Memahami Hakikat Hukum Makanan dan Minuman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari)

Definisi al-Ath’imah
Secara bahasa, ath’imah adalah bentuk jamak dari tha’am. Disebutkan dalam al-Qamus, ath-tha’am adalah gandum dan apa saja yang dimakan.
Sekelompok ahli bahasa mengatakan bahwa tha’am adalah istilah untuk segala sesuatu yang bisa dikonsumsi, dan seringnya yang dimaksud adalah sesuatu yang dimakan, meskipun terkadang dimaksudkan pula sesuatu yang diminum seperti air. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, maka ia bukanlah pengikutku, dan barang siapa tiada meminumnya kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” (al-Baqarah: 249)
Di sini Allah l menyebut minuman sebagai tha’am.
Demikian pula Nabi n bersabda tentang air Zamzam,
إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ
“Sesungguhnya ia adalah air yang diberkahi dan berkedudukan sebagai tha’am.” (HR. Muslim no. 2473 dari Abu Dzar z)
(Kitab al-Ath’imah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, hlm. 25, asy-Syarhul Mumti’, 15/5)

Metode Jahiliah dan Metode Islam dalam Hal Makan dan Minum
Di zaman jahiliah, penetapan halal dan haramnya sesuatu bersumber dari hawa nafsu mereka serta apa yang dibisikkan oleh setan-setan dari kalangan jin dan manusia. Dengan demikian, mereka membolehkan untuk mengonsumsi sekian banyak hal yang diharamkan dalam manhaj Islam, seperti darah, bangkai, dan berbagai jenis serangga. Sebaliknya, mereka mengharamkan sekian banyak hal yang baik, seperti tatkala menjadikan sebagian hasil tanaman dan hewan ternak mereka untuk berhala-berhala dan mengharamkannya bagi diri mereka. (lihat ucapan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan dalam kitab al-Ath’imah, hlm. 26)
Bahkan, kaum jahiliah dari kalangan orang-orang kafir sekarang ini telah melebihi kebiasaan kaum jahiliah terdahulu. Di antara mereka ada yang menghalalkan dan menganggap baik untuk mengonsumsi janin manusia hasil aborsi yang lantas dijadikan sebagai menu makanan di sebagian restoran orang-orang kafir. Wal ‘iyadzu billah.
Adapun Islam adalah metode yang sempurna yang penuh kebijaksanaan. Sebab, dalam hal menetapkan halal dan haramnya makanan dan minuman, kembali kepada kaidah umum yang bertujuan untuk mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudaratan.
Maka dari itu, setiap yang suci dan tidak mengandung kemudaratan, baik dari jenis biji-bijian, buah-buahan, maupun hewan adalah halal. Adapun setiap najis, seperti bangkai, darah, atau sesuatu yang beracun, dan yang menimbulkan kemudaratan maka hal tersebut hukumnya haram. Allah l berfirman,
Mereka bertanya kepadamu, “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Dihalalkan bagimu yang baik-baik….” (al-Maidah: 4)
Demikian pula firman-Nya ketika menyebutkan sifat Nabi n dan syariatnya,
“(Nabi) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (al-A’raf: 157)
Al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’di t menjelaskan ayat ini, “Ini mencakup segala jenis makanan dan minuman. Setiap yang bukan khabits (buruk) berarti itu baik dan halal.” (Nailul Ma’arib, 4/375)

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,28 April 2012/6 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly