Bila Kuburan Diagungkan

Suatu ketika mungkin kita pernah menyaksikan sebuah bus besar membawa rombongan yang di sampingnya terdapat sebuah tulisan “Rombongan Ziarah Makam Sunan Fulan”. Mereka terkadang datang dari tempat yang jaraknya ratusan kilometer, semata hanya ingin berdoa di sisi kuburan Sunan Fulan karena memiliki keyakinan bahwa doanya akan lebih terkabul. Pemandangan seperti ini dan yang sejenisnya banyak dijumpai di sekitar kita. Padahal kalau kita mau menelaah, praktik demikian merupakan perbuatan yang dilarang oleh Islam. Lebih jauh lagi ia merupakan bagian dari perilaku jahiliah, yaitu amalan orang-orang sebelum Islam datang.

Dalam perjalanan hidup manusia, terkadang perlu untuk kembali menengok ke sejarah masa lampau, masa-masa sebelum datangnya cahaya Islam. Sebuah masa yang penuh dengan perilaku kejahilan dan semangat hawa nafsu, yang di dalamnya terdapat tatanan kehidupan yang didasarkan hanya pada pandangan baik akal dan “kesepakatan” orang banyak. Bukan tatanan kehidupan yang dibimbing oleh wahyu dari Dzat Yang Mahabenar.

Kita perlu menengok kepada kehidupan di masa jahiliah itu karena realita kehidupan kita di masa ini ternyata banyak memiliki kesamaan dengan realita di masa jahiliah. Padahal dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawa cahaya Islam, berbagai konsep kemasyarakatan ala masyarakat jahiliah itu semestinya terhapuskan karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, menggali kembali hakikat alam kehidupan jahiliah bukan suatu keterbelakangan dan kejumudan berpikir, namun merupakan langkah untuk lebih maju ke depan. Merupakan suatu keterbelakangan bila kita tidak mau mempelajari berbagai praktik kehidupan jahiliah, sehingga disadari atau tidak kita telah terjatuh kepada perilaku kehidupan jahiliah itu. Tanpa sadar kita telah menjadi pendukung untuk menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka. Telah digambarkan oleh banyak sastrawan bagaimana kejahatan dan kebiadaban ala hewan dalam alam jahiliah. Yang kuat berkuasa dan yang lemah diinjak-injak, bahkan menjadi budak.

Penggambaran dengan bahasa yang indah tentang kehidupan jahiliah sesungguhnya tidak mewakili pengupasan akar kejahatan tersebut, lebih-lebih jika ingin mencabutnya. Cikal-bakal kehidupan jahiliah memunculkan segala wujud kejahatan, berupa kerusakan dalam bentuk pemerkosaan hati setiap insan dengan perbuatan kezaliman yang terbesar yaitu “Kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Penghambaan yang keluar dari aturan Allah subhanahu wa ta’ala, penghambaan yang diiringi dengan penghinaan diri kepada sesuatu yang lebih rendah darinya. Penghambaan kepada batu, kuburan, pohon, tempat-tempat keramat, dan sebagainya, merupakan pembunuhan terhadap fitrah yang suci, yang Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan setiap hamba dengannya. Juga merupakan perusakan terhadap akal manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala telah memuliakan dan membedakannya dengan makhluk-makhluk lain. Penjajahan terhadap kemerdekaan setiap insan untuk bisa langsung berhubungan dengan Rabb-nya dan perbudakan diri yang tidak pada tempatnya. Inilah kejahatan yang hakiki.

Menelaah kembali prinsip-prinsip hidup jahiliah bukan berarti ingin mengembangbiakkannya, namun semata-mata untuk membentengi diri dan memperingatkan umat untuk tidak terjatuh padanya.

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu menyatakan,

“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepadanya tentang kejahatan, khawatir menimpa diriku.” (HR . al- Bukhari dalam kitab al-Fitan bab “Bagaimana Urusan Bila Tidak Ada Jamaah” no. 6658)

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya ikatan Islam akan putus seikat demi seikat apabila muncul di dunia Islam orang-orang yang tidak mengetahui (perkara) jahiliah.”

Seorang penyair mengatakan,

Aku mengetahui kejahatan bukan untuk melakukannya

melainkan untuk menjaga diri darinya

Barang siapa yang tidak mengenal kebaikan dari kejahatan

Khawatir dia terjatuh padanya

Semoga dengan menelaah prinsip-prinsip hidup yang rusak itu kita bisa mewanti-wanti diri, anak, dan generasi muslimin darinya.

Di antara sekian praktik hidup jahiliah adalah mengagungkan kuburan.

 

Hakikat Kematian

Kematian merupakan suatu kepastian yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada setiap yang bernyawa. Ketentuan yang tidak bisa dimajukan dan dimundurkan, yaitu berpisahnya ruh dari jasad. Perpisahan ini menggambarkan sesuatu yang tidak bisa berbicara lagi, berpikir, bergerak, melihat, dan mendengar sebagaimana tabiat kehidupan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ١٨٥

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan tentang sesuatu yang akan menimpa seluruh makhluk, bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesuatu yang ada di bumi itu akan binasa, dan tetap kekal Wajah Rabbmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.” (ar-Rahman: 26—27).

Dia, Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat yang Esa dan tidak akan mengalami kematian, manusia dan jin yang akan mengalami kematian, demikian juga seluruh malaikat dan para pemikul ‘Arsy Allah subhanahu wa ta’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127)

Manusia telah bersepakat bahwa bila ruh berpisah dengan jasad, maka jasad tersebut tidak bisa bergerak, berbicara, mendengar, bekerja, berdiri, dan tanda-tanda kehidupan lainnya.

Namun kerusakan akidah mereka menyebabkan terbaliknya keyakinan tersebut. Mereka meyakini bahwa orang mati itu bisa muncul lagi ke dunia, bisa berbuat sesuatu di luar perbuatan orang yang hidup, mendatangi keluarganya lalu menyapa mereka, muncul di atas kuburnya, menarik kaki orang-orang yang berjalan di atasnya, dan sebagainya. Ini semua adalah cerita-cerita khurafat yang didalangi oleh Iblis dan tentara-tentaranya untuk merusak akidah orang-orang Islam.

Bisakah si mayit mendengar dan berbuat sesuatu sehingga kita bisa menjadikan dia sebagai perantara dengan Allah subhanahu wa ta’ala atau kita bisa meminta sesuatu kepadanya?

Bisakah si mayit membantu orang yang mengalami malapetaka dan kesulitan hidup?

Tentu setiap orang akan menjawab bahwa mayit tidak akan sanggup melakukan yang demikian. Namun keyakinan banyak manusia sekarang justru sebaliknya. Begitulah bila kuburan telah diagungkan dan fitrah telah rusak.

 

Kerusakan Fitrah karena Cerita dan Dongeng

Perusakan fitrah setiap insan tidak akan berhenti dan terus akan berlangsung sampai hari kiamat, hingga tiap orang akan bisa menjadi santapan seruan Iblis. Oleh karena itu, mari kita melihat bahaya cerita dan dongeng yang mengandung khurafat-khurafat, di antaranya:

  1. Menyebabkan seseorang memiliki keyakinan yang berbeda dengan kesucian fitrahnya dan memiliki keyakinan yang bertolak belakang.
  2. Menyebabkan seseorang memiliki sifat penakut.
  3. Melemahkan keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  4. Menjatuhkan seseorang kepada kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an,

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya. Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali-Imran:175)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah di dalam Tafsir-nya mengatakan, “Di dalam ayat ini terdapat pelajaran tentang wajibnya takut hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan itu termasuk dari tuntutan keimanan. Oleh karena itu, seseorang memiliki rasa takut berdasarkan tinggi rendah imannya.

Takut yang terpuji adalah ketakutan yang menjaga seseorang dari segala keharaman Allah subhanahu wa ta’ala.” (Tafsir as-Sa’di, hlm. 157)

Sesuatu yang tadinya hanya berbentuk cerita-cerita khurafat kemudian diwujudkan dalam bentuk film-film hidup, gambar-gambar, dan kengerian kuburan. Semua itu memperkuat perusakan fitrah sehingga menjadi fitrah yang mati dan kaku, hidup di hadapan cerita-cerita takhayul dan khurafat.

 

Jahiliah dan Kuburan

Kuburan merupakan salah satu ajang kekufuran dan kesyirikan di masa jahiliah. Terbukti hal yang demikian dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ ١٩ وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ ٢٠ أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ ٢١ تِلۡكَ إِذٗا قِسۡمَةٞ ضِيزَىٰٓ ٢٢

“Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-’Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah patut untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah anak perempuan. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (an-Najm: 19-22)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala mencerca kaum musyrikin dengan peribadatan mereka kepada patung-patung, tandingan-tandingan bagi Allah subhanahu wa ta’ala dan berhala-berhala, yang mereka memberikan rumah-rumah untuk menyaingi Ka’bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Bagaimana pendapat kalian tentang al-Lata.” Al-Lata adalah sebutan untuk batu yang terukir di mana di atasnya dibangun rumah dan berada di kota Thaif. Ia memiliki kelambu dan juru kunci dan di sekitarnya terdapat halaman yang diagungkan oleh penduduk Thaif, yaitu kabilah Tsaqif dan yang mengikuti mereka. Mereka berbangga-bangga dengannya di hadapan seluruh kabilah Arab kecuali Quraisy.”

Kemudian beliau berkata, “Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Mujahid, Rabi’ bin Anas, rahimahumallah mereka membaca اللاَّتَ dengan ditasydidkan ta اللاَّتَّ dan mereka menafsirkannya dengan, “Seseorang yang mengadoni gandum untuk para jamaah haji di masa jahiliah. Tatkala dia meninggal, mereka i’tikaf di kuburannya lalu menyembahnya.”

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala “Al-Latta dan Al-’Uzza.”, “Al-Latta adalah seseorang yang mengadoni gandum untuk para jamaah haji.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/35, lihat Tafsir al-Qurthubi, 9/66, Ighatsatul Lahfan, 1/184)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Al-Latta dengan bacaan ditasydidkan huruf taa adalah bacaan Ibnu ‘Abbas berdasarkan bacaan ini berarti isim fa’il (bentuk subyek) dari kata ‘latta’ (yang berbentuk) patung, ini asalnya adalah seseorang yang mengadoni tepung untuk para jamaah haji yang dicampur dengan minyak samin lalu dimakan oleh para jamaah haji. Tatkala dia mati, orang-orang i’tikaf di kuburnya lalu mereka menjadikannya sebagai berhala.” (Qaulul Mufid, 1/253)

 

Metode Penyesatan Setan

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Termasuk dari tipu daya setan yang telah menimpa mayoritas orang sehingga tidak ada seorang pun yang selamat-kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah yaitu “Apa-apa yang telah dibisikkan para setan kepada wali-walinya berupa fitnah kuburan.” (Ighatsatul Lahfan, 1/182)

Yang mengawali terjadinya fitnah besar ini adalah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagaimana telah diberitakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tentang mereka,

قَالَ نُوحٞ رَّبِّ إِنَّهُمۡ عَصَوۡنِي وَٱتَّبَعُواْ مَن لَّمۡ يَزِدۡهُ مَالُهُۥ وَوَلَدُهُۥٓ إِلَّا خَسَارٗا ٢١ وَمَكَرُواْ مَكۡرٗا كُبَّارٗا ٢٢ وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّٗا وَلَا سُوَاعٗا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرٗا ٢٣ وَقَدۡ أَضَلُّواْ كَثِيرٗاۖ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا ضَلَٰلٗا ٢٤

“Nuh berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar. Dan mereka berkata jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Yauq, dan Nasr. Dan sesungguhnya mereka menyesatkan kebanyakan manusia. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh: 21—24)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam riwayat al-Bukhari rahimahullah menyatakan, “Mereka adalah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Ketika orangorang saleh itu mati, tampillah setan menyampaikan kepada orang-orang agar mendirikan di majelis-majelis mereka gambar orang-orang saleh tersebut dan namakanlah dengan nama-nama mereka! Orang-orang pun melakukan hal tersebut dan belum disembah, sampai ketika mereka meninggal dan ilmu semakin dilupakan, maka gambar-gambar itu pun disembah.”

Ibnul Qayyim ‘alaihissalam menyatakan, “Bukan hanya satu ulama salaf yang mengatakan, ‘Mereka adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh. Tatkala mereka meninggal, orang-orang i’tikaf di kubur-kubur mereka lalu membuat patungpatung tersebut hingga masa yang sangat panjang, lalu menjadi sesembahan.”

Kemudian beliau mengatakan, “Mereka telah menghimpun dua fitnah yaitu fitnah kubur dan fitnah menggambar.” (Ighatsatul Lahfan, 1/184)

Tahapan dan metode penyesatan Iblis dan tentara-tentaranya terhadap penyembah kubur sebagai berikut:

Tahapan pertama, Bahwa membangun kuburan, i’tikaf di sampingnya termasuk wujud kecintaan kepada para nabi dan orang-orang saleh serta berdoa di sisinya cepat diterima.

Tahapan kedua, tawassul dalam berdoa dan bersumpah dengan penghuni kubur tersebut.

Tahapan ketiga, berdoa kepadanya dan menyembahnya.

Tahapan keempat, menyeru orang untuk berdoa dan beribadah kepadanya, serta menjadikannya sebagai tempat untuk merayakan hari raya.

Tahapan kelima, membela dan berjihad dalam membela perbuatan tersebut terhadap setiap orang yang mengingkari perbuatannya dan menganggap bahwa orang yang mengingkari perbuatan tersebut tidak memiliki kehormatan dan kedudukan. (lihat secara ringkas Ighatsatul Lahfan, 1/231)

Demikianlah sepak terjang Iblis dan tentara-tentaranya dalam menyusun metode penyesatan setiap insan dengan memulai dari yang paling kecil menuju yang paling besar. Program yang mereka canangkan dan jaringan yang mereka siapkan telah memakan banyak korban. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melindungi kita darinya.

 

Haramnya Membangun Kubur

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab beliau yang berjudul Tahdzir As-Sajid (hlm. 9—20) membawakan hadits-hadits yang semuanya melarang membuat bangunan di atas kuburan. Di antara hadits tersebut antara lain,

  1. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika di ranjang menjelang wafat beliau,

“Allah subhanahu wa ta’ala melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (HR . al-Bukhari, 3/156, 198 dan 8/114, Muslim, 2/67, Abu ‘Awanah, 1/399, Ahmad, 6/80, 121, 255, dan lainnya)

Hadits yang semakna dengan hadits di atas diriwayatkan dari banyak sahabat, di antaranya:

  • dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Al-Bukhari (2/422) dan al-Imam Muslim (2/71),
  • dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari (1/422, 6/386, dan 8/116) dan al-Imam Muslim (2/67),
  • dari Jundub bin Abdullah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (2/67—68),
  • dari Harits an-Najrani radhiallahu ‘anhu dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan sanadnya sahih di atas syarat Muslim,
  • dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma diriwayatkan oleh ath-Thayalisi di dalam Musnad-nya (2/113) dan Ahmad (5/204),
  • dari Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah radhiallahu ‘anhu dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (no. 1691, 1694), ath-Thahawi di dalam Musykilul Atsar (4/13), Abu Ya’la (1/57), dan selainnya.
  • dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (5/184, 185),
  • dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1/92/2), Ibnu Hibban (no. 340 dan 341), dan selainnya,
  • dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dan Ibnu ‘Asakir,
  • dan dari Abu Bakar radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ibnu Zanjawaih (lihat Tahdzir as-Sajid secara rinci, hlm. 9—20).
  1. Hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (HR . Muslim, 3/62, Ibnu Abi Syaibah 4/134, at-Tirmidzi 2/155, dinyatakan sahih oleh al-Imam Ahmad rahimahullah, 3/339 dan 399).

Hadits yang semakna datang dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam Musnad-nya (2/66).

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah di dalam kitab Tahdzir as-Sajid (hlm. 22) mengatakan, “Sanadnya sahih.”

Al-Haitsami rahimahullah (3/61) mengatakan, “Semua rawinya tepercaya.”

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Jelaslah dari hadits-hadits yang telah lewat tentang bahaya menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid dan akibat bagi orang-orang yang berbuat demikian berupa ancaman yang pedih dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (Tahdzir as-Sajid, hlm. 21)

Kemudian beliau berkata, “Keumuman hadits (Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu) mencakup pembangunan masjid di atas kubur, sebagaimana pula mencakup pembangunan kubah di atasnya. Tentunya yang pertama (membangun masjid di atas kubur) larangannya lebih keras sebagaimana telah jelas.” (Tahdzir as-Sajid, hlm. 21)

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Hadits ini (yakni hadits ‘Aisyah) menunjukkan haramnya membangun masjid di atas kubur-kubur orang saleh dan menggambar mereka di dalam masjid tersebut, sebagaimana dilakukan orang-orang Nasrani dan tidak ada keraguan bahwa masing-masing dari keduanya adalah haram. Menggambar anak Adam adalah haram dan membangun masjid di atas kuburan juga diharamkan sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash lain dan akan datang penyebutan sebagiannya.”

Beliau (Ibnu Rajab rahimahullah) selanjutnya berkata, “Gambar-gambar yang ada di banyak gereja yang disebutkan oleh Ummu Habibah radhiallahu ‘anha dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anha berada di dinding dan tidak berdimensi. Menggambar para nabi dan orang saleh untuk bertabarruk dengannya dan meminta syafaat kepadanya adalah diharamkan dalam agama Islam dan termasuk bentuk peribadatan kepada berhala. Inilah yang telah diberitakan oleh Rasulullah bahwa pelakunya termasuk makhluk terjahat pada hari kiamat.

Membuat gambar (nabi dan orang saleh) dengan tujuan ketika melihat gambar tersebut bisa mengambil contoh atau untuk menyucikan diri dengan cara seperti itu atau untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk dosa besar. Pelakunya termasuk orang yang mendapat azab paling keras pada hari kiamat. Ia telah melakukan kezaliman dan menyerupai perbuatan-perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala yang para makhluk-Nya tidak sanggup untuk melakukan. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah subhanahu wa ta’ala baik pada Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.” (Tahdzir zs-Sajid, hlm. 13—14)

 

Makna Menjadikan Kuburan sebagai Masjid

Menjadikan kuburan sebagai masjid memiliki tiga makna:

  1. Shalat di atas kuburan, artinya sujud di atasnya.
  2. Sujud menghadapnya dan menjadikannya sebagai kiblat di dalam shalat dan berdoa.
  3. Membangun masjid di atasnya dan berniat untuk melaksanakan shalat padanya. (Tahdzir as-Sajid, hlm. 21)

Wallahu a’lam bish shawab.

(bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi

 


Sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

“Dan jauhkan diriku dan anakku dari menyembah patung-patung.” (Ibrahim: 35)


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Senin,14 November 2011/17 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly