Faedah Muhasabah

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

 

Muhasabah adalah seorang hamba melihat hak Allah I atas dirinya kemudian memperhatikan apakah ia telah menunaikan sebagaimana mestinya…
Di antara faedah muhasabah adalah:
Mengetahui aibnya jiwa. Dan barang-siapa tidak mengetahui aib jiwanya, ia tidak dapat membersihkannya. Jika seseorang dapat melihat aib jiwanya, ia akan marah terhadap jiwanya karena Allah I.
Bakr bin Abdillah Al-Muzani t mengatakan: Ketika aku melihat jamaah haji di padang Arafah akupun menyangka bahwa mereka telah diberi ampunan, kalaulah aku tidak berada di tengah-tengah mereka.
Menjelang wafat Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri t, Abul Asyhab dan Hammad bin Salamah menjenguknya. Hammad-pun mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (Sufyan Ats-Tsauri, red.), bukankah engkau sudah merasa aman dari apa yang kau khawa-tirkan dan engkau akan datang kepada apa yang kau harapkan? Allah Maha Besar kasih sayangnya.”
Maka Sufyan mengatakan: “Wahai Hammad bin Salamah, Apakah engkau masih punya harapan bagi orang seperti saya ini untuk selamat dari api neraka?” Hammad menjawab: “Ya, demi Allah. Sungguh aku berharap demikian pada dirimu.”
Seorang ulama bernama Muhammad bin Wasi’ t mengatakan: “Seandainya dosa itu berbau, tentu tidak seorangpun mampu duduk bersamaku.”
Tabiat jiwa selalu mengajak kepada hal-hal yang membinasakan, membantu musuh jiwa itu sendiri, cenderung kepada kejelekan dan mengikutinya. Sehingga jiwa dengan tabiatnya akan berlalu di tengah hamparan kesalahan.
Atas dasar itu, nikmat yang sangat besar adalah keluar dari tabiat itu, membebaskan diri darinya karena itu merupakan penghalang terbesar antara seorang hamba dengan Allah. Dan sungguh orang yang paling mengetahui jiwanya adalah orang yang paling tahu betapa hina jiwanya dan yang paling murka terhadap-nya.
Suatu ketika Abdurrahman menemui Ummu Salamah x. Ummu Salamah pun mengatakan: Aku mendengar Rasulullah n bersabda: “Sungguh di antara shahabatku ada yang tidak akan melihatku setelah kematianku selama-lamanya.” Maka Abdurahman pun keluar dari sisinya dalam keadaan takut sampai ia mendatangi ‘Umar z sembari mengatakan: “Dengarkan apa yang dikatakan oleh Ibumu (yakni Ibu kaum mukminin, Ummu Salamahx). Maka seketika itu bangkitlah ‘Umar z dan datang kepada Ummu Salamah, lalu bertanya kepadanya (tentang ucapannya) kemudian ‘Umar mengatakan lagi: “Aku memintamu sumpah dengan nama Allah apakah di antara yang dimaksud Nabi n adalah aku?” Ummu Salamah x menjawab: “Tidak, dan aku tidak akan lagi menyebutkannya setelah kamu ini.”
Aku (Ibnul Qayyim) mendengar guruku (Ibnu Taimiyah) mengatakan: “Ummu Salamah ingin menutup pintu pertanyaan semacam ini dan bukan maksudnya yakni bahwa engkaulah satu-satunya yang selamat bukan seluruh shahabat.”
Marah terhadap jiwa karena Allah adalah termasuk sifat-sifat shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur). Dengannya, seorang hamba akan mendekat kepada Allah dalam sesaat, berlipat lebih cepat dari mendekatnya kepada Allah dengan beramal.
Di antara fae-dah muhasabah adalah bahwa dengan itu ia akan mengetahui hak Allah I. Dan barangsiapa tidak mengetahui hak Allah atasnya maka ham-pir-hampir ibadahnya tidak memberinya manfaat atau sedikit sekali manfaatnya. Sehingga di antara sesuatu yang sangat bermanfaat bagi qalbu adalah melihat hak Allah I atas hamba-hambanya. Karena, hal itu akan mewarisi rasa marah terhadap jiwa dan menganggapnya rendah serta akan membebaskannya dari sikap menyombong-kan diri, di samping juga akan membuka bagi dirinya pintu ketundukan dan penghinaan di hadapan Rabbnya. Ia pun akan menyadari bahwa keselamatan tidak akan diraih kecuali dengan maaf dari Allah I, ampunan, dan kasih sayang-Nya.
Dan di antara hak Allah I adalah agar Ia ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri.
Maka barangsiapa melihat hak Allah I ini atas dirinya, iapun akan mengetahui dengan ‘ilmul yaqin bahwa ia sesungguhnya belum melaksanakan hak tersebut sebagaimana mestinya dan tiada harapan baginya kecuali maaf dan ampunan dari-Nya. Sehingga apabila ia diperhitungkan dengan amalnya, tentu ia akan binasa. Demikianlah pandangan orang-orang yang mengenal Allah I terhadap Allah dan terhadap dirinya. Itulah yang membuat mereka putus asa atas diri mereka dan menjadikan mereka bergantung terhadap ampunan Allah I dan kasih sayangnya.
Apabila engkau memperhatikan keadaan mayoritas manusia tentu engkau akan mendapatkannya bertolak belakang de-ngan apa yang disebut-kan di atas. Mereka hanya melihat hak mereka, dan tidak melihat hak Allah I atas mereka. Dari titik inilah terputus hubung-an mereka dengan Allah I, qalbu merekapun tertutup untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, dan menikmati dzikir dengannya. Ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap Rabbnya dan dirinya.
Jadi, muhasabah adalah seorang hamba melihat hak Allah atas dirinya lalu melihat apakah ia sudah menunaikannya sebagaimana mestinya? Sebaik-baik pikiran adalah berpikir dalam hal itu, karena dengan itu qalbu akan berjalan menuju kepada Allah dan akan mencampakkannya di hadapan-Nya dalam keadaan hina dan tunduk.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Diterjemahkan dan diringkas oleh Qomar ZA dari kitab Ighatsatul Lahafan karya Ibnul Qayyim)

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly