berkata: ”Umar bin Khaththab pada masanya adalah pemimpin bagi kaum muslimin, setelah itu Ibnu Abbas sebagai pemimpin kaumnya di masanya, setelahnya Asy-Sya’bi di masanya dan kemudian Sufyan Ats-Tsauri”.

Abu Bakar Al-Hadzali, dia berkata: “Muhammad bin Sirin berkata: “Wahai Abu Bakar, jika kamu datang Ke Kufah, perbanyaklah belajar hadits kepada Sya’bi, karena sesungguhnya haditsnya dapat dipertanggung jawabkan dan sesungguhnya shahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup”.

Yahya bin Ma’in berkata: “Asy-Sya’bi adalah orang dapat dipercaya”.

Kekuatan hafalan, kecerdasan, dan luas hafalnya 

Ibnu Syibrimah berkata: “Aku perna mendengar Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak perna menulis di dalam kertas putih hingga saat ini, dan tidak ada seorang pun yang berbicara tentang hadits denganku kecualiaku menghafalnya, dan aku tidak senang kalau dia mengulangi perkataannya untukku”.

Abu Mujalliz berkata: “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih tahu tentang fikih Dari Asy-Sya’bi”

Al-Makhul berkata: “Aku belum pernah melihat orang yang lebih tau tentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Asy-Sya’bi”
Dari Abdul Malik bin Umair, dia berkata: “Ibnu Umar pernah lewat di hadapan Asy-Sya’bi, saat itu dia sedang membaca kitab tentang perang, dia berkata: “Sepertinya ia ikut serta bersama kami, dan mungkin ia lebih tau dan lebih hafal dariku”.

‘Ashim Al-Ahwal berkata: ”Aku belum melihat seorang pun yang lebih luas wawasannya dari Asy-Sya’bi”

Kewara’annya dalam memberikan fatwa dan dalam mencela pendapat

Muhammad bin Juhadah, dia berkata: “Sesungguhnya Amir Asy-Sya’bi pernah ditanya tentang suatu permasalahan, tetapi saat itu dia tidak mempunyai jawaban, sehingga orang yang bertanya lalu berkata: “Katakan saja dengan pendapat anda”. Dia berkata: “Apa yang bisa kamu lakukan dengan pendapatku, buang saja pendapatku”.

Adam berkata: ”Ada seorang laki-laki, bertanya kepada Ibrahim tentang sebuah permasalahan dan ia menjawab: “Aku tidak tahu”, kemudian Amir Asy-Sya’bi lewat diantara mereka, maka Ibrahim berkata kepada laki-laki itu: “Tanya kepada orang tua itu, kemudia setelah itu kembalilah engkau kemari dan beritahukan kepadaku (tentang jawabannya)”, lali-laki itupun kembali lagi dan berkata: “Dia berkata: “Aku tidak tahu”, maka Ibrahim berkata: “Inilah orang yang faqih”.

Dari Malik bin Mughawwal dari Asy-Sya’bi, dia berkata: “Jika segolongan Syi’ah itu diumpamakan burung, maka mereka adalah burung (pemakan) bangkai, jika diumpamakan hewan melata, maka mereka adalah keledai”.

Abu Abhr berkata: “Asy-Sya’bi berkata: “Jika ada orang memberitahukan atau menceritakan (hadits) dari para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ambilah (dengarkanlah), dan jika mereka mengatakan dari fikiran mereka sendiri, maka tolaklah”.

Guru-Guru beliau

Al-Hafizh berkata: “Dia telah meriwayatkan dari beberapa orang diantaranya: “Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa,id bin Zaid, Zaid bin Tsabit, Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah, Qarzhah bin ka’ab, Ubadah bin Ash-Shamit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abu Mas’ud Al-Anshari, Abu Hurairah, dan selainnya”.

Adapun dari golongan tabi’in antara: “Al-Harits al-A’War, Kharijah bin Ash-Shalt, Zir bin Hubaisy, Sufyan bin Al-Lail, Sam’an bin Musyaikh, Suwaid bin Ghaflah, dan selain mereka”.

Wafat beliau

Al-Haitsam bin Adi dan Yahya bin Bakir mengatakan bahwa dia meninggal dunia pada tahun 103 H, Yahya menambahkan bahwa dia meninggal pada usia 79 tahun.
Yahya bin Mu’in dan yang lain mengatakan bahwa ia meninggal dunia pada tahun 103 H atau 104 H.

[Sumber: Diringkas dari Kitab Min A’lami Salaf pdf, hal. 85-98, Syaikh Ahmad Farid.]
———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Senin,28 Januari 2013/16 Rabiul Awal 1434H

Print Friendly