Melampaui Batas Ketika Mentahdzir

Ketika mentahdzir, seseorang harus bersikap adil dan meletakkan tahdzir tersebut sesuai dengan porsi dan keadaannya. Dia tidak boleh menganggap remeh tahdzir sehingga tidak mau mentahdzir dengan alasan akan menyebabkan perpecahan umat. Akhirnya, dia berdiam diri dari berbagai penyimpangan dan kesesatan yang terjadi. Akibatnya, penyimpangan dan kesesatan itu menjadi sesuatu yang dilestarikan tanpa ada yang mengingkarinya. Ini merupakan bentuk menyembunyikan ilmu yang diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di sisi lain, tahdzir tidak boleh berlebihan hingga menyebabkan ditahdzirnya orang yang tidak pantas untuk ditahdzir. Dalam hal ini, ada dua hal yang perlu ditinjau.

  1. Ditinjau dari kesalahan yang terjadi. Kesalahan tersebut tetap harus diluruskan. Jika kesalahan itu telah menyebar, umat harus diperingatkan dari kesalahan dan penyimpangan itu.
  2. Ditinjau dari pelaku kesalahan. Jika dia adalah seorang mujtahid yang berusaha untuk berjalan di atas kebenaran, seorang Ahlus Sunnah yang berjalan di atas kaidah secara umum lantas terjatuh dalam kesalahan ijtihad kesalahan yang dia lakukan tetap harus diluruskan, tanpa mentahdzir kaum muslimin dari mujtahid tersebut yang berjalan di atas prinsip Ahlus Sunnah secara umum.

Yang terpenting untuk dijadikan sebagai tolok ukur dalam menyikapi seorang yang melakukan penyimpangan adalah merujuk kepada bimbingan para ulama besar yang memiliki keahlian dalam urusan al-jarh wat-ta’dil tersebut.

Oleh karena itu, para ulama mengingkari sikap kaum Haddadiyah yang mentahdzir kaum muslimin dari kitab para ulama yang telah memberi jasa besar kepada kaum muslimin dengan ilmu yang telah mereka tuangkan dalam kitab yang mereka tulis, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dan al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah.

Al-Allamah Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah mengatakan, “Sesungguhnya al-Hafizh Ibnu Hajar mempelajari manhaj salafi dan memahaminya. Dia tidak mampu menolaknya. Tidaklah diragukan bahwa dia bertanggung jawab atas beberapa perkara dan keyakinan Asy’ariyah yang beliau tulis dalam kitabnya, Fathul Bari. Allah ‘azza wa jalla yang akan menanganinya.

Akan tetapi, dia adalah orang yang tsiqah. Dia telah memberi pelayanan kepada sunnah. Para penuntut ilmu sunnah sangat membutuhkan kitabnya yang begitu banyak. Kitab-kitab yang seluruhnya merupakan pelayanan terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hanya ada beberapa kesalahan yang disebutkan di sebagian tempat di dalam Fathul Bari yang telah dikritik oleh salafiyun. Di antara mereka yang mengkritiknya ialah asy-Syaikh Ibnu Baz, asy-Syaikh al-Abbad, dan asy- Syaikh as-Sa’di. Mereka telah memberi peringatan dan menjelaskan kesalahan tersebut.

Kita juga mempelajari kitab Fathul Majid dan lainnya yang juga membantah an-Nawawi dan menjelaskan beberapa penakwilan. Kita katakan, dia Asy’ari. An- Nawawi memiliki pemikiran Asy’ariyah.

Akan tetapi, beliau telah memberi pelayanannya kepada Shahih Muslim, berkhidmat kepada sunnah dan ilmu hadits, dan menulis beberapa karya yang sangat dibutuhkan oleh Ahlus Sunnah.

Mereka adalah orang yang tepercaya menurut kami. Hal ini sebagaimana para pendahulu kita mengambil ilmu dari sebagian orang yang terjatuh ke dalam bid’ah, seperti Qatadah dan Sa’id bin Abi Arubah yang terjatuh ke dalam pemikiran Qadariyah. Adapula yang lainnya terjatuh ke dalam bid’ah Qadariyah atau bid’ah Murji’ah, namun para ulama mengambil ilmu darinya. Sebab, mereka membawa ilmu dan mereka adalah orang yang dipercaya, jujur, dan adil.

Ilmu diambil dari mereka. Kita katakan, “Sesungguhnya mereka ini adalah orang tepercaya.” Mereka menukilkan ilmu salaf kepada kita. Kita mengambil faedah dari kitab-kitabnya.

Jika ditanya tentang kesalahan mereka, kita katakan, “Ya, pemikiran Asy’ariyah ada dalam kitab Fathul Bari dan Syarah Shahih Muslim.” Adapun kitab Ibnu Hajar yang lain bagaikan perpustakaan. Dalam hal ilmu tentang para perawi, beliau menulis beberapa kitab. Dalam ilmu sunnah, beliau menulis beberapa kitab: al-Mathalib al-Aliyah, Ithaful Maharah, Fathul Bari, Muqaddimah Fathul Bari, Tahdzib Tahdzibil Kamal, Lisanul Mizan, dan banyak lagi yang lainnya.

Semua umurnya dihabiskan untuk melayani sunnah, namun ia terjatuh dalam beberapa hal. Kita tetap memperingatkan beberapa kesalahan Ibnu Hajar. Adapun urusan yang dirinya berkhidmat kepada sunnah dan sangat kita butuhkan, kita ambil faedah darinya.

Kita tidak mengatakan, “Siapa yang tidak mentabdi’ Ibnu Hajar, berarti dia ahli bid’ah.” Kita tidak katakan, “Barang siapa mendoakan rahmat kepada Ibnu Hajar, maka dia ahli bid’ah,” seperti yang dilakukan oleh para penyusup bodoh (ke dalam dakwah salafiyah, -pen.) para ahli bid’ah yang disusupkan oleh musuh Islam.

Mereka menyusupkannya ke dalam barisan kita untuk membuat kekacauan, keguncangan, dan fitnah. Mereka lebih jahat daripada ahli bid’ah, wal iyadzu billah. Mereka telah melakukan sekian perbuatan di tengah salafiyin. Setiap kali salafiyun terbebas dari orang model seperti ini, mereka mendatangkan model baru yang memakai pakaian salafi dan memerangi manhaj salaf dengan kedok salafi. Kami peringatkan dari orang semacam ini.

Demi Allah, kami telah mengetahui kedustaan mereka dan tuduhan mereka terhadap salafiyin yang terbebas dari tuduhan tersebut. Pada akhirnya, tujuan orang seperti ini bukanlah (menjatuhkan) Ibnu Hajar dan an-Nawawi. Tujuan mereka adalah membuat kerusakan dan menyebarkan kekacauan di tengah-tengah salafiyin.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar membebaskan manusia dari kejahatan mereka.”

(. net/ar/questions.php?cat=37&id=585)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat,22 Januari 2016/11 Rabiul Akhir 1437H

Print Friendly