Keutamaan Mu’awiyah Bin abi Sufyan dalam Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari bin Jamal)

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadid: 10)
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
“Penaklukan.”
Mayoritas ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “al-fath” di sini adalah Fathu Makkah, yang menunjukkan kemenangan kaum muslimin dengan berhasilnya Rasulullah n dan para sahabatnya g.
Di antara yang menyebutkan penafsiran ini adalah Qatadah dan Zaid bin Aslam rahimahumallah. (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/240, Tafsir Ibnu Katsir 13/411)
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Perjanjian Hudaibiyah. Pendapat ini diriwayatkan dari asy-Sya’bi dan az-Zuhri, serta dikuatkan oleh al-Allamah as-Sa’di rahimahumullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman.
Yang menguatkan pendapat yang kedua ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad t dari Anas bin Malik z yang berkisah, “Pernah terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf c. Khalid berkata kepada Abdurrahman, ‘Engkau merasa bangga di hadapan kami dengan hari-hari yang kalian telah mendahului kami padanya.’ Sampailah berita kepada kami bahwa ucapan itu disampaikan kepada Nabi n.
Beliau n pun bersabda,
دَعُوا لِي أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقْتُمْ مِثْلَ أُحُدٍ أَوْ مِثْلَ الْجِبَالِ ذَهَباً مَا بَلَغْتُمْ أَعْمَالَهُمْ
“Biarkanlah para sahabatku untukku. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya kalian berinfak emas sebesar Bukit Uhud atau sebesar gunung-gunung, kalian tidak akan bisa melampaui amalan mereka.” (HR. Ahmad 3/266, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3386)
Ibnu Katsir t menerangkan, “Sebagaimana diketahui, Khalid bin Walid z yang kepadanya tertuju ucapan ini, masuk Islam di antara Perdamaian Hudaibiyah dan Fathu Makkah. Perselisihan yang terjadi di antara keduanya adalah dalam hal menyikapi Bani Judzaimah, kabilah yang Rasulullah n mengutus Khalid bin Walid kepada mereka setelah Fathu Makkah.
Mereka (Bani Judzaimah) berkata, ‘Kami telah berganti agama. Kami telah berganti agama).’ Mereka belum pandai mengatakan, ‘Kami telah masuk Islam.’
Khalid bin Walid lantas memerintahkan untuk membunuh mereka dan membunuh yang tertawan dari mereka. Sementara itu, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Umar, dan yang lainnya g berbeda pendapat. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara Khalid dan Abdurrahman karena hal tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 13/412)

“(Balasan) yang lebih baik.”
Al-Husna yang dimaksud adalah al-jannah (surga), seperti halnya firman Allah l,
“Orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan al-husna….” (Yunus: 26)
Firman Allah l,
“Orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (al-Anbiya: 101)

Tafsir Ayat
Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di t menerangkan, “Yang dimaksud al-fath di sini adalah kemenangan di Hudaibiyah, yaitu ketika terjadi perdamaian antara Rasulullah n dan kaum Quraisy. Perdamaian itu menjadi sebab kemenangan besar yang dicapai oleh Islam, berbaurnya kaum muslimin dengan orang-orang kafir, mendakwahkan dien tanpa ada yang menghalangi. Hal ini menyebabkan manusia berbondong-bondong masuk Islam ketika itu. Kemuliaan dan keagungan Islam pun menjadi tampak.
Padahal, sebelum al-Fath, kaum muslimin tidak mampu mendakwahkan dien selain di daerah yang penduduknya telah memeluk Islam, seperti kota Madinah dan sekitarnya. Sementara itu, penduduk Makkah dan lainnya yang telah masuk Islam dan berada di daerah yang masih dikuasai oleh kaum musyrikin selalu diganggu dan diteror. Oleh karena itu, yang masuk Islam sebelum al-Fath (Hudaibiyah -pen.) lalu berinfak dan berjihad, lebih besar pahala dan ganjarannya daripada orang yang belum masuk Islam, berjihad, dan berinfak setelahnya. Ini sejalan dengan hikmah-Nya. Orang-orang lebih dahulu masuk Islam dan para sahabat yang mulia, mayoritas berislam sebelum al-Fath.
Boleh jadi, penyebutan rincian ini menimbulkan kesan mengurangi dan merendahkan kedudukan orang yang lebih rendah. Oleh karena itu, disebutkan dalam lanjutan ayat, ‘dan setiap mereka telah dijanjikan Allah l dengan al-jannah.’ Artinya, orang-orang yang masuk Islam, berjihad, dan berinfak baik sebelum maupun sesudah al-Fath, tetap mendapatkan janji jannah dari Allah l.
Hal ini sekaligus menunjukkan keutamaan seluruh sahabat g, yang Allah l mempersaksikan keimanan mereka dan menjanjikan mereka dengan surga. ‘Allah Maha Mengetahui apa yang kalian amalkan,’ dan setiap amalan yang kalian kerjakan akan dibalas.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Di dalam ayat ini ada yang tidak diungkapkan. Apabila dimunculkan, maknanya, “Orang yang berinfak dan berperang sebelum al-Fath tidak sama dengan orang yang berinfak dan berperang setelah al-Fath.”
Ucapan tersebut tidak disebutkan karena jelasnya makna ayat ini.
Di samping itu, dikuatkan juga oleh lafadz ayat setelahnya,
“Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu.”
Para ulama juga menjadikan ayat ini sebagai penjelasan tentang keutamaan orang yang lebih dahulu masuk Islam, berinfak, dan berjihad bersama Rasulullah n sebelum al-Fath. Para ulama menjelaskan bahwa sebab keutamaan tersebut adalah besarnya kedudukan pertolongan yang mereka berikan kepada Rasulullah n dengan jiwa dan harta, dalam kondisi jumlah kaum muslimin yang sedikit serta orang kafir masih memiliki kekuatan dan jumlah yang besar.
Oleh karena itu, bantuan dan pertolongan ketika itu lebih dibutuhkan daripada setelah al-Fath, ketika Islam telah kuat dan kekufuran telah melemah. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah l,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100) (at-Tafsir al-Kabir, 29/190)

Keutamaan Para Sahabat
Ayat ini menunjukkan keutamaan seluruh sahabat, dan sahabat yang lebih awal masuk Islam lebih utama daripada yang masuk Islam belakangan. Namun, tidak satu pun dari mereka yang tercela, bahkan mereka seluruhnya telah mendapatkan janji jannah dari Allah l.
Rasulullah n bersabda,
لَا تَسُبُّوا أَحَدًا منْ أَصْحَابِي، فِإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Jangan kalian mencela seorang pun dari para sahabatku, karena sesungguhnya apabila salah seorang kalian berinfak emas sebesar Bukit Uhud, itu tidak akan mencapai satu mud infak mereka, tidak pula setengahnya.” (HR. Muslim no. 2541)
Hadits ini menunjukkan larangan mencela seorang pun dari kalangan sahabat g, tanpa membedakan antara sahabat yang awal masuk Islam dan yang masuk Islam setelah Fathu Makkah.
Selain itu, ayat ini menjelaskan keutamaan para sahabat yang pertama kali masuk Islam. Di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq z.
Al-Imam Malik t berkata, “Sepantasnya orang yang memiliki tekad dan keutamaan itu didahulukan.”
Al-Kalbi t menerangkan bahwa ayat ini turun tertuju pada diri Abu Bakr. Ayat ini adalah dalil yang jelas tentang diutamakan dan didahulukannya Abu Bakr z karena beliau adalah orang pertama yang masuk Islam.
Ibnu Mas’ud z berkata, “Orang pertama yang menampakkan Islam dengan pedangnya adalah Rasulullah n dan Abu Bakr z. Beliau (Abu Bakr) adalah orang pertama yang memberi infak kepada Rasulullah n.”
Ali bin Abi Thalib z berkata, “Nabi n telah mendahului, lalu Abu Bakr memimpin shalat, dan Umar pemimpin yang ketiga. Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang lebih mengutamakan aku daripada Abu Bakr melainkan akan aku cambuk dengan hukuman (yang ditimpakan kepada) seseorang yang memfitnah, yaitu delapan puluh kali cambukan dan ditolak persaksiannya.” (Tafsir al-Qurthubi)
Ar-Razi t berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang pertama kali berinfak di jalan Allah l dan berperang melawan musuh-musuh Allah l sebelum al-Fath lebih mulia daripada yang melakukan kedua amalan ini setelah al-Fath. Telah dimaklumi bahwa ahli infak adalah Abu Bakr z dan ahli perang adalah Ali z. Allah l lebih mendahulukan penyebutan ahli infak daripada ahli perang. Di sini ada isyarat tentang didahulukannya Abu Bakr z(daripada Ali) karena infak adalah bentuk kasih sayang. Berbeda halnya dengan perang yang merupakan bagian dari kemarahan. Selain itu, Allah l berfirman (dalam hadits qudsi),
إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah z)
Oleh karena itu, ahli infak lebih didahulukan.
Jika ada yang berkata, ahli infak adalah Ali z berdasarkan firman Allah l,
“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (al-Insan: 8)
kami katakan, penyebutan secara mutlak sebagai ahli infak tidak teranggap melainkan jika dia menginfakkan harta yang banyak pada berbagai peristiwa besar. Disebutkan pula oleh al-Wahidi bahwa Abu Bakr z adalah orang yang pertama berperang atas nama Islam. Adapun Ali z pada awal Islam masih berstatus anak kecil dan belum menjadi ahli perang. Abu Bakr z beliau adalah seorang syaikh yang terkemuka dan senantiasa membela Islam hingga sempat terluka yang hampir mengantarnya kepada kematian.” (at-Tafsir al-Kabir, ar-Razi, 29/190)

Mu’awiyah bin Abi Sufyan Termasuk Sahabat yang Mulia
Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah tentang kapan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z masuk Islam.
Ada ulama yang menyebutkan bahwa beliau termasuk sahabat yang masuk Islam di masa penaklukan kota Makkah. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsir, Ibnu Abdil Barr, an-Nawawi, Ibnul Qayyim, dan yang lainnya.
Ibnul Qayyim t berkata, “Tidak ada perselisihan bahwa Abu Sufyan dan Mu’awiyah masuk Islam pada Fathu Makkah di tahun kedelapan hijriah.” (al-Bidayah wan-Nihayah 12/102, al-Isti’ab, Ibnu Abdil Barr, 2346, Syarah Muslim, an-Nawawi, 8/231, Zadul Ma’ad 1/110)
Ulama yang lain menyebutkan bahwa beliau telah masuk Islam beberapa saat sebelum Fathu Makkah. Ada yang menyebutkan pada tahun al-Ghadhiyyah (tahun ketujuh hijriah) saat beliau berusia 18 tahun. Di antara yang berpendapat seperti itu adalah Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Ma’rifatus Shahabah (5/2496) dan Abul Qasim Ali bin Hasan dalam Tarikh Madinati Dimasyq (59/60).
Perbedaan tersebut disebabkan Mu’awiyah z telah masuk Islam sebelum Fathu Makkah, namun menyembunyikan Islamnya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya (1/131).
Inilah yang dipastikan oleh adz-Dzahabi. Ia berkata, “Beliau masuk Islam sebelum ayahnya pada masa umrah qadha, yaitu tahun ketujuh. Ia masih takut kepada ayahnya untuk keluar mendatangi Rasulullah n.” Ia juga mengatakan, “Beliau menampakkan Islamnya pada Fathu Makkah.” (Tarikh al-Islam, 4/308)
Diriwayatkan bahwa Mu’awiyah berkata, “Sungguh, aku telah masuk Islam di masa umrah qadha, namun aku takut untuk keluar. Ibuku berkata kepadaku, ‘Jika engkau keluar, kami akan memutus pemberian nafkah kepadamu’.” (Tahdzibul Kamal, al-Mizzi, 28/177)
Yang jelas, baik beliau masuk Islam saat Fathu Makkah maupun sebelumnya, beliau tetap termasuk dalam keumuman ayat Allah l yang menjanjikan al-husna, yaitu surga, untuk para sahabat.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan z pernah didoakan oleh Nabi n,
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ
“Ya Allah, jadikanlah ia (Mu’awiyah) sebagai pembimbing dan terbimbing, serta berilah hidayah (kepada manusia) melalui perantaraannya.” (HR.at-Tirmidzi dari Abdurrahman bin Abi Umairah z. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, 4/1969).
Rasulullah n juga pernah mendoakan beliau,
اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ
“Ya Allah, ajarkanlah Mu’awiyah al-kitab dan perhitungan, serta peliharalah dia dari siksaan.” (HR. Ahmad [4/127] dari al-Irbadh bin Sariyah z. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3227)
Tatkala menjelaskan firman Allah l,
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu’.” (at-Tahrim: 8)
Al-Ajurri t berkata, “Allah l telah memberi jaminan kepadanya bahwa Dia tidak akan menghinakannya karena beliau termasuk orang yang beriman kepada Rasulullah n.” (asy-Syari’ah, al-Ajurri, 5/2432)

 

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly