Memujudkan Rumah Tangga Bahagia (bagian 1)

(ditulis oleh: al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Pembicaraan tentang pernikahan sudah sering berulang. Bahkan, majalah yang semoga diberkahi ini pernah memuat kajian utama yang menyorot tentang pernikahan Islami. Namun, apabila kita membaca tulisan-tulisan ilmiah dari orang yang berilmu—baik dari ulama maupun penuntut ilmu syar’i—tentang masalah ini, sepertinya ada saja sisi yang menarik untuk disampaikan kepada Pembaca dan perlu diingatkan kepada insan yang akan atau telah melangsungkan pernikahan. Untuk yang akan menikah, maka semoga bisa menjadi bahan renungan sebelum melangkah. Adapun bagi yang sudah menikah, diharap bisa menjadi bahan introspeksi untuk mempertahankan apa yang telah dijalani dan dapat membawa bahtera ke ‘pulau bahagia’ yang diimpikan.
Tulisan di bawah ini pun idenya berawal dari hasil membaca artikel yang cukup panjang tentang rumah tangga dan pernikahan karya asy-Syaikh Salim al-‘Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al-Ukht as-Salafiyyah, sebuah situs internet yang khusus ditujukan untuk para muslimah. Muncul rasa ingin berbagi kepada pembaca muslimah….
Dengan menengadahkan kedua tangan memohon kepada Rabbul Alamin agar dianugerahi keikhlasan dalam berbuat, kami pun menyusun nukilan-nukilan dari tulisan tersebut ditambah narasumber yang lain. Semoga bisa memberi manfaat untuk sesama.
Ketahuilah wahai muslimah!
Berdirinya sebuah rumah yang dipenuhi kebahagiaan adalah tujuan yang ingin dicapai dan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh setiap orang. Rumah adalah tempat berdiam yang selalu dituju setelah diterpa kelelahan dan kepenatan di luar sana. Apabila seseorang pulang ke rumahnya, lalu didapatinya rumah yang tenang dan dirasakannya ketenteraman di dalamnya, berarti kebahagiaan ada bersamanya. Betapa banyak rumah yang kecil dan sempit, namun kebahagiaan menjadikannya luas lagi lapang.
Sebaliknya, betapa banyak kediaman yang besar dan luas, namun kegersangan menjadikannya lebih sempit daripada lubang jarum. Tidak ada keinginan penghuninya selain meninggalkan rumah tersebut. Tidak ada kebetahan berdiam di dalamnya. Mereka berusaha mengobati rasa sempit mereka dengan lari dari sebab-sebabnya. Ternyata, rumah mereka telah ‘roboh’ diempas oleh badai kesengsaraan.
Untuk mewujudkan sebuah ‘rumah bahagia’, sudah merupakan keniscayaan seorang lelaki menggandeng tangan seorang wanita untuk hidup bersamanya di rumah tersebut dalam ikatan yang suci. Kebersamaan ini merupakan tujuan agung, yang dengannya terwujud kasih sayang, kedekatan, dan persahabatan.
Kebersamaan dalam nikah termasuk kenikmatan terbesar yang diberikan oleh Allah l kepada para hamba. Dengannya, dihasilkanlah ketenangan yang dapat memenuhi hati sepasang insan.
Sungguh, tidak ada kebersamaan insan yang menyamai pernikahan. Karena itulah, Allah l berfirman mengingatkan nikmatnya tersebut, sementara Dia adalah Dzat yang paling benar ucapan-Nya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya; Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari diri-diri kalian, agar kalian merasakan ketenangan kepadanya dan Dia jadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berpikir.” (ar-Rum: 21)
Perhatikanlah. Di dalam ayat di atas Allah l menyebutkan dengan lafadz ﮑ ﮒ yang berarti “agar kalian merasakan ketenangan kepadanya”, tidak dengan lafadz لِتَسْكُنُوا مَعَهَا (sakan ma’a) karena sakan ma’a (bersama) sesuatu bisa disertai kecintaan kepadanya dan bisa pula tidak. Adapun sakan ila (kepada) sesuatu mengandung makna yang lebih besar daripada kedekatan, cinta, kecondongan, dan ketenangan.
Sepanjang apa pun pencarian seseorang dalam hidupnya guna beroleh teman yang dapat membuatnya tenang dan tenteram jiwanya saat berdekatan, dia tidak akan mendapatkan teman yang semisal seorang istri. Sebaliknya, seorang wanita pun tidak akan beroleh teman semisal suami. Inilah fitrah insan yang kita tidak bisa lari dan lepas darinya.
Allah l berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu (Adam) dan dari jiwa yang satu itu Dia jadikan pasangannya (Hawa) agar si jiwa yang satu merasa tenang dengan keberadaan pasangannya.” (al-A’raf: 189)
Seandainya Allah l menjadikan anak Adam itu seluruhnya laki-laki dan dijadikan-Nya perempuan mereka dari jenis yang lain, bukan jenis manusia, mungkin dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak mungkin terjalin kedekatan di antara mereka. Yang terjadi justru yang satu akan lari menjauh dari yang lain.
Di samping menjadikan pasangan manusia adalah manusia juga, pria berpasangan dengan wanita sebagai istrinya, Allah l juga menyempurnakan nikmat-Nya kepada anak Adam dengan ditumbuhkan-Nya rasa cinta dan kasih sayang di antara suami istri tersebut. Seorang lelaki tetap menahan seorang wanita dalam ikatan pernikahan dengannya, bisa jadi karena dia mencintai istrinya tersebut, atau dia menyayanginya dengan adanya anak yang terlahir dari si istri, atau karena istrinya butuh kepadanya untuk beroleh infak/belanja, atau adanya kedekatan di antara keduanya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/171)
Siapa yang merenungkan hal ini niscaya dia akan berusaha dengan serius mencari belahan dirinya yang hilang. Barangkali, belahan jiwanya bisa didapatkan pada seseorang yang menenteramkan pandangan matanya, menenangkan jiwanya, dan membahagiakan dirinya. Sesuatu yang sekian lama dirasakannya sebagai ruang yang belum terisi dalam hatinya. Tatkala pada akhirnya dia mengakhiri kesendiriannya dengan menikah, tertutuplah kekosongan ruang tersebut. Kini, telah ada yang mengisi kebahagiaan hatinya.
Saat seorang lelaki yang saleh mencari tambatan hatinya, tentu tidak pernah lupa menghadirkan sabda Rasulullah n yang mulia:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتاَعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu perhiasan1 dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 3638 dari Abdullah ibnu Amr ibnul Ash c)
Kata Rasul n, dunia berikut isinya tidak lain hanyalah kesenangan dan perhiasan. Sebaik-baik kesenangan yang bisa dinikmati oleh seorang hamba di dunia ini adalah wanita salehah, yang akan menjadi perhiasan bagi rumahnya. Apabila dia memandangnya, dia merasa senang. Apabila dia pergi, si wanita akan menjaga dirinya untuknya dan menjaga hartanya.
Karena itulah, seorang penyair Arab berkata,
أَفْضَلُ مَا نَالَ الْفَتَى بَعْدَ الْهُدَى وَالْعَافِيَةِ
قَرِيْنَةٌ مُسْلِمَةٌ عَفِيْفَةٌ مُوَاتِيَةٌ
Yang paling utama yang diperoleh seorang pemuda setelah petunjuk dan afiah/kesehatan/kelapangan
adalah teman muslimah yang menjaga kehormatan dirinya
Rasulullah n pernah bersabda tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Beliau menyatakan:
ثلَاَثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَثَلاَثٌ مِنَ الشَّقاوة. فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ تَرَاهَا تُعْجِبُكَ، وَتَغِيْبُ فَتَأْمَنَهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ، وَالدَّابَّةُ تَكُوْنُ وَطِيْنَةٌ فَتُلْحِقُكَ بِأَصْحَابِكَ، وَالدَّارُ تَكُوْنُ وَاسِعَةً كَثِيْرَةَ الْمَرَافِقِ؛ وَمِنَ الشَّقَاوَةِ: الْمَرْأَةُ تَرَاهَا فَتَسُوؤُكَ، وَتَحْمِلُ لِسَانَهَا عَلَيْكَ، وَإِنْ غِبْتَ عَنْهَا لَمْ تَأْمَنْهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ، وَالدَّابَّةُ تَكُوْنُ قُطُوْفًا، فَإِنْ ضَرَبْتَهَا أَتْعَبَتْكَ، وَإِنْ تَرَكَهَا لَمْ تُلْحِقْكَ بِأَصْحَابِكَ، وَالدَّارُ تَكُوْنُ ضَيِّقَةً قَلِيلَةَ الْمَرَافِقِ.
“Tiga perkara termasuk kebahagiaan dan tiga perkara termasuk kesengsaraan. Yang termasuk kebahagiaan adalah wanita salehah, yang apabila engkau lihat akan mengagumkanmu, apabila engkau pergi meninggalkannya engkau merasa aman dari (pengkhianatan/perselingkuhan) nya (karena dia menjaga dirinya untukmu) dan aman hartamu (karena dia menjaga hartamu). (Yang kedua) tunggangan yang jinak/tangkas (enak ditunggangi) sehingga dia menyusulkanmu dengan teman-temanmu (tidak membuatmu tertinggal dari rombongan), dan (yang ketiga) rumah yang luas lagi banyak ruangannya.
Termasuk kesengsaraan adalah istri yang apabila engkau melihatnya tidak menyenangkanmu, lisannya menyakitimu, apabila engkau pergi meninggalkannya engkau tidak merasa aman dari pengkhianatannya dan tidak aman hartamu (karena ia tidak menjaganya, bahkan berkhianat dalam hal dirinya dan harta suami). (Yang kedua) tunggangan yang lambat, tidak nyaman dinaiki. Apabila engkau memukulnya, dia akan membuatmu capek, namun apabila engkau biarkan, dia tidak bisa menyusulkanmu dengan teman-temanmu (membuatmu tertinggal dari rombongan). (Yang ketiga) rumah yang sempit lagi sedikit ruangannya.” (HR. al-Hakim 2/162, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1047)
Ali bin Abi Thalib z, sahabat Rasulullah n yang utama, sekaligus saudara misan dan menantu beliau, pernah berkata,
مِنْ سَعَادَةِ الرَّجُلِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَإِخْوَانُهُ شُرَفَاءَ، وَجِيْرَانُهُ صَالِحِيْنَ، وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ في بَلَدِهِ
“Termasuk kebahagiaan seorang lelaki apabila ia memiliki istri yang salehah, anak-anak yang berbakti, saudara-saudara yang mulia, dan tetangga yang baik, ditambah lagi rezekinya bisa diperoleh di negerinya sendiri (tidak perlu merantau untuk mencari rezeki).”
Rasulullah n bersabda kepada Umar ibnul Khaththab z:
أَلآ أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ؟ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَها أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beri tahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu istri salehah yang apabila dipandang akan menyenangkannya2, apabila diperintah3 akan menaatinya4, dan apabila ia pergi si istri akan menjaga dirinya untuk suaminya.” (HR. Abu Dawud no. 1417, dinyatakan sahih menurut syarat Muslim dalam al-Jami’ush Shahih 3/57)
Ketika Umar ibnul Khaththab z menanyakan harta terbaik yang dimiliki seorang insan, Rasulullah n menjawab:
لِيَتَّخِذَ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْأَخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri mukminah yang membantunya dalam urusan akhiratnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibni Majah)
Merupakan kemestian bagi seorang wanita, apabila datang seorang lelaki kepada walinya, hendaknya ia memerhatikan kebaikan agama dan akhlak si lelaki tersebut. Hal ini karena orang yang diterimanya sebagai teman hidupnya nanti adalah surga dan nerakanya. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasul n kepada bibi Hushain ibnu Mihshan z kala mendorongnya untuk membaikkan pergaulannya terhadap suaminya:
هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Dia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah hlm. 285)
Sungguh, termasuk kebahagiaan terbesar bagi seorang wanita apabila dianugerahi suami yang saleh, yang menjadi pelipur laranya, teman berbagi suka dan derita, yang selalu melapangkan diri untuk menolong pekerjaannya, menjadi penopang yang kuat dalam hidupnya, yang melindunginya saat dia merasa takut, yang mengisi harinya dengan kasih sayang dan kelembutan.
(insya Allah bersambung)

Catatan kaki:

1 Tempat untuk bersenang-senang. (Syarh Sunan an-Nasa’i, al-Imam as-Sindi, 6/69)

2 Karena keindahan dan kecantikannya secara lahir, atau karena akhlaknya yang bagus secara batin, atau karena si istri senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah l. (Ta’liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun Nikah, Bab “Afdhalun Nisa”, 1/596, ‘Aunul Ma’bud 5/56)
3 Untuk melakukan urusan syar’i atau urusan biasa. (‘Aunul Ma’bud 5/56)
4 Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya. (‘Aunul Ma’bud 5/56)

 

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly