Kecintaan dan Perhatian asy-Syaikh Muqbil terhadap Ilmu yang Bermanfaat

”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Kecintaan terhadap ulama dan ilmu yang bermanfaat telah muncul pada diri Asy-Syaikh Muqbil sejak beliau masih kanak-kanak. Kecintaan tersebut menyatu dengan darah daging dan merasuk sampai ke tulang sumsum, sebagaimana beliau ceritakan sendiri kepada keluarganya.

Senin, akhir Shafar1420 H, saat mengajar, beliau pernah mengungkapkan kecintaannya terhadap ilmu seraya berkata, ”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Beliau juga berkata, “Insya Allah kami akan menuntut ilmu sampai mati.”

Segala puji bagi Allah, beliau meninggal dan tergolong sebagai ulama besar yang mulia.

 

Aktivitas Sehari-Hari

Salah satu aktivitas beliau setelah shalat subuh adalah mengulang hafalan, menghafal al-Qur’an, atau menelaah penelitian murid-muridnya. Beliau selalu membaca zikir pagi ketika menuju maktabah nisa’ (perpustakaan untuk kaum wanita).

Beliau memang tidak hafal al-Qur’an seluruhnya, tetapi jika berdalil tentang satu masalah dengan ayat-ayat al-Qur’an, beliau mampu menyebutkan sejumlah ayat (yang sesuai dengan topiknya) lebih baik daripada sebagian orang yang sudah hafal al-Qur’an. Hal ini disaksikan oleh sebagian besar muridnya. Terkadang beliau menguji atau diuji tentang ayat-ayat al-Qur’an, dan umumnya beliau mampu menyebutkan ayat tersebut ada di surat apa.

Empat rakaat di waktu dhuha juga selalu beliau tunaikan, terkadang di halaman rumah atau di tempat lain dengan tenang. Sebelum waktu zhuhur, dua jam atau kurang, beliau gunakan untuk tidur siang. Sebelum waktu zhuhur tiba beliau mengajar kitab Shahihul Musnad Mimma Laisa fi ash-Shahihain hingga waktu azan tiba. Setelah shalat zhuhur, beliau mengajar Tafsir Ibnu Katsir.

Selesai pelajaran, beliau kembali ke rumah diiringi oleh pengawal. Terkadang beliau ditemani oleh tamu atau mereka yang ada keperluan.

Apabila waktu ashar telah tiba, beliau keluar untuk menunaikan shalat, kemudian setelah itu mengajar kitab Shahih al-Bukhari. Ketika pelajaran telah selesai, beliau keluar ke lapangan atau lembah yang disukainya, diiringi oleh pengawal pribadinya, atau bersama tamu dan orang-orang yang memiliki keperluan.

Sebelum maghrib, beliau telah kembali ke rumah dan mempersiapkan diri untuk shalat maghrib. Setelah shalat maghrib beliau mengajar kitab Shahih Muslim, al-Mustadrak karya al-Hakim, al-Jami’ ash-Shahih fil Qadar, atau Dalailun Nubuwwah, dan yang lain.

Setelah pelajaran selesai, beliau kembali ke rumah bertemu dengan keluarganya. Meskipun aktivitas beliau sangat padat, beliau masih menyempatkan diri mengajari keluarganya di rumah. Setelah itu beliau menelaah beberapa kitab yang beliau inginkan hingga larut malam.

Kemudian beliau istirahat dan bangun sebelum fajar guna menunaikan shalat witir. Jika waktu subuh telah tiba, beliau keluar menuju masjid dengan langkah yang cepat—apabila kondisi beliau sedang sehat.

 

Akidah dan Perhatian Beliau terhadapnya

Akidah beliau adalah sebagaimana keyakinan salafush shalih dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan pengikut mereka, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, yaitu beriman kepada Allah, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, tanpa tamtsil (memisalkan), tasybih (menyerupakan), takyif (menanyakan kaifiah) dan ta’thil (menolak). Demikian pula beriman kepada urusan gaib, takdir yang baik dan yang buruk, serta masalah akidah yang lainnya.

Bahkan, beliau menulis dan mengajarkan pembahasan tentang akidah ini, seperti kitab al-Jami’ ash-Shahih Fil Qadar, asy-Syafa’ah, dan ash-Shahih al-Musnad Min Dalail an-Nubuwwah.

Beliau selalu memotivasi muridnya untuk mempelajari kitab ‘Aqidatus Salaf karya ash-Shabuni, al-‘Aqidah al-Wasithiyyah karya Ibnu Taimiyah, as-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad, as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, as-Sunnah karya al-Marwazi, dan yang semisalnya. Beliau juga pernah mengajarkan kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah dan as-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad.

Dengan kekuatan akidah inilah, beliau menghadapi musuh-musuh Allah dan musuh-musuh dakwah salaf, serta menumbangkan kebatilan dan kesesatan mereka dengan dalil al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Karena itulah, mereka gagal dan kembali dalam keadaan merugi. Bahkan, sebagian mereka ada yang mengakui, “Demi Allah, tidaklah Ahlus Sunnah mengalahkan kami kecuali dengan dalil.”

 

Sikap Beliau terhadap Pemahaman Salafush Shalih

Beliau berkata, “Kita beribadah kepada Allah dengan pemahaman salafush shalih yang sesuai dengan dalil. Kita katakan, sesungguhnya mereka telah mendahului kita pada setiap kebaikan. Telah jelas pula pujian terhadap mereka, seperti firman Allah,

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surgasurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam,

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya.” (HR.al-Bukhari dan Muslim dari ‘Imran bin Hushain)

Hadits di atas memberi isyarat—meski tidak tegas—yang menjelaskan bahwa agama ini harus diambil sesuai dengan pemahaman mereka.

 

Semangat Berpegang terhadap as-Sunnah

Beliau termasuk orang yang memiliki antusias untuk berpegang dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan beliau. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah akan memuliakan seseorang sesuai dengan kadar dia dalam berpegang teguh terhadap as-Sunnah.”

Termasuk kalimat yang sering diucapkan oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah adalah, “Kita tidak akan meninggalkan Sunnah Rasulullah walaupun kita harus menggigitnya dengan gigi.”

Beliau rahimahullah sering mengingatkan para penuntut ilmu dan para dai untuk berpegang teguh dengan as-Sunnah, mengamalkan, dan menghidupkannya. Menghidupkan sunnah mengandung berkah ilahi, yaitu menetapnya suatu kebaikan.

Beliau merasa susah dan tersakiti apabila dakwah ini dihadapkan kepada kehinaan. Beliau katakan, “Kita wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan dakwah ini. Janganlah dakwah ini kita hadapkan kepada kehinaan.”

Sebaliknya, beliau merasa senang ketika menyaksikan kaum muslimin pada zaman ini banyak yang menyambut dan menerima kebenaran. Lebih khusus lagi saat melihat Ahlus Sunnah, yang berupaya menunaikan apa yang menjadi kewajiban mereka.

Beliau berkata, “Ahlus Sunnah—segala puji milik Allah—selalu menutup kekosongan. (Dengan sebab itulah) musuh-musuh Islam takut dan segan terhadap mereka. Amerika siap membantu kaum tarekat Sufi, Syi’ah, dan orangorang kafir, tetapi tidak akan mau membantu Ahlus Sunnah.”

 

Pemahaman Fikih

Fikih beliau sangat teliti dan kokoh. Tidaklah setiap masalah yang disebutkan kecuali disertai dengan dalil, baik dari al-Qur’an atau as-Sunnah. Salah satu bukti terbesar yang menegaskan hal ini adalah kitab beliau, al-Jami’ ash-Shahih Mimma Laisa fish Shahihain.

Sebelumnya, beliau berinisiatif mengumpulkan hadits-hadits sahih di luar ash-Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) berdasarkan urutan sahabat. Beliau menyusunnya dalam sebuah kitab dan diberi judul dengan ash-Shahih al-Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, yang terdiri dari dua jilid. Kemudian hadits-hadits tersebut beliau urutkan berdasarkan judul topik permasalahan fikih, seperti yang dibuat oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya. Kitab itu beliau beri judul al-Jami’ ash-Shahih Mimma Laisa Fih Shahihain.

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa fikih beliau sangat jauh dari pendapat yang tidak didasari oleh dalil, baik al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

 

Perhatian Terhadap Ilmu Hadits dan Ilmu Nahwu

Beliau sangat memerhatikan ilmu hadits dan menganggapnya sebagai bidang studi khusus, karena begitu pentingnya ilmu tersebut bagi beliau. Terlebih bagi para ahlul hadits, ilmu hadits merupakan separuh ilmu.

Ali ibnul Madini rahimahullah berkata, “Mendalami makna-makna hadits adalah separuh ilmu. Memahami (mengenal) para rawi (periwayat hadits) juga separuh ilmu.”

Adapun terkait dengan ilmu nahwu, sebelum rihlah ke Arab Saudi, di Yaman beliau telah belajar ilmu nahwu dan sangat perhatian terhadapnya. Sampai-sampai beliau menyelesaikan kitab Qathrun Nada beberapa kali. Hal ini disebabkan tidak adanya pembimbing yang baik bagi beliau. Sebab, dahulu yang mengajari beliau adalah seorang Syiah yang sesat.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat,29 Juli 2016/23 Syawal 1437H

Print Friendly