Membalas

Ada saat Anda merasa diperlakukan tidak menyenangkan oleh pasangan, disakiti olehnya, dianiaya dan dizhalimi, kata-katanya nylekit, panas di telinga atau tindakannya membuat Anda mengelus dada. Manusiawi bila seseorang merasa disakiti cenderung ingin membalas, saat itu juga atau menunggu kesempatan yang pas. Biasanya semut akan menggigit saat diinjak.

Membalas tindakan buruk, dalam arti melakukan keburukan sebagaimana yang pasangan lakukan, dengan kata lain, kita menjadikan tindakan buruk pasangan sebagai alasan untuk melakukan yang sama atau yang semisal, dia saja bisa, mengapa aku tidak? Begitu kadang-kadang sebagian orang beralasan, tentu ini bukan sesuatu yang baik. Kelalaian pasangan dalam menunaikan kewajibannya terhadap kita, bukan alasan bagi kita untuk membalasnya dengan hal yang sama. Lebih parah, bila kesalahan tersebut merupakan pelanggaran terhadap ajaran agama. Dia begitu aku pun begitu. Jangan.

Karena ada yang lebih baik, yaitu,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ [فصلت : 34]

Tolaklah tindakan buruk itu dengan cara yang lebih baik.” Fushshilat: 34. Hadits berkata, “Laisa al-washil bil mukafi`.” Penyambung silaturrahim itu bukan yang sepadan. Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Maksudnya hanya mau menyambung bila disambung.

Tidak berbeda, bila Anda hanya mau berbuat baik bila pasangan berbuat baik, menghargai bila pasangan menghargai, menunaikan hak-haknya bila pasangan menunaikan hak-hak Anda, memperlakukannya dengan mulia bila pasangan memperlakukan Anda dengan mulia, memberinya senyuman dan sentuhan bila pasangan memberikannya, berkata-kata baik dan lembut bila pasangan berkata-kata lembut, Anda hanya seorang pedagang yang baru akan melepas barang saat ada yang membayarnya. Saya yakin tidak enak. Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Senin, 9 Desember 2013/5 Safar 1435H

Print Friendly