Dari Gadai Kita Belajar Akhlak Nabi

 oleh  Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,

وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَ ثَالِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ x تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ

“Rasulullah wafat, sedangkan baju perang beliau masih digadaikan kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum. ”

 Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain Aisyah, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, dan Asma’ binti Yazid. Adapun hadits Anas bin Malik, perawi dari beliau adalah Qatadah, dikeluarkan oleh al-Bukhari (2/9—10,115), an-Nasa’i (2/224), at-Tirmidzi (1/229), Ibnu Majah (2437), Ibnu Hibban (1124), dan Ahmad (3/133, 208, 238). Adapun hadits Ibnu Abbas c, perawi dari beliau adalah Ikrimah, dikeluarkan oleh an-Nasa’i, at-Tirmidzi, ad-Darimi (2/259), dan Ahmad (1/236). Adapun hadits Asma’ binti Yazid, perawi dari beliau adalah Syahr bin Hausyab, dikeluarkan oleh Ibnu Majah (2438) dan Ahmad (6/453). Adapun hadits ‘Aisyah ‘Aisyah radhiyallahu’anha di atas, perawi dari beliau adalah al-Aswad bin

Yazid. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin Katsir dari Sufyan bin Uyainah dari al-A’masy Sulaiman bin Mihran dari Ibrahim an-Nakha’i dari al-Aswad bin Yazid. Di dalam sanad hadits ini terdapat beberapa keunikan, di antaranya, Terdapat tiga orang tabi’in dalam satu sanad: al-A’masy, Ibrahim, dan al-Aswad, semuanya berasal dari Kufah.2. Terdapat contoh periwayatan perawi dari pamannya sendiri (dari pihak ibu), yaitu riwayat Ibrahim an-Nakha’i dari al-Aswad.

Memang, keluarga adalah lingkup terkecil dalam arah pendidikan. Tidak sedikit rumah tangga muslimin yang menjadi sumber ilmu dan melahirkan ulama-ulama umat. Oleh sebab itu, dalam ilmu hadits dikenal beberapa pembahasan khusus mengenai hal ini. Misalnya, kitab Tasmiyatu Man Ruwiya‘anhu karya Ali al-Madini. Kitab ini membahas para perawi yang memiliki saudara kandung seorang perawi juga. Al-Khatib al-Baghdadi menyusun sebuah kitab khusus yang menyebutkan para perawi yang meriwayatkan dari ayahnya sendiri. Tentang riwayat seorang anak dari ayahnya sendiri, Abu Nashr al-Wa’ili mengumpulkannya secara khusus dalam sebuah karya tulis.

Hadits di atas termasuk bukti keberkahan ilmu dalam sebuah keluarga. Al-Imam Bukhari meriwayatkan hadits  ‘Aisyah radhiyallahu’anha di atas pada sebelas tempat. Selain itu, hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Di dalam Musnad asy-Syafi’i disebutkan bahwa kuniah orang Yahudi itu adalah Abus Syahmah. Demikian juga penjelasan al-Khatib al-Baghdadi dalamkitab al-Mubhamat dan penjelasan Imamul Haramain. (Umdatul Qari) Zuhudnya Nabi Kita

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk baginda yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau adalah figur dalam hal kezuhudan dan teladan dalam menjauhi urusan-urusan duniawi. Harta benda secara bergelombang dan tiada putus berdatangan ke kota Madinah dari seluruh penjuru negeri. Entah itu harta jizyah ataukah ghanimah (harta rampasan perang), ada juga harta fai’ (harta orang kafir yang diperoleh tanpa peperangan).

Setiap kali datang harta tersebut, saat itu juga Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan dan menyerahkan kepada yang berhak. Walaupun beliau mampu menyisihkan harta untuk kebutuhan makanan pokok keluarga, baik dari hasil tanah milik beliau maupun dari harta-harta tersebut di atas, namun kedermawanan selalu mendorong beliau n untuk menginfakkan harta milik beliau.

Sampai-sampai,demikebutuhan makan keluarga, beliau menggadaikan baju perang kepada seorang Yahudi. Baju perang tersebut dinilai dengan tiga puluh sha’ gandum. Satu sha’ terdiri dari empat mud. Adapun satu mud seukuran empat kali dua telapak tangan. Sungguh luar biasa! Kejadian ini menjadi bukti terbesar akan kezuhudan, kesederhanaan, dan semangat berinfak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sejarah mencatat, di tahun ke-9 dan ke-10 H, saat harta datang berlimpah, beliau menghabiskan harta tidak berbilang untuk tamu dan para utusan yang datang dari berbagai penjuru negeri. Kalau hanya untuk tiga puluh sha’gandum, tidaklah sulit bagi Nabi untuk memperolehnya dari para sahabat. Namun, beliau n lebih memilih untuk menggadaikan salah satu harta bernilai tinggi yang dimilikinya kepada seorang Yahudi. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk baginda yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Mawardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyyah menjelaskan bahwa :

apabila baju besi yang dimaksud adalah yang terkenal dengan nama al-Batra’, dihikayatkan bahwa baju besi tersebut dipakai oleh al-Husain bin Ali ketika beliau terbunuh. Kemudian, baju besi itu diambil oleh Ubaidullah bin Ziyad. Setelah Ubaidullah terbunuh di tangan al-Mukhtar, baju besi itu jatuh di tangan Abbad bin al-Hushain al-Hanzhali.

Setelah itu, gubernur Basrah, Khalid bin Abdillah bin Usaid memintanya dari Abbad, namun Abbad menolak. Akhirnya, Abbad dijatuhi hukuman cambuk sebanyak seratus kali. Setelah itu tidak diketahui lagi keberadaan baju besi tersebut. Mengapa Nabi n membeli gandum dari orang Yahudi dengan cara gadai dan tidak memilih para sahabat? Didalam Syarah ShahihMuslim karya an-Nawawi disebutkan beberapa kemungkinan, di antaranya,

1. Hal itu dilakukan Nabi sebagai penjelasan diperbolehkannya muamalah tersebut.

2. Saat itu tidak ada orang yang memiliki kelebihan bahan makanan selain si Yahudi tersebut.

3. Sahabat tidak ingin menerima gadai dari Nabi, tidak pula mau menerima pembayaran. Dengan demikian, sengaja Nabi memilih orang Yahudi agar tidak memberatkan sahabat. Jika ada pertanyaan, “Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebiasaan untuk mempersiapkan kebutuhan makanan pokok keluarga untuk setahun, lalu mengapa beliau meminjam gandum dari orang Yahudi?”

Ada beberapa kemungkinan jawaban, di antaranya ;

1. Kejadian tersebut setelah kebutuhan makanan pokok beliau habis.

2. Beliau kedatangan tamu secara tiba-tiba.

Kemilau Mutiara Hadits

1.Diperbolehkannya gadai, lebih lebih al-Qur’an juga menunjukkannya.

2. Diperbolehkan untuk bermuamalah dengan orang-orang kafir dan hal ini tidak termasuk bentuk kecenderungan membela mereka. Al -I mamash – Shan’ani  menjelaskan, ”Hal ini telah diketahui secara dharuri. Rasulullah dan para sahabat tinggal di Makkah selama tiga belas tahun lamanya dan berinteraksi dengan kaum musyrikin. Beliau juga menetap di Madinah selama sepuluh tahun dan berinteraksi dengan ahli kitabserta berkegiatan di pasar mereka.”

3. Diperbolehkan untuk berhubungan dengan seseorang yang hartanya dominan haram. Dengan syarat, barang tersebut tidak diketahui secara pasti sebagai barang haram. Al-Imam ash-Shan’ani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan tidak perlunya memerhatikan tata cara bermuamalah sesama mereka (ahli kitab). Sudah diketahui, mereka berjual beli khamr, memakan dan mengambil harta haram.

Akan tetapi, bukan tugas kita untuk meneliti muamalah mereka dan cara harta bisa sampai ke tangan mereka. Kita bermuamalah dengan merekase bagaimana kepada orang yang berkepemilikan halal, hingga ada bukti pasti kebalikannya. Seperti itu juga kita bersikap kepada orang-orang zalim.

4. Hadits ini tidak menunjukkan bolehnya menjual senjata kepada kaum kafir. Sebab, baju perang bukanlah senjata. Gadai juga bukan bentuk jual beli. Selain itu, orang Yahudi, tempat Nabi menggadaikan, termasuk golongan musta’manin yang memperoleh jaminan keamanan dan keselamatan, sehingga tidak dikuatirkan munculnya gejolak dan pengkhianatan darinya. Sebab, membantu kaum kafir dan musuh dengan senjata merupakan keharaman dan pengkhianatan besar.

5. Hadits ini menunjukkan kezuhudan dan kesederhanaan Nabi, karena berharap janji Allah l dan kedermawanan. Oleh karena itu, beliau tidak membiarkan ada harta yang tersisa di sisi beliau. Ibnu Abbas radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا مَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ

سَارَ فِي يَوْمٍ صَائِفٍ فَاسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ

سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

”Apa urusanku dengan dunia?Aku dan dunia ibarat seorang pengendara yang melakukan perjalanan di siang hari, berteduh dan bernaung di sebuah pohon kemudian melanjutkan perjalanan dan meninggalkan tempa tersebut.” (HR. Ahmad, lihat ash-Shahihah no. 439)

6. Diperbolehkannya melakukan gadai saat mukim. Dengan demikian, ayat yang menjelaskan tentang gadai di saat safar hanyalah menunjukkan keumuman gadai. Hal ini adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama. Sementara itu, Mujahid, adh-Dhahhak, dan mazhab Zhahiriyah berpendapat bahwa gadai hanya dapat dilakukan pada saat safar.

7. Perintah berusaha adalah bagian dari sikap tawakal. Rasulullah mengajarkan bahwa untuk mendapatkan nafkah harus dibarengi dengan usaha dan perjuangan. Salah satunya dengan cara gadai. Perintah berusaha pun dapat diambil dari sisi lain hadits ini, yaitu Rasulullah menggunakan baju besi untuk melindungi diri dalam peperangan.

8. Hadits ini adalah contoh penggunaan kaidah “mendahulukan yang lebih penting”. Baju besi adalah perlengkapan perang yang diperlukan seorang prajurit. Dalam waktu yang sama, keluarga beliau membutuhkan nafkah. Beliau lebih mendahulukan nafkah keluarga karena wajib hukumnya, sedangkan berperang tetap dapat dilakukan meski tanpa baju besi.

9. Hadits di atas menyatakan pengakuan Islam atas kepemilikan harta orang kafir. Harta yang dimiliki secara sah oleh orang kafir tidak dapat dirampas atau diambil selain dengan cara yang diizinkan oleh syariat. Jadi, bukan karena kekafiran seseorang lantas kita boleh menzaliminya.

10. Hadits ini menunjukkan perhatian ahli waris terhadap beban dan tanggungan keluarga yang meninggal. Sekaligus, hadits ini menunjukkan pentingnya bagi seseorang untuk mencatat dan memberitahukan kepada ahli warisnya, baik tentang beban hak dan kewajiban dirinya maupun hak dan kewajiban orang lain. Rasulullah wafat dalam keadaankeluarga beliau mengetahui tanggungan gadai kepada orang Yahudi.

11. Seluruh perjalanan hidup Rasulullah  selalu memberikan manfaat dan dapat diambil ibrahnya. Sejak beliau dilahirkan, beranjak dewasa, diangkat menjadi nabi hingga akhir hayat beliau, selalu ada pelajaran dan bimbingan bagi setiap orang yang ingin merenunginya. Setelah Rasulullah wafat pun, umat beliau masih dapat mengambil banyak pelajaran dari perbuatan beliau yang menggadaikan baju besi kepada seorang Yahudi.

12. Warisan yang terbaik adalah amal kebaikan. Perhatikanlah, bagaimanakah Rasulullah meninggalkan dunia ini? Beliau tinggalkan dunia dalam keadaan beliau menjadi pemimpin dan penguasa Jazirah Arab, ditakuti oleh setiap raja yang ada saat itu. Para sahabat siap sedia mengorbankan jiwa raga dan harta untuk beliau.

Namun, beliau tinggalkan dunia ini tanpa mewariskan dinar, dirham, budak sahaya, atau hartayang lain. Beliau hanya meninggalkan baghal berwarna putih, senjata, dan tanah yang beliau wasiatkan sebagai sedekah. Beliau meninggalkan dunia dalam keadaan baju besi beliau tergadai di tangan orang Yahudi. Para sahabat sangat memahami hal ini. Warisan beliau adalah ilmu.

Sulaiman bin Mihran bercerita, “Suatu hari, Abdullah bin Mas’ud sedang bersama murid-muridnya. Tiba-tiba lewatlah seorang badui. Ia bertanya, ‘Apa yang sedang mereka lakukan?’ Ibnu Mas’ud menjawab,

يَقْتَسِمُونَهُ n عَلَى مِيْرَاثِ مُحَمَّدٍ

‘Mereka sedang membagi – bagikan warisan Muhammad’.” (SyarafAshabil Hadits, al-Khatib)

Mudah-mudahan kita pun termasuk pengikut beliau yang sangat berharap mendapatkan bagian dari warisan ilmu yang beliau tinggalkan. Semogabermanfaat. Walhamdulillah rabbil ‘alamin.


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly