Dakwah dan Kewajiban Dai

Setiap orang yang memiliki perhatian terhadap ilmu akan mengetahui bahwa kedudukan dakwah sangatlah agung. Dakwah merupakan urusan para rasul. Mereka adalah para pemimpin dalam hal ini, dakwah adalah tugasnya.

Cukuplah sebagai bukti tentang kedudukan dan kemuliaan berdakwah, bahwa ia adalah tugas para rasul dan pengikutnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah subhanahu wa ta’ala dan jauhilah thagut.” (an-Nahl: 36)

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus para rasul, termasuk Rasul kita yang mulia untuk menjadi saksi, penyampai kabar gembira, pemberi peringatan, dan penyeru ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Telah dimaklumi bahwa esensi berdakwah ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala adalah menyampaikan kebenaran kepada manusia, mengarahkan mereka kepadanya, dan memperingatkan (tahdzir) mereka dari segala hal yang bertolak belakang dan berseberangan dengan kebenaran tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا

“Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah subhanahu wa ta’ala setelah rasul-rasul itu diutus. Allah subhanahu wa ta’ala Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 165)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدٗا وَمُبَشِّرٗا وَنَذِيرٗا ٤٥ وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذۡنِهِۦ وَسِرَاجٗا مُّنِيرٗا

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah subhanahu wa ta’ala dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.”(al-Ahzab: 45—46)

Berdasarkan hal ini, para dai yang mengikuti para rasul, memiliki tugas pokok, yaitu membimbing manusia kepada tujuan utama mereka diciptakan (yaitu tauhid) dan memperingatkan mereka dari sebab-sebab kebinasaan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِيۖ وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan hujah yang nyata, Mahasuci Allah subhanahu wa ta’ala, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (Yusuf: 108)

Para dai ilallah yang jujur akan berdakwah di atas bashirah. Selain itu, mereka juga mengamalkan apa yang mereka dakwahkan.

Barang siapa berdakwah tidak di atas bashirah dan menyepelekannya, dia bukanlah pengikut para rasul. Semakin banyak terjadi kekurangan dalam dakwah dan bashirah itu, berarti semakin rendah pula kadar ber-ittiba’ dan semakin lemah keimanannya.

Oleh karena itu, para dai ilallah wajib memiliki bashirah, yaitu ilmu (hujah). Sebab, berdakwah di atas kebodohan tidak diperbolehkan sama sekali. Dakwah di atas kebodohan hanya akan membahayakan dan tidak memberi manfaat. Dakwah yang seperti ini akan merusak dan tidak membangun; menyesatkan dan tidak memberi petunjuk.

Para dai ilallah wajib meneladani para rasul dalam hal kesabaran, ilmu, dan kesungguhan dalam berdakwah, karena berdakwah adalah jalan hidup para rasul.

Itulah puncak kemuliaan dan keutamaan bagi para dai pengikut para rasul yang mencontoh dan berjalan di atas manhaj mereka.

Di antara syaratnya adalah seorang dai harus berada di atas bashirah, ilmu, dan bayyinah (keterangan yang jelas) dalam hal yang dia dakwahkan dan peringatkan. Jadi, seorang dai tidak membahayakan manusia, tidak menyeru kepada kesesatan, menyeru kepada kebatilan, dan meninggalkan kebenaran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)

Ayat di atas mengandung faedah yang besar. Meskipun ditujukan kepada Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi pada dasarnya ayat di atas merupakan perintah kepada semua umatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah subhanahu wa ta’ala dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah subhanahu wa ta’ala.” (al-Ahzab: 21)

Oleh karena itu, segenap kaum muslimin hendaknya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah, mengarahkan umat kepada sebab keselamatan dan memperingatkan mereka dari sebab kebinasaan.

Ayat yang agung menjelaskan metode dalam berdakwah dan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang dai, yaitu “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah.”

Sejumlah ahli tafsir mengatakan bahwa maknanya ialah kepada ayat Allah subhanahu wa ta’ala dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, di dalamnya terkandung hikmah, fikih, pencegahan, penjelasan, dan pencerahan.

Kalimat yang penuh hikmah ialah kalimat yang mengandung pencegahan dari segala kebatilan, arahan menuju kebaikan, dan mencukupkan dengan yang mengandung kebahagiaan.

Seorang dai hendaknya bersemangat dalam dakwahnya, menyampaikan sesuatu yang dapat memuaskan mad’u (pihak yang didakwahi), menjelaskan kebenaran, dan mencegah kebatilan dengan uslub (cara) yang baik dan lembut, “dan pelajaran yang baik”.

Seorang dai harus mempunyai hikmah dan wejangan yang baik ketika dibutuhkan, serta menyampaikan ayat dan hadits sahih yang jelas agar tidak ada lagi syubhat/kerancuan dalam pemahaman mad’u.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٣٣

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Ayat yang agung ini menjelaskan bahwa seorang dai ilallah hendaknya memiliki amal saleh. Ia menyeru ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala dengan lisannya dan dengan perbuatannya. Tidak ada perkataan sebaik ucapannya.

Para dai adalah orang yang mengarahkan manusia dengan perkataan dan amalnya. Dengan demikian, mereka menjadi teladan yang baik dalam hal ucapan, amalan, dan lembar demi lembar perjalanan hidupnya.

Demikian pula halnya para rasul. Mereka menjadi para penyeru ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala dengan perkataan, amalan, dan lembaran perjalanan hidupnya.

Bahkan, banyak orang yang didakwahi lebih dapat mengambil manfaat dengan melihat perjalanan hidup dibandingkan dengan perkataan. Apalagi kalangan awam dan yang memiliki sedikit ilmu, mereka cenderung lebih bisa mengambil manfaat dari perjalanan hidup, akhlak yang mulia, dan amal saleh seorang dai, daripada perkataannya yang terkadang tidak mereka pahami.

Yang paling penting, seorang dai hendaknya memiliki track record yang baik, amal saleh, dan akhlak yang mulia sehingga dapat dicontoh perkataan, amalan, dan perjalanan hidupnya

Di samping itu, seorang dai harus transparan dengan apa yang diyakininya. Dia menjelaskan bahwa dirinya berada di atas manhaj yang lurus, di atas kebenaran. Dia menyampaikan hal ini sebagai bentuk kemuliaan, kegembiraan, dan memberi motivasi kepadanya bukan dalam rangka riya’ dan berbangga diri. Akan tetapi, dia kerjakan semata-mata demi menjelaskan kebenaran.

Dengan demikian, para mad’u mengetahui bahwa ia benar-benar berada di atas bayyinah (bukti keterangan yang kuat) dan berada di atas manhaj yang benar lagi lurus. Dia tidak berada di atas sesuatu yang menyelisihi apa yang didakwahkannya.

Tidak sedikit dai yang menyerukan sesuatu, tetapi mereka justru menyelisihinya. Mereka berdakwah untuk mendapatkan materi, popularitas, dan yang lainnya.

Seorang dai yang jujur hanya akan berdakwah kepada Islam. Sebab, itulah kebenaran yang tidak ada pada selainnya.

Selanjutnya, di antara Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih tentang berdakwah dan keutamaannya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Ali radhiallahu ‘anhu ke Khaibar,

وَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَم

“Demi Allah, Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”

Sebagian ulama berkata, “(Maksudnya, –red.) lebih baik daripada dunia dan yang berada di atasnya. Dunia akan sirna, sedangkan akhirat akan abadi. Kebaikan akhirat, meski sedikit, tetap lebih baik daripada dunia dan apa yang ada padanya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَير فَلَهُ مِثْل أَ جرِ فَا عِلِه

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, ia akan memperoleh pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang menyeru kepada kebaikan dan mengarahkan manusia kepadanya, ia akan mendapat pahala seperti pahala yang didapat oleh orang yang melakukannya. Ini adalah keutamaan yang besar dalam berdakwah dan kemuliaan yang besar pula bagi para dai.

Sebuah keharusan bagi seorang mukmin untuk berjalan di atas manhaj para rasul dan berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, serta menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan dari menyelisihinya.

Semua keutamaan dan kebaikan tersebut akan dapat diraih dengan kesabaran, keikhlasan, dan kejujuran. Barang siapa yang lemah kesabaran, kejujuran, dan keikhlasannya, dirinya tidak akan sejalan lurus dengan urusan yang besar ini. Dia tidak akan memperoleh apa yang diinginkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ هَٰذِهِۦ سَبِيلِيٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan hujah yang nyata.” (Yusuf: 108)

وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Bersabarlah. Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala beserta orang-orang sabar.” (al-Anfal:46)

هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur dengan kejujuran mereka.” (al-Maidah: 119)

Apabila para dai bersabar, jujur, dan ikhlas, serta membangun dakwahnya di atas ilmu dan bashirah, mereka menjadi pemimpin bagi manusia. Mereka akan ditiru dalam keadaan sempit dan lapang, dalam keadaan susah dan mudah. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah:24)

Wallahu a’lam.

(Diringkas dari tulisan asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang berjudul ad-Da’wah ila Allah wa Atsaruha fi Intisyaril Islam. Sumber: )

 

Ditulis oleh  al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,21 Juli 2016/15 Syawal 1437H

Print Friendly