Kepribadian asy-Syaikh Muqbil, Akhlak dan Perangai Beliau yang Mulia

Tawakal dan Kedermawanan

Kuatnya rasa tsiqah (percaya penuh) kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang ada pada diri asy-Syaikh Muqbil menyebabkan beliau selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya. Suatu kalimat yang sering beliau ucapkan adalah, “Kemudahan itu di tangan Allah.”

Apabila berinfak, beliau selalu mengatakan, “Allah akan menggantinya.” Beliau rahimahullah selalu mengatakan, “Semoga Allah memberkahi.”

Beliau rahimahullah enggan meminta untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, beliau memberi dukungan (syafaat) kepada para muhsinin (dermawan) agar membantu para penuntut ilmu, terkhusus yang memiliki kebutuhan mendesak. Beliau rahimahullah juga membenci sikap meminta-minta, sebagaimana yang tertuang dalam sebuah karyanya yang berjudul Dzammul Mas’alah (Tercelanya Meminta-minta).

Hal ini menjadi bukti tentang kuatnya tawakkal dan keyakinan beliau terhadap janji Allah subhanahu wa ta’ala yang telah berfirman,

وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba: 39)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا؛ وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada satu hari pun yang para hamba masuk di pagi harinya, kecuali turunlah dua malaikat. Salah satunya memohon, “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.” Dan yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kerusakan (kerugian harta) kepada orang yang tidak berinfak.” (HR . al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Zuhud Terhadap Dunia

Beliau tinggal di rumah yang sederhana, sebagiannya terbuat dari tanah. Beliau menolak ketika sebagian muridnya yang berkecukupan ingin membongkar rumah beliau dan membangun ulang yang lebih bagus.

Beliau tidak peduli apakah dunia itu mendatangi atau meninggalkannya. Oleh karena itu, beliau sering mengingatkan tentang bahaya dunia. Di antara ucapan beliau dalam hal ini adalah, ”Dunia ini menahan-nahan seseorang, bahkan sering melalaikannya. Akibatnya, dia lebih mementingkan urusan dunia daripada akhirat. Bahkan, dunia bisa membuat orang menjadi buta dan tuli.”

 

Tawadhu’ (Rendah Hati)

Beliau pernah berucap, “Kita terkadang tidak tahu, terkadang tahu; terkadang benar dan terkadang salah.”

Beliau rahimahullah selalu mengatakan, ”Aku ini banyak kekurangan dan kelemahan. Aku tidak pernah ridha terhadap diriku sendiri.”

Saat mulai muncul uban di janggutnya, beliau pernah berkata kepada dirinya sendiri, ”Apa yang telah kupersembahkan untuk Islam dan kaum muslimin?”

Ketika dakwah beliau mulai tampak, naik pamornya dan tersebar (ke berbagai daerah), beliau berkata, “Ini adalah sesuatu yang memang telah Allah kehendaki. Ini bukan karena kekuatan kita, bukan karena kefasihan kita, bukan pula karena banyaknya ilmu dan harta kita.”

Suatu ketika beliau bercerita menggambarkan tentang keadaan rawi-rawi hadits yang kacau hafalannya, “Kemarin (dahulu) mereka berada di golongan para ulama. Kini mereka (berada) dalam golongan orang-orang pikun (seperti orang gila). Karena itu, janganlah ada seorang pun yang membanggakan kecerdasan dan kekuatan hafalannya.”

Beliau juga berpesan, “Kesombongan merupakan penghalang terbesar seseorang dari kebaikan.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

سَأَصۡرِفُ عَنۡ ءَايَٰتِيَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقّ

”Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi ini tanpa aIasan yang benar dari ayat-ayat-Ku.” (al-A’raf: 146)

Kepada murid-muridnya, beliau sering menyampaikan, “Aku anggap kalian sekarang ini adalah teman sejawatku.”

Beliau sangat senang apabila ada muridnya yang mengingatkan kesalahan beliau. Sebagai balasannya, beliau mendoakan kebaikan bagi mereka. Yang seperti ini beliau lakukan di hadapan orang banyak.

Karena tawadhu’, keikhlasan dan jauhnya beliau dari dunia, akhirnya beliau menjadi salah satu rujukan dan tempat terkumpulnya ilmu. Kaum muslimin datang dari berbagai penjuru bumi untuk belajar dan mengambil faedah ilmu dari beliau. Hal ini menunjukkan kemuliaan dan masyhurnya nama beliau. Akan tetapi, beliau sendiri tidak menyukai ketenaran dan kemasyhuran. Beliau pernah berkata, ”Aku diuji dengan kemasyhuran.”

Ketenaran tidak akan merusak kedudukan seseorang, apabila memang tidak diharap-harapkan. Yang merusak ialah apabila seseorang menginginkan kedudukan dan ketenaran. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu,

قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ: أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ  الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ :تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ

Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mengerjakan satu amalan kebaikan lalu dipuji oleh orang lain?” Beliau bersabda, “Itu adalah berita gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR . Muslim)

 

Tidak Peduli dengan Kecaman dan Tidak Suka Pujian

Termasuk salah satu keistimewaan beliau adalah tidak memedulikan ucapan musuh-musuh dan orang-orang yang ambisius. Hal ini sebagaimana yang diucapkan oleh penyair,

Apabila pemuda mengenali kebenaran bagi dirinya

Remeh baginya celaan para pencela

Suatu ketika disampaikan kepada beliau, “Sebagian orang mengecam Anda.”

Dengan raut muka yang berseri-seri dan tersenyum, beliau berkata, “Itu tidak merugikan diriku, dosaku lebih banyak.”

Beliau juga tidak terpengaruh dengan pujian, bahkan tidak menyukai dan tidak mencintainya. Hal ini dibuktikan dengan kritikan beliau terhadap hizbiyin, ahli bid’ah, dan para penyebar cerita bohong (khurafiyin). Jika beliau menghendaki pujian, tentu hal ini tidak akan beliau lakukan.

 

Mengkhawatirkan Kemunafikan

Beliau pernah berkata, ”Orang yang tidak khawatir terhadap dirinya adalah munafik yang tertipu.”

Inilah keadaan seorang mukmin, dia khawatir dirinya ditimpa kemunafikan.

Abdullah ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku berjumpa dengan 30 orang sahabat Nabi, seluruhnya takut kalau kemunafikan menimpa diri mereka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dalam “Kitab al-Iman”)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebab, seorang mukmin terkadang amalannya terkotori oleh sesuatu, di antaranya hal-hal yang menyelisihi keikhlasan. Rasa takut mereka terhadap hal itu tidak berarti bahwa hal itu mesti terjadi. Akan tetapi, hal itu hanyalah bentuk sikap wara’ dan ketakwaan mereka yang berlebih.”

Al-Hafizh menukil ucapan Ibnu Baththal, “Hal ini karena panjangnya usia mereka, lantas mereka melihat perubahan yang belum pernah mereka jumpai dan tidak mampu mereka ingkari. Akhirnya, mereka khawatir terjerumus dalam sikap mudahanah (bermuka dua) dan munafik.”

Tentang kaidah “Kita saling menolong dalam urusan yang kita sepakati, dan saling memaafkan dalam hal yang kita perselisihkan”, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah pernah berkomentar, “Kaidah ini menggugurkan semua dalil yang menganjurkan amar ma’ruf nahi mungkar. Orang yang menyatakannya bisa dikatakan munafik dalam bentuk kemunafikan ‘amali (kemunafikan yang belum sampai kepada kekafiran).”

 

Kewibawaan

Beliau termasuk orang-orang yang didengar dan diperhatikan ucapannya. Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan rasa segan pada diri setiap orang yang melihat beliau, bahkan pada hati orang-orang yang menentang beliau. Ada sebuah bait syair yang mejadi perumpamaan yang ditujukan kepada al-Imam Malik,

Enggan menjawab, tidak membantah karena segan

Mereka yang bertanya menundukkan dagu mereka

Adab wibawa, kemuliaan adalah sultan ketakwaan

Dia ditakuti padahal bukan penguasa

 

Keberanian

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah termasuk orang yang tidak takut celaan di jalan Allah dari siapapun, tanpa harus menimbulkan fitnah (kekacauan). Beliau tidak merasa segan kepada siapapun dan tidak peduli siapapun yang menyelisihinya. Seperti ungkapan seorang penyair,

Jika kamu diuji dengan penentang yang tidak berbudi

Jadilah seakan-akan kamu tidak dengar dan tidak benci

 

Santun dan Berhati-hati

Beliau sangat berhati-hati dan tenang menghadapi persoalan. Jika ditanya tentang satu masalah, beliau selalu menjawab, “Wallahu a’lam.”

Apabila ditanya tentang seorang tokoh, beliau berkata, “Saya menahan diri berbicara tentang dia,” hingga jelas keadaan orang tersebut.

Apabila terjadi satu permasalahan, beliau berupaya memperbaiki dan menyabarinya, dengan harapan suatu saat seseorang akan berubah dan menjadi baik. Akan tetapi, jika hal itu tidak mendatangkan manfaat, beliau bangkit menerangkan kepada khalayak ramai tentang kejelekan si Fulan—setelah dilakukan upaya perbaikan—menerangkan syubhat dan penyimpangannya, serta membantah hujah-hujahnya yang lemah.

Lantas, apakah ada keburukan dalam ucapan dan sikap keras beliau? Orang yang jujur dan adil akan menilai, inilah yang dinamakan tatsabbut dan ta’anni (teliti dan berhati-hati). Akan tetapi, kebaikan tidak bisa melenyapkan celaan sehingga tidaklah tersisa kecuali penentangan dan pengingkaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        وَلَوۡ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَابٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فَظَلُّواْ فِيهِ يَعۡرُجُونَ ١٤ لَقَالُوٓاْ إِنَّمَا سُكِّرَتۡ أَبۡصَٰرُنَا بَلۡ نَحۡنُ قَوۡمٞ مَّسۡحُورُونَ ١٥

Dan seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir.” (al-Hijr: 14—15)

Telah masyhur perumpamaan seseorang yang keras kepala, “Ada dua orang yang sedang berjalan. Dari kejauhan keduanya melihat ada benda hitam. Salah satunya berkata, ‘Itu kambing betina.’ Yang lain mengatakan, ‘Itu burung gagak.’ Ketika keduanya mendekat, terbanglah benda itu. Orang yang menyatakan bahwa benda itu adalah kambing betina berkata, ‘Itu adalah kambing betina, meskipun bisa terbang’.”

 

Rahmat dan Kasih Sayang

Kasih sayang beliau tampak kepada semua pihak, anak-anak, tua-muda, laki-laki dan perempuan. Terkhusus kepada para penuntut ilmu, beliau memandang mereka sebagai anakanaknya sendiri. Begitupula sebaliknya, merekapun menyukai beliau. Hal ini karena kedudukan dan kebaikan beliau kepada mereka.

Apabila terjadi kekurangan dari kebutuhan para penuntut ilmu, beliau ikut menanggung beban tersebut. Beliau rahimahullah pernah berkata, “Tidak pernah aku mendapati kesulitan yang lebih berat kurasakan daripada hal ini.”

Salah satu wujud kasih sayang beliau kepada para muridnya adalah beliau sangat marah ketika salah seorang muridnya tidak mau mengajari saudaranya dengan alasan sedang sibuk meneliti sebuah masalah. Sebagian di antara mereka beliau doakan, “Semoga Allah tidak memberkahi penelitianmu.”

Di antara sifat kasih sayang beliau ialah beliau selalu membangkitkan rasa cinta kepada ilmu di hati muridmuridnya. Beliau lakukan hal itu dengan menceritakan keadaan yang pernah dialami oleh para ulama pendahulu kita. Beliau uraikan pula keutamaan ilmu yang bermanfaat, yang menjadi bekal seseorang menuju jannah (surga).

Beliau pernah berkata, “Wahai anak-anakku, demi Allah, seandainya ilmu itu bisa dituangkan ke dalam gelas, tentu akan aku minumkan kepada kalian. Akan tetapi, ilmu itu tidak akan didapat kecuali dengan susah payah dan kesungguhan.”

Yahya bin Abi Katsir berkata kepada putranya, Abdullah, “Ilmu ini tidak akan diperoleh dengan santainya badan.”

Beliau memiliki perhatian yang besar kepada para penuntut ilmu, terutama orang-orang ‘ajam (non-Arab atau dari negeri seberang).

Di antara bentuk kasih sayang beliau ialah beliau mengutus para da’i yang menyeru ke jalan Allah, ke berbagai wilayah, baik di Yaman maupun di luar Yaman. Para dai tersebut mengajak manusia kepada agama Allah, mengajari mereka kebaikan, dan memperingatkan mereka dari kejahatan.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,30 Juli 2016/24 Syawal 1437H

Print Friendly